Ulangan 6:5
Hari Jumaat yang lalu, saya mendapat tugasan untuk membawa renungan firman Tuhan dalam pertemuan doa di gereja tempat saya beribadah. Namun pada waktu itu, keadaan tubuh saya sedang lemah. Saya mengalami demam, setelah sebelum itu anak-anak kami juga jatuh sakit. Saya fikir saya juga telah dijangkiti oleh mereka.
Secara manusia, tubuh saya lemah. Secara logik, mungkin lebih mudah untuk berehat saja. Tetapi di tengah kelemahan itu, ada satu dorongan yang sangat kuat daripada Roh Kudus di hati saya: datanglah melayani, dan bawa keluargamu bersama.
Biasanya, saya datang seorang diri ke pertemuan doa. Alasannya sederhana, anak-anak kami masih kecil. Saya selalu berpikir, kalau mereka ikut pun, mungkin mereka hanya tertidur, bermain, atau tidak memahami apa yang sedang terjadi. Tetapi pada Jumaat yang lalu, saya merasakan sesuatu yang berbeza. Hati saya begitu diteguhkan untuk membawa istri dan kedua anak kami, Hannah dan Noah, bersama-sama ke persekutuan doa itu.
Dan saya sangat bersyukur saya dikuatkan pada dorongan itu.
Pada saat itu saya percaya, walaupun anak-anak kami belum memahami sepenuhnya apa itu pertemuan doa, apa itu hadirat Tuhan, apa itu mencari wajah Tuhan bersama-sama, tetapi kehadiran mereka di tempat itu tidak sia-sia. Saya percaya bahawa setiap kali umat Tuhan berkumpul dalam nama Yesus, di situ ada pekerjaan Tuhan, di situ ada gerakan Roh Kudus, dan di situ ada hadirat Tuhan yang nyata.
Mungkin bagi mata manusia, anak-anak hanya nampak bermain, berjalan-jalan, atau melihat sekeliling. Tetapi saya percaya, dalam roh mereka sedang “dibiasakan” dengan hadirat Tuhan. Mereka sedang belajar, walaupun belum dengan kata-kata, bahawa ada tempat di mana umat Tuhan berkumpul untuk berdoa, menyembah, dan mencari Tuhan. Dan saya percaya, hadirat Tuhan yang memenuhi ruangan itu juga meliputi mereka. Mereka turut menikmati berkat Tuhan, walaupun dalam cara yang mereka sendiri belum mampu jelaskan.
Di tengah kelemahan tubuh saya malam itu, saya menyampaikan firman Tuhan dari Ulangan 6:5:
“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Firman ini sangat berbicara secara peribadi kepada saya. Setelah melewati musim-musim sukar, saya semakin menyadari bahawa iman seorang Kristen bukan hanya terlihat saat semuanya baik-baik saja, tetapi benar-benar diuji saat kita berada dalam penderitaan, kelemahan, dan pergumulan.
Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan bukan hanya untuk musim berkat. Ayat ini juga berlaku dalam musim sakit, musim letih, musim bingung, musim air mata, dan musim ujian.
Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita hanya boleh datang kepada Tuhan saat kita kuat. Tetapi sebenarnya, kasih yang sejati kepada Tuhan justru terlihat saat kita tetap memilih Dia walaupun tubuh lemah, hati penat, dan hidup tidak mudah.
Musim sukar tidak membatalkan kasih kita kepada Tuhan. Sebaliknya, musim sukar menjadi tempat di mana kasih itu dimurnikan.
Dan malam itu saya belajar satu hal:
walaupun tubuh lemah, roh kita tetap boleh taat.
Walaupun keadaan tidak ideal, Tuhan tetap layak dikasihi sepenuh hati.
Walaupun anak-anak belum mengerti sepenuhnya, membawa mereka masuk dalam suasana hadirat Tuhan adalah sebuah benih rohani yang sangat berharga.
Saya percaya, setiap langkah kecil ketaatan kita tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.
Kiranya firman ini mengingatkan kita semua:
Apa pun musim kehidupan kita hari ini, musim sukacita, musim penantian, musim sakit, musim pergumulan, marilah kita tetap memilih untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita.
Kerana Dia tetap setia.
Dan Dia tetap layak dikasihi dalam segala keadaan.
#RenunganHidup #KesaksianIman #PertemuanDoa #KeluargaDalamTuhan #TuhanSetia

























