... Baca selengkapnyaKalau kamu lagi cari buku Alvi Syahrin tapi bingung mulai dari yang mana dulu, aku mau share pengalaman pribadi setelah baca beberapa bukunya yang sering dibahas di dunia self-healing.
Aku pribadi mulai dari "overthinking is my hobby, and I hate it" karena relate banget. Di buku ini, Alvi banyak bahas soal pikiran yang muter-muter, rasa takut nggak jelas, dan kebiasaan nyari skenario terburuk. Cara dia nulis tuh ringan, kayak lagi diajak ngobrol, tapi beberapa kalimatnya nusuk. Aku biasanya baca pelan-pelan, satu atau dua bab sebelum tidur, sambil highlight bagian yang paling ngena. Efeknya, lama-lama aku lebih sadar: "Oh, ternyata selama ini aku terlalu keras sama diri sendiri."
Buat kamu yang sering ngerasa sendirian walaupun dikelilingi orang, "loneliness is my best friend" bisa jadi pilihan. Waktu baca ini, aku jadi mikir ulang soal kesepian. Buku ini nggak langsung nyuruh kamu "ayo jangan sedih", tapi lebih ngajak kenalan sama rasa sepi, nerima kalau itu bagian dari hidup, dan pelan-pelan belajar nyaman sama diri sendiri. Aku suka baca buku ini ditemani teh hangat di sofa, biar suasananya makin tenang.
Kalau masalah utamamu adalah ngerasa nggak cukup, selalu compare sama orang lain, atau sering mikir "aku nggak pantes", coba "insecurity is my middle name". Di sini Alvi bahas banyak soal standar orang lain, ekspektasi, dan luka-luka kecil yang sering kita cuekin. Waktu baca, aku jadi sadar kalau insecure itu wajar, tapi jangan sampai dia jadi identitas utama. Aku sempat nulis beberapa poin penting di jurnal, supaya gampang diinget dan dipraktikkan.
Selain buku-buku Alvi Syahrin, aku juga lagi suka buku "WHAT'S SO WRONG ABOUT SELF HEALING" dan "WHAT'S SO WRONG ABOUT TRAUMA & EXPECTATION" karya Ardhi Mohamad. Dua buku ini cocok kalau kamu lagi ngerasa nggak berharga, kebeban ekspektasi orang tua, atau masih ke-trigger sama trauma masa lalu. Bahasanya cukup blak-blakan, tapi justru itu yang bikin aku kejedug reality check.
Tips dari aku kalau baca buku self-improvement kayak gini:
1. Jangan buru-buru habisin. Nikmatin per bab, cerna pelan-pelan.
2. Sediakan highlighter atau notes di HP buat nyimpen kutipan yang paling ngena.
3. Coba praktikkan satu hal kecil dari buku, misalnya latihan sadar napas saat overthinking, atau nulis rasa syukur tiap malam.
4. Baca di tempat yang nyaman – sofa, kasur, atau pojokan favorit ditemani kopi/teh.
Intinya, buku-buku self-improvement, termasuk karya Alvi Syahrin, bukan obat instan. Tapi buat aku, mereka jadi teman perjalanan: nemenin saat aku capek sama diri sendiri, ngerasa sendirian, atau cuma butuh diingetin kalau aku masih pantas dan cukup. Kalau kamu lagi di fase itu juga, mungkin satu dari buku ini bisa jadi titik mulai buat lebih kenal diri sendiri.
bgus bnget soalnya