... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali mau ngajarin anak belajar menulis, aku juga termasuk yang nggak sabaran. Rasanya pengin buruโburu kasih buku tulis dan suruh nulis huruf. Tapi makin banyak baca dan coba, aku baru paham kalau ada tahapan belajar menulis yang penting banget, terutama di usia PAUD.
Biasanya aku mulai dari tahap scribbling dulu. Anak aku bebas coretโcoret di buku atau kertas besar pakai crayon. Di sini tujuannya bukan biar rapi, tapi biar tangan dan pergelangan mereka kuat dulu. Coretan acak ini ternyata dasar dari gerakan menulis, meski kelihatannya cuma "ngacak".
Setelah itu pelanโpelan aku arahkan ke coretan yang lebih terkontrol. Misalnya aku gambar lingkaran biru besar, lalu anak diminta mencoret di dalam lingkaran saja. Ini mirip latihan "scribbling" dan "controlled" yang ada di buku latihan: anak belajar mengontrol gerakan tangan supaya nggak keluar garis.
Tahap berikutnya aku suka pakai aktivitas dot to dot. Jadi aku bikin titikโtitik biru sederhana: garis vertikal, horizontal, dan diagonal. Anak diminta menghubungkan titikโtitik itu. Kegiatannya simpel, tapi di sini mereka belajar mengikuti arah garis, yang nanti kepakai saat menulis huruf seperti L, T, A, atau N.
Kalau sudah mulai lancar, aku naik ke latihan random dot. Titikโtitiknya aku sebarkan acak di kertas, lalu anak menghubungkannya pakai garis zigzag warna hijau atau warna lain. Ini bikin mereka lebih fleksibel menggerakkan tangan sambil tetap fokus menghubungkan titik.
Aku juga sering ajak anak latihan making lines. Di sini aku buat berbagai jenis garis: lurus, miring, horizontal, kadang garis putusโputus untuk ditelusuri. Anak menebalkan garis yang sudah ada, lalu kalau sudah siap, mereka coba bikin sendiri tanpa bantuan pola.
Supaya nggak bosan, aku tambahkan latihan patterns. Misalnya pola gelombang, zigzag, lengkung, atau kotak yang berulang. Ada yang padat, ada yang putusโputus. Pola sederhana tapi berulang ini membantu anak membangun ritme tangan dan koordinasi mataโtangan sebelum masuk ke bentuk huruf yang lebih rumit.
Terakhir, aku fokus ke latihan curve. Di tahap ini, bentuk kurva seperti C, U, O, dan S aku buat dalam garis padat dan putusโputus untuk ditelusuri. Ini penting karena banyak huruf dan angka yang pakai kurva, seperti c, o, s, u, 2, 3, 6, dan 9. Dengan latihan curve yang rutin, anak jadi lebih siap saat diajak menulis huruf.
Dari pengalaman ini, aku belajar kalau tahapan belajar menulis itu panjang dan bertahap. Bukan cuma langsung tulis nama atau huruf AโZ. Jadi kalau anak belum bisa memegang pensil dengan benar atau hasilnya masih berantakan, itu wajar. Yang penting, kita sediakan kegiatan pramenulis yang fun dan konsisten, seperti scribbling, dot to dot, random dot, making lines, patterns, dan curve tadi.
Kalau kamu lagi bingung mulai dari mana, coba susun kegiatan harian dengan urutan tahapan ini. Nggak perlu lamaโlama, 10โ15 menit sehari sudah cukup. Yang utama, anak senang dan tidak merasa tertekan waktu belajar menulis.