RIBA, Hutang Yang Mengikat Jiwa.
Banyak orang berasumsi "Riba itu wajar, yang penting bisa bayar.”
Islam justru memandang hutang sebagai perkara berat, bahkan sebelum bicara riba.
Hadis tentang Hutang
Rasulullah SAWbersabda:
“Ruh seorang mukmin tergantung oleh hutangnya sampai hutang itu dilunasi.”
(HR. Tirmidzi)
Ini bukan bahasa simbolik yang ringan.
Artinya: hutang menahan seseorang, bahkan setelah ia wafat.
Riba dalam Islam adalah tambahan (kelebihan) yang disyaratkan atau diambil pada suatu transaksi utang-piutang atau jualbeli.
Masalah riba bukan pada besar-kecilnya tambahan/ bunga , tapi pada:
Keuntungan tanpa risiko
Pemerasan kondisi terdesak
Ketimpangan kekuasaan antara pemberi dan penerima hutang
Allah berfirman:
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
Jual beli = untung karena usaha & risiko
Riba = untung karena kesulitan orang lain
Harta riba bertambah secara angka, tapi menyusut secara makna. Cukup? Tidak. Tenang? Tidak. Selesai? Tidak pernah.
Allah berfirman:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
(QS. Al-Baqarah: 276)
Riba mengubah hubungan manusia menjadi:
kreditur vs debitur
bukan
saudara vs saudara
Saat telat bayar, yang ada bukan empati—tapi denda.
**Jika Terlanjur Terjerat
Islam tidak menutup pintu:
Berhenti menambah hutang riba
Lunasi semampunya
Taubat sungguh-sungguh
Niatkan keluar, bukan berdamai
mencari sumber penghasilan yg halal untuk -
melunasi riba.
Allah Maha Mengetahui niat.
Riba bukan cuma soal uang haram,
tapi tentang cara kita memandang hidup:
Apakah segalanya harus cepat?
Apakah semua keinginan harus terpenuhi sekarang?
Atau kita masih percaya bahwa berkah lebih penting dari sekadar cukup?
Karena dalam Islam,
hidup yang berkah lebih berharga daripada hidup yang terlihat kaya.
#Hello2026 #QuotesLemon8 #MenujuL8Awards #BudeLemon8 #TipsLemon8

















































