inilah diriku... 🥰
Kalimat di gambar itu benar-benar mewakili diriku: "Aku tidak pernah menggunakan topeng hanya untuk dekat dengan semua orang". Dulu, aku sempat mikir, apa aku harus pura-pura biar gampang diterima? Apalagi waktu sekolah dan awal kerja, banyak banget momen di mana aku harus milih antara kejujuran dan keuntungan pribadi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan itu waktu kerja kelompok. Ada teman yang minta aku diam saja soal tugas yang sebenarnya dia nggak kerjain, supaya nilai kelompok kami tetap tinggi. Kalau aku jujur ke guru, kemungkinan dia nggak suka sama aku dan hubungan kami jadi nggak enak. Tapi kalau aku tutup mata, rasanya nggak tenang karena aku ikut membiarkan ketidakjujuran. Akhirnya aku pilih jujur, tapi dengan cara yang halus. Aku cerita ke guru apa adanya, tanpa menyalahkan siapa-siapa, lebih ke menjelaskan siapa saja yang aktif dan mana yang belum maksimal. Awalnya memang sempat canggung, tapi dari situ aku belajar kalau kejujuran kadang bikin kita nggak disukai sebagian orang, tapi justru membuka jalan buat ketemu orang-orang yang lebih tulus. Buat aku, "inilah diriku" artinya berani menunjukkan karakter asli, termasuk soal kejujuran. Contoh sederhana perilaku jujur yang aku coba terapkan sehari-hari misalnya: 1. Jujur tentang perasaan. Kalau aku nggak suka diperlakukan dengan cara tertentu, aku usahakan ngomong baik-baik, bukan dipendam lalu ngomel di belakang. Memang nggak gampang, tapi lebih lega. 2. Jujur dalam hal kecil, seperti uang dan waktu. Misalnya, kalau dikasih uang lebih saat belanja, aku balikin. Atau kalau datang terlambat, aku bilang apa adanya, bukan cari-cari alasan. Aku juga pernah ada di posisi di mana jujur justru bikin aku rugi secara materi. Contohnya, aku ngaku ke atasan kalau ada kesalahan yang sebenarnya bisa saja aku tutupi. Waktu itu aku kena teguran, tapi beberapa waktu kemudian justru dipercaya pegang tanggung jawab lebih besar karena dianggap bisa dipercaya. Dari semua pengalaman itu, aku belajar kalau kejujuran itu bukan soal kelihatan baik di mata orang, tapi lebih ke damai sama diri sendiri. Nggak perlu pakai topeng hanya supaya semua orang senang. Ada yang suka syukur, ada yang nggak suka ya nggak apa-apa. Justru dari situ kelihatan mana orang yang benar-benar terima kita apa adanya. Jadi kalau kamu lagi dalam posisi harus memilih antara kejujuran dan keuntungan pribadi, coba tanya ke diri sendiri: beberapa tahun lagi, pilihan mana yang bikin kamu bangga sama dirimu sendiri? Buatku, walaupun jalan jujur kadang lebih berat, tapi rasanya jauh lebih ringan di hati.