#Demo25,28agustus2025
presiden omon-omon, bubarkan DPR
Demo yang dijadwalkan pada 25 dan 28 Agustus 2025 mengangkat isu kritis mengenai peran DPR dalam pemerintahan sekaligus menyoroti penghormatan terhadap guru di Indonesia. Dalam beberapa pernyataan yang viral, terdapat kritik tajam terhadap anggapan bahwa guru adalah beban negara. Frasa "sebandel-bandelnya anak STM tidak akan terima jika GURU di sebut Beban negara" mengindikasikan solidaritas kuat antara siswa dan guru dalam menentang stigma negatif tersebut. Isu ini mencerminkan kegelisahan masyarakat terhadap ketidakadilan sosial dan kebijakan pemerintahan yang sering tidak berpihak pada tenaga pendidik yang menjadi ujung tombak pembangunan sumber daya manusia. Selain tuntutan pembubaran DPR, aksi ini juga menjadi ajang ungkapan keprihatinan tentang moral dan integritas pejabat publik di tengah krisis kepercayaan masyarakat. Peran guru sebagai pilar pendidikan sangat vital, namun seringkali kurang mendapatkan apresiasi layak dalam hal kesejahteraan dan penghormatan sosial. Tuntutan untuk menghapus stigma bahwa guru menjadi beban negara adalah upaya memajukan penghargaan terhadap profesi pendidikan yang akhirnya berdampak positif pada kualitas pendidikan nasional. Selain itu, demonstrasi ini juga mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi terhadap kondisi politik dan sosial saat ini. Dengan adanya panggilan tegas "bubarkan DPR," warga menuntut reformasi besar-besaran yang mengutamakan transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan publik yang nyata. Demonstrasi tentu tidak sekadar mengekspresikan ketidakpuasan, tapi juga menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya moralitas dan peran guru dalam perkembangan bangsa. Semangat ini seharusnya menjadi pendorong bagi perubahan sosial yang konstruktif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk pelajar, guru, dan pemangku kebijakan.
































































