Bab 2
Alina menatap cincin berlian itu seolah benda tersebut adalah b om waktu yang siap meledak. Dia menggeleng pelan, mundur selangkah lagi menjauhi jangkauan tangan pria itu.
"Anda g ila," desis Alina, suaranya parau namun tajam. "Saya baru saja lari dari satu ner aka, Tuan Bramantyo. Apa yang membuat Anda berpikir saya akan sukarela masuk ke ner aka lain bersama orang asing?"
"Ner aka?" Bram terkekeh rendah, suara yang terdengar meng erikan di telinga Alina. "Kau salah paham, Alina. Aku tidak menawarimu ner aka. Aku menawarimu benteng pertahanan."
Bram berbalik, menyodorkan gelas air itu pada Alina.
"Minumlah. Bibirmu pu cat."
Alina ragu sejenak, namun rasa haus mengalahkan egonya. Dia mengambil gelas itu dengan tangan gem etar dan meneguknya cepat.
"Kenapa harus saya?" tanya Alina setelah gelasnya kosong. Napasnya mulai sedikit teratur. "Anda ka ya, tampan, dan... ber ku asa. Anda bisa mendapatkan wanita mana pun yang mengantre untuk menjadi istri Anda. Kenapa memungut wanita bekas seperti saya?"
Bram menatap Alina lamat-lamat. Tatapannya seolah menel anjangi jiwa wanita itu.
"Karena wanita di luar sana menginginkan har taku, tapi mereka takut pada bayanganku. Mereka menginginkan nama 'Bramantyo', tapi mereka tidak punya nyali untuk menghadapi duniaku."
Bram melangkah maju, mempersempit jarak hingga Alina bisa men ci um aroma maskulinnya yang memabukkan.
"Tapi kau... kau berbeda. Kau baru saja berdiri di tengah jalan raya, siap ma ti ditabrak mobilku. Kau punya keputus asaan yang sama denganku. Dan yang paling penting..." Bram menunjuk da da Alina dengan telunjuknya. "...kau bersih. Kau tidak punya koneksi dengan mus uh-mus uh bisnisku. Kau kertas putih yang bisa kutulisi ulang."
"Saya bukan kertas putih!" sela Alina emo sional. "Saya kotor! Saya istri kedua yang bodoh! Saya..."
"Kau kor ban," potong Bram tegas.
Bunyi itu berasal dari saku celana Alina yang basah. Itu ponsel pribadinya. Layar menyala menampilkan nama yang membuat jantung Alina berhenti berdetak: "Mas Johan".
Alina membeku. Rasa takut yang familiar itu merambat naik ke tenggorokannya.
"Ja-jangan..." Alina bergumam pa nik, matanya mem bel alak menatap ponsel yang bergetar di atas nakas. "Dia pasti melacakku... dia akan menemukanku..."
Bram melirik ponsel itu, lalu melirik Alina yang tampak seperti kelinci keta kutan. Tanpa permisi, tangan besar Bram menyambar ponsel tersebut.
"Apa yang Anda lakukan?! Jangan diangkat!" teri ak Alina, mencoba merebutnya.
Namun Bram terlalu tinggi, terlalu ku at. Dengan satu tangan dia menahan tubuh Alina agar tetap di tempat, sementara tangan lainnya menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Dia menekan tombol loudspeaker.
"Alina! Pulang sekarang juga, sia lan! Kau pikir kau bisa lari ke mana, hah?! Kartu kreditmu sudah kublokir! Kau mau jadi gem bel di jalanan?!"
"Sudah bicaranya?" suara Bram akhirnya terdengar. Tenang, berat, dan me ma ti kan.
Hening sejenak di ujung telepon.
"Si-siapa ini? Di mana Alina? Kau sel ing kuhannya?!"
"Dengarkan baik-baik, Johan Sutejo," ucap Bram lambat-lambat. "Namaku Bramantyo Abhimata. Mulai detik ini, Alina bukan lagi urusanmu. Dia berada di bawah pe rl in dung anku."
"Bramantyo...? B o s M a f i a Properti itu?" Suara Johan terdengar m enc iut seketika, getaran takut mulai terdengar. "Tunggu... Pak Bram? Kenapa istri saya bisa..."
"Dia bukan istrimu lagi. Pengacaraku akan mengirimkan surat gu gat an ce rai ke kantormu besok pagi. Tanda tangani tanpa banyak tanya, atau..." Bram memberi jeda dra matis, "...aku pastikan proyek perumahanmu di Cikarang akan rata dengan tanah sebelum matahari terbit."
"T-tapi Pak... Alina itu..."
"Satu lagi," potong Bram dingin. "Jika kau berani mendekatinya, atau bahkan mencoba menghubunginya lagi... aku tidak akan mengirim pengacara. Aku akan mengirim pembersih. Kau paham maksudku?"
Klik.
Sambungan diputus sepihak oleh Bram. Dia melempar ponsel itu ke atas ka s ur seolah benda itu sampah.
Ruangan kembali hening. Alina menatap Bram dari posisinya yang terduduk di lantai. Dia s yok. Pria yang selama tiga tahun ini meng in ti mi da sinya (Johan), baru saja dibuat tidak ber kutik hanya dalam sepuluh detik oleh pria di hadapannya.
Bram berjongkok, menyamakan tingginya dengan Alina. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar.
"Berdiri, Alina. Calon istri Bramantyo tidak boleh menunduk pada siapa pun, termasuk pada masa lalunya."
"Syarat..." cicit Alina pelan.
"Apa?"
"Saya punya syarat," Alina memberanikan diri menatap mata elang itu. "Jika kita menikah... Anda tidak boleh m e n y e n tuh saya sampai saya siap. Saya... saya masih tra uma. Saya tidak bisa m el a y ani Anda sebagai istri dalam arti sebenarnya."
Sudut bi bir Bram terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang mis terius.
"Aku bukan bi na tang yang akan memaksakan na fsu pada wanita yang menangis, Alina. Aku butuh status, bukan tu buh mu. Setidaknya, belum untuk saat ini."
"Janji?"
"Bramantyo tidak pernah menarik ucapannya."
Bram kembali mengeluarkan kotak cincin beludru itu. Kali ini dia tidak bertanya. Dia meraih tangan kiri Alina, dan menyematkan cin cin berlian itu di jari manisnya. Ukurannya pas, seolah cincin itu memang ditempa untuk Alina.
"Bersiaplah. Mandi dan pakai baju yang ada di lemari. Mama baru saja menelepon, kondisinya mem bu ruk."
"Apa? Kita mau ke mana?" tanya Alina bingung.
Bram berbalik menuju pintu, lalu menoleh sedikit lewat ba hunya.
"Rumah Sakit. Kita menikah malam ini di hadapan Mama. Penghulu sudah menunggu di sana."
"Ma-malam ini?! Tapi saya..."
"Selamat datang di hidupku, Nyonya Bramantyo. Di sini, kita berlari lebih cepat dari p e l uru."
Pintu tertutup. Meninggalkan Alina yang berdiri kaku dengan cin cin berlian yang berkilau di jari manisnya, menyadari bahwa dia baru saja menjual ji wanya pada ib lis demi lari dari s e tan.
Judul ;Pelukan Sang Penguasa
Penulis ;Lilis Lestari
Hanya di kbm app
