... Baca selengkapnyaBeberapa tahun terakhir, aku lumayan sering ketemu masa yang rasanya berat banget. Awalnya, aku selalu melawan keadaan: marah, denial, sibuk nyari kambing hitam. Tapi makin dilawan, hati malah makin capek. Titik baliknya justru datang waktu aku lihat gambar siluet seseorang mengangkat tangan tanda damai di depan matahari terbenam, dengan kutipan tentang berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan. Entah kenapa, kalimat itu nyentuh banget.
Buat aku, belajar berdamai dengan keadaan itu proses pelan-pelan. Pertama, aku berhenti memaksa semuanya harus sesuai rencana. Aku mulai nanya ke diri sendiri: "Kalau memang sekarang begini, apa yang masih bisa aku lakukan?" Bukan lagi: "Kenapa harus aku?" Dari situ, pelan-pelan tumbuh rasa ikhlas. Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi menerima bahwa ada hal yang di luar kontrol kita.
Menjaga kewarasan di tengah keadaan yang nggak ideal juga tantangan tersendiri. Aku mulai bikin rutinitas kecil yang bikin hati lebih tenang: journaling 5–10 menit sebelum tidur, nulis hal-hal yang bisa disyukuri hari itu, walaupun cuma hal kecil seperti bisa lihat matahari terbenam atau punya teman yang mau dengerin curhat. Latihan bersyukur ini bikin sudut pandangku berubah; fokusku bergeser dari apa yang hilang ke apa yang masih ada.
Berdamai dengan diri sendiri ternyata lebih susah daripada berdamai dengan keadaan. Aku sering banget nyalahin diri sendiri: merasa kurang, nggak cukup, harusnya bisa lebih baik. Di titik ini, aku belajar ngomong ke diri sendiri dengan lebih lembut. Kalau gagal, aku coba bilang: "Oke, kamu sudah berusaha. Yuk belajar dari ini, bukan menghukum diri." Kedengarannya sepele, tapi cara kita ngobrol dengan diri sendiri itu ngaruh banget ke kesehatan mental.
Cara praktis yang cukup membantu aku:
1. Terima perasaan yang datang tanpa dihakimi. Sedih ya sedih, marah ya marah. Diakui dulu, baru pelan-pelan dilepas.
2. Bikin batasan dengan hal-hal atau orang yang bikin mental makin capek. Menjaga kewarasan itu penting, bahkan kalau kadang harus mengambil jarak.
3. Cari satu atau dua orang yang bisa dipercaya untuk cerita apa adanya. Kadang, didengar aja sudah bikin hati sedikit lega.
4. Sisihkan waktu untuk diri sendiri: jalan sore, baca buku, atau sekadar duduk menikmati matahari terbenam sambil refleksi.
Berdamai dengan keadaan dan berdamai dengan diri sendiri adalah perjalanan yang nggak instan. Ada hari di mana kita kuat, ada juga hari di mana kita jatuh lagi. Dan itu wajar. Selama kita terus belajar menerima, tetap berusaha, dan nggak kehilangan rasa bersyukur, pelan-pelan hati akan lebih damai. Kalau kamu lagi di fase berjuang menerima keadaan, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan aja, nggak apa-apa. Yang penting, tetap tegar dan jangan lupa sayang sama diri sendiri.