Sargin di Turki..udh sampai

5/18 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAku juga awalnya sama kayak kalian, tiap lihat Sargin live dari Turki tuh pasti kepikiran: “Sebenernya pekerjaan Sargin di Turki apa sih?” Soalnya di live kelihatan dia sering bilang lagi masak, lagi santai, atau baru pulang, dan beda waktunya sama Indonesia cukup jauh. Dari situ aku mulai merangkumin kemungkinan kerjaan dia berdasarkan obrolan di live dan pengalaman temen-temen TKI yang kerja di Turki. Banyak orang Indonesia yang kerja di Turki itu masuknya ke beberapa jenis pekerjaan: kerja rumah tangga (caregiver/ART), kerja di restoran atau kafe, kerja di toko, atau bantu-bantu bisnis keluarga/partner. Dari cara Sargin cerita soal masak terus, suasana rumah yang adem di Turki, dan kadang live di jam yang “nanggung”, menurutku besar kemungkinan dia kerja yang ada hubungannya sama rumah atau bisnis keluarga. Bisa jadi bantu usaha keluarga, bisa juga kerja tapi jamnya fleksibel sehingga masih sempat sering live. Soal gaji, standar gaji di Turki itu beda-beda tergantung kota dan jenis kerja. Di kota besar kayak Istanbul atau Ankara, gaji minimum sekitar beberapa ribu lira per bulan. Kalau dikonversi ke rupiah, kadang kelihatannya besar, tapi biaya hidup di sana juga lumayan, apalagi kalau sewa apartemen sendiri. Makanya nggak heran kalau banyak yang tetap nyambi jadi kreator live atau TikToker kayak Sargin buat nambah pemasukan. Dari komentar yang bilang “masak terus sargin.. kami suka”, kelihatan kalau konten dia sehari-hari juga jadi daya tarik dan kemungkinan besar itu juga bagian dari kerjaan dia sebagai kreator. Tantangan kerja di Turki itu bukan cuma bahasa, tapi juga adaptasi budaya dan cuaca. Di OCR tadi kebaca ada yang bilang “ad3mnya di turky” dan “diturky adem, pantes pas di bali bilang hot terus”. Artinya, dia beneran merasakan perbedaan cuaca. Keliatannya sepele, tapi buat yang kerja di luar negeri, hal-hal kayak gini cukup ngaruh ke mood dan produktivitas. Adaptasi bahasa Turki juga nggak gampang. Di layar sering muncul kata-kata Turki kayak “Hayran Kulübüme katilin” (gabung ke fan club-ku), dan jelas dia udah lumayan nyatu sama lingkungan di sana. Yang aku suka, walaupun lagi di Turki, vibe-nya masih sangat Indonesia. Di komentar live rame banget orang Indonesia yang ngingetin sholat, bercanda soal beda waktu, dan bilang “albamdulillah nurut di suruh solat”, “sholat lima waktu Masya Allah”. Itu nunjukin kalau di tengah kesibukan kerja dan live, Sargin masih berusaha jaga ibadah dan hubungan sama followers. Buat banyak orang, ini juga jadi bagian dari “pekerjaan” dia: bukan cuma cari uang, tapi juga bangun komunitas. Kalau kamu kepo pengin punya perjalanan kayak Sargin, menurutku yang penting itu siap capek di awal: belajar bahasa, cari info visa kerja yang legal, dan jangan cuma lihat enaknya dari live. Di balik “Sargin strong” dan “sargin number one”, pasti ada fase dia kangen rumah, adaptasi, dan mungkin pernah salah langkah juga. Tapi ngelihat support yang dia dapat dari fans Indonesia dan Turki, kelihatan kalau kerja keras dia di Turki – baik sebagai pekerja maupun kreator – pelan-pelan kebayar. Intinya, pekerjaan Sargin di Turki kemungkinan kombinasi antara kerja offline (entah bantu bisnis, kerja rumahan, atau kerja lain yang jamnya fleksibel) dan kerja online sebagai kreator live. Dua-duanya nggak instan, tapi bisa banget diikuti kalau kamu siap belajar dan konsisten, bukan cuma ngincer viral sesaat.

Cari ·
pintu belanda