prolog
Doa yang Tidak Pernah Sampai
Ada doa yang dilangitkan dengan suara lantang, diiringi tangis dan sujud panjang.
Ada pula doa yang dipendam dalam da da, dikunci rapat, dan hanya bocor lewat air mata di sepertiga malam.
Dan entah kenapa, doa yang kedua sering kali lebih cepat sampai ke langit.
Aisha pertama kali belajar tentang itu saat usianya belum genap tujuh belas. Saat hidupnya tak lebih dari sehelai kain basah yang terus diperas oleh keadaan. Ia belajar bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan “ya”, tapi dengan “bersabarlah”.
Di pondok itu, Aisha bukan siapa-siapa.
Ia bukan putri kyai.
Bukan santri berprestasi.
Bukan pula gadis yang namanya sering disebut dalam doa-doa istimewa.
Ia hanya bayangan yang sibuk bekerja sebelum fajar, dan menghilang sebelum malam benar-benar gelap.
Tangannya hafal tekstur kain.
Hidungnya hafal aroma sabun colek dan parfum
Dan hatinya… hafal rasanya mencintai tanpa pernah berhak berharap.
Tidak ada yang tahu kapan tepatnya rasa itu tumbuh.
Mungkin sejak ia diam-diam mendengarkan suara seorang lelaki muda melantunkan ayat suci dengan nada yang membuat da da bergetar.
Atau sejak ia menemukan coretan kecil di tepi kitab kuning, tulisan rapi yang terasa seperti sedang berbicara langsung padanya.
Atau sejak ia sadar, setiap kali lelaki itu lewat, langkahnya selalu melambat seolah dunia ingin memberi Aisha waktu lebih lama untuk menatap punggung yang tak akan pernah menjadi miliknya.
Judul ;Ketika Do'a Kita Patah
Penulis ;Lilis Lestari
Hanya di kbm app
































