sofa marmer tebal buatan Italia.

Pel uru-pe luru menghantam dinding di belakang mereka, merontokkan lukisan ma hal dan meninggalkan lubang-lubang meng anga. Ruangan itu gelap gulita, hanya diterangi oleh kilatan api dari mon cong senj ata para pen yerbu di luar sana.

"Dimas! Berhenti mena ngis atau kule mpar kau keluar!" desis Bram di telinga sepupunya yang gem etar hebat di lantai.

"Kak... mereka... mereka..." Dimas tergagap, wajahnya pu cat pasi seperti ma yat.

"Diam dan dengarkan aku," Bram beralih menatap Alina. Dalam kegelapan, mata Alina tampak lebar memantulkan sedikit cahaya, tapi wanita itu tidak ber teri ak. Dia meng gigit bi birnya sampai ber dar ah untuk menahan jer itan.

"Alina, kau percaya padaku?" tanya Bram. Tangannya mencengkeram bahu Alina ku at-ku at.

"A-aku..."

"Percaya atau ma ti. Pilih."

"Percaya," jawab Alina cepat.

"Bagus. Pegang erat sabukku di bagian belakang. Jangan lepaskan apa pun yang terjadi. Kita harus bergerak ke sayap timur, ke ruang sen jata. Dimas, kau ikut di belakang Alina. Kalau kau tertinggal, aku tidak akan kembali untukmu."

Bram mengintip sedikit dari balik sofa. Ada sekitar enam orang bersenj ata la ras pan jang yang mulai memanjat masuk lewat jendela yang pec ah. Mereka menggunakan laser merah pem bid ik yang menyapu ruangan seperti mata ib lis yang mencari mang sa.

"Sistem keam anan dire tas total. Pintu otomatis terkunci. Kita terkurung di dalam rumah sendiri bersama mereka," gumam Bram meng ana lisis situasi dengan dingin. "Siapa pun yang menjebak Dimas, dia tahu blueprint rumah ini."

Bram mengecek pis tol Glock-nya. Sisa 12 pel uru. Tidak cukup untuk per ang terbuka.

"Hitungan ketiga. Lari ke arah lorong dapur. Satu... dua... TIGA!"

Bram bangkit, mene mbak dua kali secara presisi ke arah peny erbu terdepan.

D O R! D O R!

Dua orang tum bang seketika. Jer itan kesa kitan terdengar.

Alina berlari sekuat tenaga sambil memegangi bagian belakang celana Bram, sementara Dimas ters eok-se ok di belakangnya. Laser merah mengejar langkah kaki mereka. Pel uru mende sing hanya beberapa senti di atas kep ala Alina, meng han curkan vas bunga di koridor.

"Masuk!" Bram men end ang pintu dapur, men dor ong Alina dan Dimas masuk, lalu membanting pintu itu dan menguncinya. Dia menyeret lemari pendingin besar untuk memalang pintu.

Nap as mereka memb uru. Dapur itu gelap, tapi cahaya bulan samar masuk dari ventilasi atas.

"Raka di mana?" tanya Alina dengan na pas ters engal.

"Kalau dia masih hid up, dia sedang mencoba meny alakan generator cadangan di basement. Kalau dia ma ti... berarti kita sendirian," jawab Bram datar. Dia mengambil pis au daging besar dari rak magnetik di dinding dapur, lalu menyelipkannya di ping gang.

hanya di kbm app

Judul ;Pelukan Sang Penguasa

Penulis ;Lilis Lestari

#Lemon8 #lilisleatari#pelukansangpenguas

1/2 Diedit ke