Kalau dia masih hi dup, dia sedang mencoba menyalakan generator cadangan di basement. Kalau dia m ati... berarti kita sendirian," jawab Bram datar. Dia mengambil pi sau daging besar dari rak magnetik di dinding dapur, lalu menyelipkannya di ping gang.

"Kak Bram... maafin gue..." isak Dimas. "Gue nggak tahu siapa yang pake komputer gue..."

"Simpan maafmu nanti kalau kita sela mat," potong Bram tajam. "Sekarang diam. Mereka datang."

Suara langkah kaki berat terdengar mendekat di koridor luar. Ada suara komunikasi radio yang samar.

"Tar get di dapur. Hab isi semuanya. Jangan sisakan sa ksi."

Alina mer inding. Perintah itu jelas. Tidak ada negosiasi.

Bram menatap Alina. "Alina, dengar. Aku akan memancing mereka. Kau dan Dimas sem bunyi di dalam pantry (ruang penyimpanan makanan). Pintu itu tebal, terbuat dari kayu jati solid.

Jangan keluar sampai aku yang memanggil."

"Kamu mau melawan mereka sendirian? Itu bun uh diri!" bisik Alina pa nik, mence ngkeram lengan Bram.

Bram menatap tangan Alina di lengannya, lalu menatap mata istrinya. Ada kekhawatiran tulus di sana. Bukan takut ma ti, tapi takut kehil angan dia.

Bram mendekatkan wajahnya, meng ecup singkat bi bir Alina ciu man rasa da rah dan keringat.

"Aku ini Raja di hutan ini, Sayang. Mereka cuma domba yang tersesat masuk ke kandang singa."

Bram mend orong Alina dan Dimas masuk ke pantry, lalu menutup pintunya dari luar.

Alina menempelkan telinganya ke pintu kayu itu. Dia mendengar suara pintu dapur did obrak kasar.

B RAK!

"Periksa ruangan!" ter iak suara asing.

Lalu, keheningan.

Satu detik. Dua detik.

Kemudian, suara ner aka pecah.

Bukan suara tem bakan, tapi suara jer itan, bunyi tulang pa tah, dan suara benda tum pul menghantam daging. Alina mendengar Bram bergerak. Tidak ada suara pis tol. Suaminya mem ban tai mereka dalam kegelapan menggunakan pis au dan tangan kosong.

"A A A RGH! TOL ONG!"

"DI MANA DIA?! AKU TIDAK BISA ME LIH ATNYA!"

"BELAKANGMU! AW AS BEL—"

SRET!

GUB RAK!

Alina menutup telinganya, tub uhnya merosot ke lantai di antara karung beras dan kaleng makanan. Dia gem etar. Dia tahu suaminya ber bah aya, tapi mendengar proses pem ban taian itu secara langsung membuat perutnya mu al. Dia menikahi mon ster. Benar-benar mon ster.

Lima menit berlalu. Suara gaduh itu berhenti. Hening total.

Apakah Bram menang? Atau dia sudah ma ti?

"Alina..."

Suara Bram terdengar dari balik pintu. Nap asnya berat, tapi stabil.

Alina membuka pintu pantry dengan tangan gem etar.

Pemandangan di dapur itu meng erikan. Empat orang pria berpakaian hitam tak ber nya wa di lantai dengan posisi tidak w ajar. Da rah menggenang di lantai keramik putih yang kini berubah merah.

Bram berdiri di tengah keka cauan itu. Kemeja putihnya kini merah sepenuhnya oleh da rah mu suh. Wajahnya terciprat dar ah, pi sau daging di tangannya meneteskan cairan kental. Dia tampak seperti ib lis yang baru bangkit dari ner aka.

Dimas mun tah di sudut ruangan melihat pemandangan itu.

Tapi Bram tidak peduli. Dia melangkah mendekati Alina, matanya memeriksa tub uh istrinya.

"Kau ter luka?" tanyanya.

Alina menggeleng kaku. Dia ingin mundur karena tak ut, tapi kakinya tidak bisa digerakkan.

"Bagus," Bram membuang pis au itu ke wastafel.

"Listrik belum nyala. Raka mungkin dalam masalah. Kita harus ke basement."

Tiba-tiba, earpiece yang terpasang di telinga salah satu ma yat berbunyi kresek-kresek. Bram membungkuk, mengambil alat komunikasi itu dan memasangnya di telinganya sendiri.

"Tim Alpha, lapor. Dapur sudah bersih?" tanya suara di seberang.

Bram menekan tombol bicara. Suaranya rendah dan mengejek.

"Dapur sudah bersih. Aku baru saja membuang sampahnya. Kapan kalian kirim sisanya? Aku masih la par."

Hening di seberang sana. Lalu suara itu menjawab dengan nada dingin yang familiar.

"Bramantyo... kau memang susah m ati."

Mata Bram memb elalak. Dia mengenali suara itu.

"Hendra?" desis Bram.

Hendra. Rekan bisnisnya. Orang yang hadir di acara serah terima jabatan bulan lalu. Orang yang tersenyum menyalaminya saat dia mengumumkan pernikahan.

"Bisnismu di pelabuhan terlalu menggiurkan, Bram. Dan kau... kau le mah karena menikah. Istrimu itu jadi beban."

"Sen tuh dia seujung kuku saja, aku pastikan kau akan memohon untuk ma ti, Hendra."

"Lihat saja nanti. Kami sudah mendobrak pintu ruang kerjamu. Brankas utamamu target kami."

Sambungan terputus.

Bram membanting earpiece itu hingga han cur.

"Mereka mengincar Black Ledger," gumam Bram. Buku hitam berisi data tran saksi seluruh pejabat korup dan bos ma fia di negeri ini. Itu adalah nya wa orga nisasi Bram.

Bram berbalik menatap Alina dan Dimas. Wajahnya kini bukan lagi wajah pemb unuh, tapi wajah jenderal yang sedang menyusun stra tegi terakhir.

"Rencana berubah. Kita tidak sembunyi. Kita berburu."

Bram berjalan ke sebuah lemari dinding di pojok dapur, menekan panel tersembunyi. Dinding itu bergeser, memperlihatkan rak sen jata rah asia. Ada sen apan serbu, rompi anti pel uru, dan gran at asap.

Bram melempar sebuah pis tol kecil jenis Walther PPK ke arah Alina.

Alina menangkapnya dengan kikuk. Benda itu dingin dan berat.

"Aku tidak bisa mene mbak, Bram!" protes Alina, matanya nanar menatap benda mem atikan di tangannya.

Bram memasangkan rompi anti pel uru ke tubuh Alina, mengencangkan talinya dengan cekatan.

"Arahkan ke da da, tarik pel atuk. Jangan ragu. Kalau kau ragu, kau ma ti. Kalau aku ma ti, kau ma ti. Kalau kita ma ti, ba yi di perut Sarah juga tidak akan dapat bantuan."

Alina terhenyak. Bram meman ipulasinya dengan kebaikannya sendiri.

"Dimas," panggil Bram. "Kau bisa pegang s h o t gun?"

"B-bisa, Kak. Dikit." Dimas menyeka mulutnya, mencoba berdiri tegak meski kakinya gem etar.

"Jaga punggung Alina. Kalau ada yang mendekatinya, tem bak kepa lanya. Mengerti?"

"Mengerti, Kak."

Bram mengambil sen apan serbu la ras panjang, mengokangnya dengan suara klik-klak yang tegas. Dia menatap kedua orang yang kini menjadi tanggung jawabnya.

"Malam ini, rumah ini bukan rumah kita. Ini medan pera ng. Ayo kita ajarkan Hendra kenapa dia tidak seharusnya membangunkan na ga yang sedang tidur."

Mereka bergerak keluar dari dapur menuju tangga utama. Bram di depan, Alina di tengah, Dimas di belakang.

Saat mereka tiba di hall utama yang luas, lampu gantung kristal raksasa di atas mereka tiba-tiba menyala redup generator cadangan mulai bekerja.

Namun, cahaya itu justru mengungkapkan keng erian sesungguhnya.

Di lantai atas, di balkon yang mengelilingi hall, berdiri belasan orang bersen jata lengkap. Mereka mengepung Bram dari atas.

Dan di tengah-tengah mereka, seorang pria paruh baya dengan jas rapi berdiri sambil memegang gelas whisky milik Bram. Itu Hendra.

Dan di samping Hendra... ada seseorang yang membuat jan tung Bram berhenti ber de tak.

Bi Inah. Kepala pelayan yang sudah bekerja sepuluh tahun untuk Bram.

Ada pis tol di tangan Bi Inah, dan moncongnya diarahkan lurus ke bawah... tepat ke kep ala Alina.

"Selamat malam, Tuan Bram," sapa Bi Inah dengan senyum tipis yang asing. "Maaf, tapi gaji dari Pak Hendra lima kali lipat lebih besar dari Anda."

Alina mendongak, menatap laras pis tol yang mengarah padanya. Dia terkepung. Peng khia natnya bukan Dimas. Tapi orang yang menyambutnya dengan ramah tadi sore.

Bram menurunkan sen apan nya perlahan. Dia tidak bisa menembak. Posisi Bi Inah terlalu stra tegis.

"Jatuhkan senj atamu, Bramantyo," perintah Hendra dari atas. "Atau o tak istrimu yang cantik ini akan berceceran di lantai marmer mahalamu."

Judul ;Pelukan Sang Penguasa

Penulis;Lilis Lestari

baca lanjutan Hanya di kbm app

1/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita yang saya baca ini benar-benar memikat dan menegangkan, membuat saya teringat akan beberapa novel aksi dan thriller yang pernah saya nikmati sebelumnya. Penggambaran suasana yang mencekam di rumah Bram dan ketegangan yang dirasakan Alina saat bersembunyi di pantry sangat nyata dan autentik. Saya juga terkesan dengan bagaimana Bram, meskipun berada dalam situasi berbahaya, mampu mengambil kendali dan melindungi orang-orang yang dia cintai dengan strategi dan ketegasan luar biasa. Penggunaan senjata tradisional seperti pisau daging yang Bram gunakan untuk melawan penyerang di kegelapan menambah unsur brutal dan realistis pada cerita ini. Adegan-adegan tersebut menunjukkan keberanian dan kekuatan Bram sebagai karakter utama. Dari sisi psikologis, saya merasa sangat empati pada Alina, yang meskipun ketakutan dan merasa terancam, belajar untuk bertahan dan bahkan memegang senjata untuk melindungi diri sendiri. Yang menarik juga adalah penambahan elemen pengkhianatan, dimana Bi Inah, sosok yang selama ini dipercaya, ternyata memegang pistol dan berpihak pada musuh. Ini menambah kedalaman cerita, karena tidak hanya soal pertarungan fisik, tapi juga konflik batin dan kepercayaan yang diuji. Cerita ini juga menyinggung konsep pentingnya 'Black Ledger', buku yang berisi data rahasia pejabat dan mafia korup. Ini memberikan dimensi lebih luas tentang latar belakang perjuangan Bram, bukan sekedar pertarungan personal, tetapi sebuah perang melawan sistem yang penuh korupsi dan bahaya. Bagi saya, cerita ini mengajarkan tentang ketangguhan, keberanian, dan pentingnya kepercayaan dalam situasi genting. Itu juga mengingatkan saya bahwa dalam hidup, terkadang kita harus menghadapi 'naga' yang sedang tidur dan bersiap menghadapi konsekuensinya. Saya sangat merekomendasikan cerita seperti ini bagi para pecinta genre action-thriller yang suka dengan plot dinamis dan karakter kompleks. Semoga kelanjutan cerita ini bisa segera dirilis karena saya penasaran dengan bagaimana Bram bersama Alina dan Dimas akan menghadapi ancaman selanjutnya dan apakah mereka bisa menyelamatkan 'Black Ledger' serta keluarga mereka dari tangan Hendra dan kroninya.