Semua hanya titipan
Semoga kita selalu ingat kepada Allah SWT #EditanViral
Ada satu kalimat yang pelan-pelan mengubah cara pandangku terhadap hidup: dunia hanya titipan. Awalnya terdengar klise, tapi makin ke sini aku merasakan sendiri maknanya. Salah satu momen yang bikin aku mikir adalah saat memperhatikan tukang parkir di sebuah mall. Setiap hari, mobil datang dan pergi satu demi satu. Ada yang mewah, ada yang biasa saja. Tapi tukang parkir tetap tenang, nggak kelihatan iri atau sedih ketika mobil-mobil itu pergi. Kalau dipikir, mereka nggak punya satu pun dari mobil yang dijaganya, tapi justru hidupnya terlihat lebih rileks. Dari situ aku merasa, orang yang paling tenang hidupnya itu mirip seperti tukang parkir: sadar kalau semuanya cuma numpang lewat. Kalimat "dunia hanya titipan" bikin aku belajar menata ulang rasa memiliki. Rumah, kendaraan, pekerjaan, bahkan orang-orang yang kita sayang, semuanya punya batas waktu di hidup kita. Ketika kita terlalu menganggap semuanya milik mutlak, sedikit aja berubah rasanya bisa hancur. Tapi saat pelan-pelan kita terima bahwa semua ini titipan dari Allah SWT, hati jadi lebih siap saat diminta kembali. Dalam keseharian, aku coba mempraktikkan ini dengan cara sederhana. Misalnya, kalau lagi pegang rezeki lebih, aku ingat kalau ini juga titipan yang suatu saat akan diminta pertanggungjawabannya, jadi sebisa mungkin aku pakai untuk hal yang lebih bermanfaat. Saat kehilangan sesuatu, aku belajar ngomong ke diri sendiri, "Memang sudah waktunya titipan ini diambil lagi." Nggak langsung bikin hilang rasa sedih, tapi setidaknya bikin hati lebih tenang. Refleksi tentang dunia hanya titipan juga bikin aku lebih sering mengingat Allah SWT di momen kecil: ketika dapat kemudahan, aku coba ucap syukur; ketika dapat ujian, aku coba lihat itu sebagai cara Allah mengingatkanku supaya nggak terlalu melekat pada dunia. Rasanya beda banget ketika kita menjalani hari dengan kesadaran bahwa posisi kita cuma "penjaga sementara". Kalau kamu lagi merasa gelisah karena takut kehilangan, mungkin bisa coba melihat hidup seperti tukang parkir yang nggak pernah benar-benar memiliki mobil yang dia jaga. Mobil datang dan pergi, tapi yang penting dia menjalankan tugas sebaik mungkin. Kita juga begitu: jalani peran kita sebaik-baiknya, sambil mengingat bahwa dunia hanya titipan. Saat perspektif ini pelan-pelan masuk ke hati, ketenangan yang dulu terasa jauh jadi lebih dekat.






































