Katanya cinta tak butuh rupa
Waktu kecil, aku sering dengar kalimat, “katanya cinta tak butuh rupa”. Dulu aku iya-iya aja, tapi makin dewasa, ternyata praktiknya nggak sesimpel itu. Apalagi sekarang serba aplikasi, serba visual, semua orang berlomba-lomba tampil paling keren di foto profil. Aku pernah kenal seseorang lewat aplikasi, mirip konsep sidegigx yang mempertemukan orang-orang dengan kebutuhan tertentu. Awalnya cuma obrolan iseng, tapi kok lama-lama nyambung. Dari cara dia cerita tentang keluarganya, kerjaan, sampai kegelisahan kecil soal hidup, bikin aku merasa "klik". Padahal aku bahkan belum tahu rupa aslinya sedetail itu, cuma lihat beberapa foto yang biasa aja. Di situ aku ngerasa, cinta yang katanya tak butuh rupa itu sebenarnya lebih ke arah: rupa bukan satu-satunya penentu. Fisik tetap kelihatan, tapi bukan faktor utama buatku. Yang paling kerasa justru gimana perasaan kita nyaman jadi diri sendiri. Kalau aku bisa curhat hal paling receh sampai paling serius tanpa takut di-judge, itu nilai plus besar. Tapi jujur, godaan visual tetap ada. Di aplikasi, kita gampang banget bandingin: “Yang ini lebih cakep, yang itu lebih estetik feed-nya.” Kadang aku sendiri kejebak standar itu. Sampai suatu saat, aku ketemu orang yang tampangnya biasa aja, tapi sikapnya luar biasa: perhatian, nggak mengontrol, dan konsisten. Dari situ aku belajar, cinta yang bertahan lama lebih butuh karakter, bukan cuma wajah. Yang paling menantang adalah saat ketemu langsung. Ada rasa canggung: “Oh, ternyata dia nggak secakep bayanganku.” Tapi ketika ngobrol, ketawa bareng, lihat cara dia memperlakukan orang sekitar, rasa canggung itu perlahan hilang. Aku jadi sadar, hubungan itu nggak akan berjalan hanya dengan modal rupa. Kita butuh komunikasi, rasa saling percaya, dan kejujuran. Kalau kamu lagi kenal seseorang lewat aplikasi atau media sosial, menurutku nggak apa-apa punya preferensi fisik, itu manusiawi. Tapi jangan berhenti di situ. Coba perhatikan: apakah dia menghargai waktu kamu? Apakah dia mau dengerin cerita kamu? Apakah dia hadir saat kamu lagi nggak baik-baik aja? Pada akhirnya, “katanya cinta tak butuh rupa” itu bukan berarti fisik sama sekali nggak penting, tapi lebih ke: jangan jadikan rupa satu-satunya alasan kamu memilih atau meninggalkan seseorang. Karena ketika rupa berubah dan masa “bucin” mereda, yang tersisa adalah hati, karakter, dan komitmen kalian berdua. Dan di situ baru kelihatan, cinta kalian benar-benar cinta, atau cuma suka rupa.

































