05

Pondok Pesantren Al-Ikhlas bersolek. Halaman yang biasanya dipenuhi santri berlarian, kini disulap menjadi lautan bunga. Tenda-tenda raksasa berwarna putih dan emas berdiri angkuh, menutupi langit yang mendung. Janur kuning melengkung di gerbang utama, menyambut tamu-tamu agung dari berbagai penjuru negeri.

Bagi semua orang, ini adalah "Pernikahan Agung". Penyatuan dua trah pesantren besar.

Tapi bagi Gus Fatih, ini adalah upacara pemakamannya sendiri.

Di dalam kamar pengantin yang wangi melati, Fatih duduk di tepi ran jang. Ia sudah mengenakan beskap putih gading bertahta payet e mas. Peci hitamnya terpasang rapi, menyembunyikan mata yang bengkak dan merah karena kurang tidur. Di depannya, cermin besar memantulkan sosok pria gagah yang jiwanya telah kosong.

"Gus, sudah siap? Rombongan mempelai putri sudah mau masuk masjid," kata Kang Santri, asisten Fatih, yang masuk dengan wajah sumringah namun berubah canggung saat melihat ekspresi Fatih.

Fatih tidak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya.

Siapa orang di cermin ini? batinnya. Ini bukan Fatih. Fatih sudah m ati saat Aisha melangkah pergi.

"Gus?" panggil Kang Santri lagi, takut-takut.

Fatih berdiri. Gerakannya kaku seperti robot. "Ayo. Jangan biarkan Abah menunggu."

Ia berjalan keluar. Langkahnya berat, seolah kakinya dirantai dengan bola besi seberat satu ton. Setiap langkah menuju masjid terasa seperti langkah menuju tiang ekse kusi. Di sepanjang koridor, santri-santri berbaris, bersholawat dengan rebana yang bertalu-talu.

Thala'al badru 'alaina...

Suara rebana itu, bagi Fatih, terdengar seperti pa lu godam yang menghantam kepalanya. Dung! Dung! Dung!

Di barisan santri putri, Maemunah (Meme) berdiri di pojok. Matanya sembab parah. Ia tidak ikut bernyanyi. Ia memegang ujung jilbabnya, meremasnya kuat-kuat. Ia satu-satunya orang di sana yang tahu bahwa di balik senyum tipis Gus Fatih, ada teriakan minta tolong yang tak terdengar.

"Sabar ya, Sha... Di mana pun kamu berada," bisik Meme sambil menyeka ingus. "Gus Fatih cuma ba dannya yang di sini, hatinya ikut kamu."

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya.

Terminal Bungurasih, Surabaya.

Panas. Pengap. Bau asap knalpot, keringat, dan sampah busuk bercampur jadi satu.

Aisha turun dari bus dengan langkah sempoyongan. Kepalanya berputar hebat. Perutnya seperti diaduk-aduk blender. Mual yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.

"Ojek, Neng? Taksi? Surabaya mana?" Kerumunan calo dan tukang ojek langsung menyerbunya begitu kakinya menapak aspal.

Aisha menggeleng lemah, menutup hidungnya yang sensitif. Bau bensin membuatnya ingin muntah lagi. Ia berjalan menjauh, menyeret kakinya yang lecet. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak punya saudara di kota besar ini. Tujuannya hanya satu: lari.

Huek!

Aisha membungkuk di dekat selokan terminal, memuntahkan cairan bening yang terasa pahit. Asam lambungnya naik drastis. Sudah dua hari ia tidak makan nasi, hanya air putih, ditambah beban pikiran yang menghancurkan sistem imun tu buhnya.

"Ya Allah..." rintihnya sambil memegang perutnya yang melilit perih. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya.

Pandangannya mulai kabur. Orang-orang yang berlalu-lalang terlihat berbayang ganda. Suara klakson bus terdengar menjauh dan menggema.

Tidak, Aisha. Kamu nggak boleh pingsan di sini. Nanti diculik. Nanti dijual, batinnya mencoba kuat.

Ia melihat sebuah musala kecil di pojok terminal. Dengan sisa tenaga terakhir, ia merang kak benar-benar merang kak karena kakinya sudah tak mampu menopang menuju musala itu.

Kembali ke Masjid Pondok Pesantren Al-Ikhlas.

Suasana hening. Sakral. Ratusan pasang mata tertuju pada meja akad.

Kyai Abdullah duduk di kursi roda, didampingi dokter pribadi. Wajahnya pu cat tapi tersenyum bangga. Di hadapannya, penghulu dan saksi sudah siap. Dan di seberang meja, Kyai Somad, ayahanda Ning Zahra, menatap Fatih dengan penuh harap.

Ning Zahra duduk di ruangan terpisah, menunggu panggilan "Sah". Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu Fatih tidak mencintainya, tapi ia bertekad untuk menjadi istri yang sholehah. Aku akan membuatmu mencintaiku, Gus. Dengan waktu dan kesabaran, janjinya dalam hati.

"Saudara Muhammad Fatih Al-Hafiz bin Abdullah," suara Kyai Somad menggelegar melalui pengeras suara.

Tangan Fatih yang dingin dan berkeringat menjabat tangan Kyai Somad. Genggaman itu terasa longgar.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Siti Zahra binti Somad, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan u ang tunai ser atus j uta rupiah, dibayar tunai!"

Hening.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Fatih terdiam. Lidahnya kelu.

Di matanya, bayangan wajah Kyai Somad berubah menjadi wajah Aisha yang tersenyum manis dengan kerudung abu-abunya.

"Gus?" bisik penghulu.

Kyai Abdullah di kursi roda mulai memegang da danya, cemas.

Jantung para hadirin berhenti berdetak sesaat. Apakah Gus Fatih akan kabur? Apakah dia akan berteriak "TIDAK"?

Fatih menarik napas panjang. Oksigen di paru-parunya terasa seperti beling. Ia melihat ayahnya yang rapuh. Ia melihat ibunya yang menangkupkan tangan berdoa.

Ia memejamkan mata, membunuh Aisha di dalam kepalanya sekali lagi. Maafkan aku, Cinta. Hari ini aku menjadi mayat hidup.

"Saya terima nikah dan kawinnya... Siti Zahra binti Somad... dengan m as kawin tersebut... tunai," ucap Fatih dalam satu tarikan napas. Datar. Tanpa em osi. Seperti robot yang kehabisan baterai.

"Bagaimana saksi? Sah?"

"SAH!"

"SAH!"

"Alhamdulillah..."

Gema kata "Sah" itu mengudara, disambut dengan doa barokah. Semua orang tersenyum lega. Bu Nyai menangis haru. Kyai Abdullah mengusap wajahnya dengan syukur.

Tapi di saat yang bersamaan...

Di emperan musala terminal Surabaya.

Tubuh Aisha ambruk. Brukk!

kira-kira aisha kenapa nih mak???

Judul ;Ketika Do'a Kita Patah

Penulis;priska1512

yuk kui langsung ke aplikasi kbm app

#lemonseru #akubahagia #yukmaribaca

1/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi seringkali mengajarkan bahwa kebahagiaan yang tampak luar tidak selalu mencerminkan keadaan hati yang sesungguhnya. Dalam kisah Gus Fatih, kita diajak memahami bahwa pernikahan, terutama ketika dipenuhi tekanan dan harapan orang banyak, dapat menjadi beban berat dan bahkan seperti 'upacara pemakaman' bagi jiwa yang hancur. Saya pernah melihat salah satu sahabat saya melalui masa-masa pernikahan yang penuh pergolakan batin yang mirip. Dia terjebak dalam situasi sosial di mana pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi juga kewajiban keluarga dan tradisi. Hal ini membuatnya tampak bahagia di luar, namun sering kali sunyi dan stres saat sendiri. Rasa seperti Fatih yang merasa kosong dan menahan sakitnya sendiri, itu nyata dan mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Selain itu, kisah Aisha yang terkapar di terminal dengan penceritaan asam lambung naik dan mual parah memberikan gambaran tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental saat menghadapi tekanan hidup. Saya juga pernah mengalami situasi di mana stres berat dan kelelahan berujung pada masalah pencernaan dan kesehatan yang menurun. Ini mengingatkan kita bahwa doa dan usaha harus berjalan seiring, serta penting untuk mencari bantuan saat merasa berat menghadapi permasalahan. Situasi di pondok pesantren Al-Ikhlas yang tampak megah dan sakral, dengan tenda putih dan emas serta janur kuning yang indah, juga mengajarkan bahwa penampilan luar tidak selalu mencerminkan kenyataan di dalam. Kadang, di balik pesta dan kebahagiaan, ada orang yang berjuang melawan depresi dan keputusasaan seperti Fatih. Kisah ini juga mengajak pembaca untuk memahami dan mendukung sahabat, keluarga, atau orang terdekat yang mungkin mengalami kesulitan batin di balik senyum mereka. Simpati, perhatian, dan kehadiran kita bisa menjadi doa yang nyata untuk mereka. Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini relevan bagi siapa saja yang sedang menghadapi pernikahan yang tidak sepenuhnya dari hati atau merasa kehampaan dalam hubungan. Menerima kenyataan, mencari dukungan, dan menjaga komunikasi terbuka adalah kunci. Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap 'pernikahan agung' atau kejadian besar, ada cerita pribadi penuh luka yang mungkin tidak terlihat. Jangan ragu untuk berbagi cerita dan mencari pertolongan agar doa kita tidak hanya terucap, tapi juga dimengerti dan dikabulkan dengan jalan yang terbaik.

Posting terkait

05
FERGYEALOOK

FERGYEALOOK

0 suka

HASIL KAMERA SAMSUNG A05S
so, what do u think? #ViralTerbaru #samsung #hasilkamerasamsung #kamerasamsung #samsunga05s
ocean

ocean

85 suka

video viral gorontalo terbaru
#BeritaHariini #videosyurgurudan #muridviral
Sadri

Sadri

116 suka

Hanasui 05 Classy tuh warnanya gimana sih? 💄
Awalnya aku beli karena penasaran sama review beauty vlogger. Ternyata warnanya pink cerah dengan hint ungu, lebih menyala dibandingkan shade Amaze 🌸 Yang aku suka, shade ini bisa meng-cover bibir gelap dan nggak bikin pucat di kulit warm tone. 🔥 Tapi karena aku pribadi kurang suka pink yang te
DailyFinds by Nana

DailyFinds by Nana

2 suka

MAKEUP LOOK WITHOUT AEGYOSAL?
Hi hi! Arin’s here~ udah lama ngga posting, kali ini cuman random makeup look tanpa bikin aegyosal 🫶🏻 products used: unleashia bye bye my blemishes concealer (peony) unleashia pink cushion (21c) judydoll contour palette (warm) OMG precise eyebrow (grey brown) clio pro eye palette (05 orchi
arin

arin

3838 suka

......'xxx
AVRIA TRYA

AVRIA TRYA

7 suka

R
#FirstPostOnLemon8 #EditanViral #fyplemon8
R

R

0 suka

#FirstPostOnLemon8
auliahyperr💋👄

auliahyperr💋👄

16 suka

Lihat lainnya