caraku didik anak supaya gak jadi korban bully ❗
terdengar kasar atau bahkan mungkin ada yg kontra sama cara didik ku. tp yang realistis aja ya, jaman sekarang jangan cuma ngajarin anak kita lemah lembut, tp ajari juga anak kita untuk bisa melawan! lawan kalau ada kejahatan yang dia rasain, apalagi kalau anak kita laki2❗ anakku dulu sering kayak di kecualiin temennya karena dia paling kecil, jd sering di ancem2, kalau lagi main bareng diluar gak di kasih ikut main minjem mainan, kadang di katain, anakku yg ga ngerti apa2 cuma bisa nangis ngadu sama aku. jadi aku skrg membiasakan supaya anakku bisa menyelesaikan masalah dia sendiri. kalau aku ikut campur, yg ada malah orangtua anak ribut, panjang urusannya. jd lebih baik anakku yg langsng lawan. aku gak ngajarin anakku jd orang jahat ya, tp aku ngajarin anakku jd orang yg kuat, orang yg berani, jadi orang2 lain segan bully atau kasar sama anak aku 😉
kalau temen2 Lemoners ID🍋 ada yang sama gak prinsipnya kayak aku? 😉🙌🏻
#AdaYangSama #LifeBingo #Lemon8Surprise #RahasiaIRT #fypシ Lemon8IRT Lemon8_ID Lemon8_ID
Menghadapi bullying di lingkungan sekitar memang menjadi tantangan tersendiri bagi anak dan orang tua. Dalam konteks mendidik anak supaya tidak menjadi korban bully, pengajaran menjadi anak yang kuat dan berani adalah hal yang sangat penting. Dari pengalaman nyata yang diterangkan, anak yang lebih kecil seringkali diacuhkan atau bahkan diserang secara verbal maupun fisik oleh teman sebayanya. Oleh karena itu, anak perlu diberikan kemampuan untuk melindungi diri sendiri secara tepat, tanpa harus menjadi agresif atau jahat. Salah satu metode efektif adalah mengajarkan anak untuk tidak takut melawan saat dihadapkan pada perilaku bully. Misalnya, jika anak tidak diajak bermain atau dikecualikan dalam kelompok, anak bisa diajarkan untuk tetap percaya diri dan memilih mundur dengan tegas tanpa merasa rendah diri. Begitu pula saat anak diberi hinaan atau dikatai, anak diajarkan untuk membalas dengan sikap yang membuat orang lain segan tanpa harus melakukan kekerasan yang berlebihan. Prinsip "kalau dipukul sekali, balas tiga kali" yang diungkapkan dalam OCR menunjukkan bahwa anak diberikan batasan untuk membela diri sehingga pelaku bully dapat memahami bahwa sikap semacam itu tidak mudah diterima. Selain itu, penting juga membimbing anak agar bisa menyelesaikan sendiri masalah sosialnya, tanpa langsung melibatkan orang tua yang bisa memperkeruh suasana dan menciptakan konflik antar keluarga. Dengan begitu, anak belajar tanggung jawab dan kemandirian sosial. Mengajarkan keberanian pada anak bukan berarti membiasakan mereka menjadi kasar atau jahat, melainkan menjadikan mereka pribadi yang tegas dan punya harga diri, sehingga sikap bully menjadi lebih sulit mengena. Orang tua juga harus peka memantau situasi sosial anak dan terus mendukung secara emosional agar anak selalu merasa dihargai dan dilindungi. Dalam era sekarang, metode ini semakin relevan karena anak-anak menghadapi banyak tekanan sosial dan potensi bullying yang bisa berdampak pada psikologis mereka. Oleh karena itu, mengajarkan anak cara mengatasi bully dengan cara yang positif dan berani adalah salah satu langkah penting dalam membentuk karakter anak yang sehat dan tahan banting.


speechless akuuu