Masa lalu? Dia sedang hamil anak ketiga kamu, Mas!
Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu!"
Teriakan itu memecah keheningan ruang tamu yang biasanya hangat. Vas bunga porselen melayang, menghantam dinding, pecah menjadi kepingan-kepingan tajam sama seperti hati wanita yang berdiri gemetar di tengah ruangan itu.
Pria di hadapannya, Johan, mengangkat kedua tangannya dengan wajah pucat.
"Alina, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Sarah... dia cuma masa lalu yang kebetulan masih terikat status hukum. Tapi cintaku cuma buat kamu, Al."
"Masa lalu? Dia sedang hamil anak ketiga kamu, Mas! Kamu bilang dinas luar kota setiap akhir pekan, ternyata kamu pulang ke rumah istrimu yang sah? Lalu aku ini apa? Pel acur yang kamu kasih label istri siri?"
"Jaga mulutmu, Alina! Aku menafkahimu lebih dari cukup! Rumah ini, mobil, uang bulanan apa kurangnya aku?"
"Kurangnya adalah kamu penipu! Aku tidak butuh uangmu kalau ternyata uang itu kamu ambil dari jatah anak-anakmu di sana. Aku jijik, Mas. Aku jijik sama kamu, dan aku jijik sama diriku sendiri karena sebodoh ini percaya sama kamu."
Alina menyambar tas tangannya yang tergeletak di sofa. Dia tidak peduli lagi. Dia harus keluar. Udara di rumah mewah ini mendadak terasa beracun, mencekik paru-parunya.
"Kamu mau ke mana? Jangan konyol! Di luar hujan deras!" Johan mencoba meraih lengan Alina, mencengkeramnya kasar.
"Lepas!" Alina menghempaskan tangan itu sekuat tenaga. "Jangan cari aku lagi. Anggap aku sudah mati."
"Alina! Kamu keluar dari pintu itu, aku pastikan kamu akan merangkak kembali padaku karena kelaparan!"
Ancaman itu diabaikan. Pintu jati yang berat itu terbanting keras.
Hujan bukan lagi rintik-rintik, melainkan badai. Langit seolah menumpahkan amarah yang sama besarnya dengan yang dirasakan Alina. Tanpa payung, tanpa kendaraan, wanita itu berlari menembus kegelapan kompleks perumahan elit yang sunyi.
Air mata bercampur dengan air hujan, menyamarkan pandangannya. Kakinya yang hanya beralaskan sandal rumah tergelincir berkali-kali di aspal basah, tapi rasa sakit di lututnya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya.
PE L AK OR.
Label itu berdengung di kepalanya seperti mantra kutukan. Dia berlari tanpa arah, hanya ingin menjauh. Menjauh dari Johan, menjauh dari kebodohannya sendiri.
Tiba-tiba, cahaya menyilaukan menyorot dari arah depan.
Dua lampu besar membelah kegelapan, mendekat dengan kecepatan tinggi. Klakson panjang memekakkan telinga berbunyi nyaring.
Ciiitttt!
Suara ban berdecit beradu dengan aspal basah terdengar mengerikan. Alina membeku. Kakinya seolah terpaku di jalan raya. Cahaya itu semakin dekat, dan dalam satu detik kepasrahan, dia memejamkan mata.
Mungkin ini lebih baik, batinnya.
Pintu mobil mewah berwarna hitam doff itu terbuka. Seorang pria turun dengan gerakan tenang, seolah tidak baru saja hampir mencabut nyawa orang. Payung hitam besar mengembang di atas kepalanya.
Langkah kaki sepatu pantofel mahal terdengar tegas mendekat.
"Apa kau punya keinginan mati, Nona? Atau kau sedang menantang malaikat maut?"
Suara itu berat, dalam, dan dingin. Bariton yang membuat bulu kuduk Alina meremang, bukan karena takut, tapi karena aura dominasi yang begitu pekat.
Alina membuka matanya perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Wajahnya keras, rahangnya tegas, namun matanya... mata itu menatap Alina dengan intensitas yang aneh. Seperti elang yang baru saja menemukan kelinci yang terluka.
"Maaf..." lirih Alina, tubuhnya menggigil hebat karena dingin dan syok. "Saya... saya tidak melihat..."
Pandangan Alina mengabur. Kakinya lemas. Sebelum tubuhnya menghantam aspal, sebuah lengan kekar menangkap pinggangnya dengan sigap.
Aroma sandalwood dan tembakau mahal menyeruak masuk ke indra penciuman Alina,
"Tuan Bram, kita harus segera pergi. Rapat dewan direksi dimulai tiga puluh menit lagi," suara lain terdengar dari arah mobil. Seorang sopir bertubuh besar keluar dengan wajah cemas.
Pria yang dipanggil Bram itu tidak menoleh. Dia masih menatap wajah pucat Alina yang kini berada dalam rengkuhannya. Dia melihat air mata, dia melihat luka, dan dia melihat keputusasaan.
Sesuatu dalam dada Bramantyo berdesir. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama tiga puluh enam tahun hidupnya.
"Batalkan rapatnya," perintah Bram datar, tanpa melepaskan tatapannya dari Alina.
"Tapi, Tuan... ini rapat penentuan wilayah pelabuhan..."
"Kubilang batalkan. Bawa dia masuk ke mobil. Kita pulang ke Penthouse."
"Si-siapa Anda?" Alina mencoba memberontak lemah, tenaganya sudah habis terkuras. "Lepaskan saya..."
Bramantyo menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Alina.
"Namaku Bramantyo. Dan mulai detik ini, urusanmu adalah urusanku. Tidurlah. Kau aman sekarang."
Alina terbangun karena aroma antiseptik dan kemewahan yang asing. Dia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah kamar tidur yang luasnya tiga kali lipat dari rumah kontrakan lamanya.
Dia mencoba duduk, meringis memegang kepalanya yang pening.
"Sudah sadar?"
Alina menoleh cepat. Alina membelalak, mundur hingga punggungnya menabrak sandaran ra nja ng. "Itu... itu pistol?"
"Tenanglah. Ini hanya mainan untuk orang dewasa yang nakal," jawab Bram santai, meletakkan senjata itu di meja kaca. Dia berdiri, berjalan mendekati ra nja ng.
"Siapa namamu?"
"A-Alina."
"Baik, Alina. Aku sudah menyelidiki latar belakangmu saat kau pingsan tadi. Johan Sutejo. Pengusaha properti kelas teri. Punya dua istri, dan kau yang kedua. Benar?"
Mulut Alina terkunci. Bagaimana pria ini bisa tahu secepat itu?
"Kau kabur darinya. Kau tidak punya uang, tidak punya keluarga, dan dia pasti akan memburumu. Polisi tidak akan membantumu karena Johan punya koneksi dengan kepolisian setempat."
"Apa mau Anda?" suara Alina bergetar.
Bramantyo menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Alina, mengurung wanita itu. Wajah mereka begitu dekat hingga Alina bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam pekat itu.
"Aku butuh istri. Ibuku sekarat dan dia ingin melihatku menikah sebelum dia menutup mata. Aku tidak punya waktu untuk pacaran atau drama percintaan bodoh."
Bram menatap bibir Alina sekilas, lalu kembali menatap matanya tajam.
"Menikahlah denganku. Sebagai gantinya, aku akan menjamin Johan tidak akan pernah bisa menyentuh sehelai rambutmu lagi. Aku akan mengurus perceraianmu, dan kau akan hidup sebagai Ratu di imperiumku. Bagaimana?"
"A-Anda gi la. Kita baru bertemu satu jam yang lalu!"
"Di duniaku, satu jam sudah cukup untuk menentukan hidup dan ma ti, Alina. Jadi pilihannya ada dua: Keluar dari pintu ini dan kembali dikejar suamimu yang brengsek itu, atau pakai cincin ini..."
Bram mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku celananya, membukanya. Sebuah cincin berlian mata biru berkilau di sana.
"...dan jadilah Nyonya Bramantyo."
Alina menatap cincin itu, lalu menatap pria berbahaya di hadapannya.
Judul ;Pelukan Sang Penguasa
Penulis ;Lilis Lestari
Hanya di kbm app
