... Baca selengkapnyaAyat "wa'tasimu bihablillahi jami'an wa laa tafarroqu" selalu jadi pengingat buat aku bahwa persatuan itu bukan sekadar ramai-ramai atau ikut arus. Allah perintahkan kita berpegang teguh pada habllillah, tali Allah, lalu melarang berpecah-belah. Dari yang aku pelajari, habllillah dijelaskan para ulama sebagai Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, dan inilah yang kemudian dikenal sebagai manhaj Salaf.
Waktu pertama kali benar-benar merenungkan ayat ini, aku sadar ternyata konsep persatuan dalam Islam itu punya batas dan aturan yang jelas. Bukan persatuan di atas fanatisme kelompok, suku, atau tokoh, tapi persatuan di atas kebenaran. Kadang kita tergoda untuk mengorbankan prinsip akidah dan manhaj demi terlihat kompak, padahal kalau persatuan tidak dibangun di atas habllillah, ujung-ujungnya malah memecah karena setiap orang punya standar sendiri.
Dalam praktik sehari-hari, ayat ini terasa banget relevansinya. Misalnya ketika terjadi perbedaan pendapat di tengah komunitas muslim: soal ibadah, cara dakwah, atau masalah sosial. Yang sering aku coba lakukan adalah kembali ke sumber: apakah pendapat ini punya landasan dari Al-Qur'an dan Sunnah, sesuai penjelasan ulama Ahlus Sunnah? Dengan cara itu, persatuan yang terbangun tidak hanya emosional, tapi ilmiah dan syar'i.
Di sisi lain, ayat ini membuat aku lebih hati-hati terhadap paham atau gerakan yang mengajak persatuan tapi menjauhkan dari manhaj Salaf. Kadang slogannya terdengar indah: toleransi tanpa batas, semua sama, jangan bahas akidah karena bisa bikin pecah. Padahal dalam pengalaman pribadi, justru meninggalkan pembahasan akidah dan manhaj yang benar pelan-pelan memunculkan perpecahan yang lebih besar, karena fondasinya rapuh.
Yang juga penting dari "wa'tasimu bihablillahi jami'an" adalah kata "jami'an". Artinya, perintah berpegang pada tali Allah ditujukan ke umat secara kolektif. Buat aku, ini jadi motivasi untuk tidak merasa cukup dengan memperbaiki diri sendiri; ada tanggung jawab untuk mengajak orang lain kepada manhaj yang lurus, tentu dengan cara hikmah, lemah lembut, dan bertahap. Berpegang pada manhaj Salaf bukan berarti keras atau gampang mengkafirkan, tapi fokus menjaga kemurnian ajaran.
Dalam perjalanan belajar, aku juga sering menemukan nasihat ulama bahwa perselisihan pasti ada, tapi selama kita berusaha kembali kepada habllillah dan mengikuti jejak Salaf, perbedaan itu bisa dikelola tanpa merusak ukhuwah. Di sinilah terasa sekali bahwa selain manhaj Salaf, banyak jalan yang tampak mempersatukan tapi sebenarnya mengikis prinsip. Pengalaman ini membuat aku semakin yakin dengan pentingnya terus belajar tafsir ayat ini, membaca penjelasan para ulama, dan mencoba mengaplikasikannya dalam interaksi sosial sehari-hari.
Jadi buat kamu yang lagi mencari pemahaman tentang "wa'tasimu bihablillahi jami'an", menurut aku ini bukan hanya ayat hafalan, tapi kompas hidup: bagaimana kita memaknai persatuan, memilih manhaj, serta menyikapi perbedaan supaya tetap dalam koridor yang diridhai Allah.