Avoidant vs Anxious ini relate banget buat yang pernah ada di hubungan “tarik-ulur” — satu orang pengen dekat terus, satunya malah makin menjauh pas hubungan mulai serius 😅

Review singkat:

Buku ini ngebahas dinamika attachment style, khususnya:

* Anxious attachment → gampang overthinking, butuh reassurance, takut ditinggal.

* Avoidant attachment → cenderung menjaga jarak, sulit terbuka, merasa “sesak” kalau terlalu dekat secara emosional.

Bahasanya ringan dan gampang dipahami, jadi walaupun topiknya psikologi hubungan, tetap enak dibaca buat orang awam. Banyak contoh situasi yang realistis dan sering kejadian di relationship sekarang.

Yang menarik:

* Bikin lebih ngerti kenapa seseorang bisa tiba-tiba dingin atau sulit konsisten.

* Ngebantu refleksi diri juga, ternyata bukan cuma “dia jahat” atau “aku terlalu lebay”, tapi ada pola attachment yang kebentuk dari pengalaman hidup.

* Cocok dibaca habis breakup atau lagi trying to heal.

Tapi kalau kamu suka buku yang full ilmiah dan deep psychology, buku ini lebih ke self-help/pop psychology, jadi pembahasannya santai dan emosional dibanding akademis.

Rate:

⭐ 4/5 buat yang lagi belajar memahami hubungan dan diri sendiri.

Bisa jadi buku yang bikin banyak orang merasa, “oh… ternyata selama ini pattern-nya kayak gini.”

https://vt.tokopedia.com/t/ZS9YNFPJXp737-dnY73/

#MyJourney #book #psychology

5/17 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya sendiri, memahami pola attachment antara avoidant dan anxious benar-benar membuka mata tentang dinamika yang sering terjadi dalam hubungan, terutama yang dikenal dengan istilah 'tarik-ulur'. Saat berada dalam hubungan dengan seseorang yang memiliki attachment style avoidant, saya sering merasa bingung menghadapi sikapnya yang tiba-tiba menjauh padahal sebelumnya terlihat dekat. Attachment style avoidant sendiri bukan berarti seseorang menolak atau tidak peduli, melainkan mereka berusaha melindungi diri dari rasa 'sesak' secara emosional ketika hubungan terlalu dekat. Di sisi lain, mereka yang memiliki attachment style anxious biasanya sangat butuh reassurance dan cenderung mudah cemas takut ditinggal, sehingga kadang terkesan melekat atau overthinking. Saya menemukan bahwa dengan mengenali pola ini, saya jadi lebih bisa mengendalikan emosi dan tidak langsung tersulut perasaan negatif saat pasangan saya melakukan sesuatu yang membuat saya cemas. Ini juga membantu saya refleksi diri supaya tidak terlalu terbawa perasaan dan terus mencari validasi. Menurut buku yang saya baca, dan juga dukungan dari kutipan seperti yang diungkapkan oleh Aurellia Sapphire, pertemuan antara anxious dan avoidant sering kali terasa seperti sebuah pengejaran di mana anxious merasa takut kehilangan, sedangkan avoidant merasa perlu menjauh untuk menjaga keseimbangan emosional dirinya. Proses pemahaman ini sangat bermanfaat terutama di masa recovery setelah putus cinta atau saat mencoba menyembuhkan luka hati. Saya rasa buku dengan bahasa yang ringan dan contoh realistis seperti ini sangat cocok bagi siapa saja yang ingin belajar mengenal dirinya dan dinamika psikologi hubungan tanpa harus masuk ke pembahasan akademis yang berat. Singkatnya, mengenal dan memahami attachment style dapat menjadi kunci untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan juga membantu kita belajar untuk lebih sabar dan pengertian, baik kepada pasangan maupun kepada diri sendiri.