... Baca selengkapnyaWaktu pertama baca Ronggeng Dukuh Paruk, aku cuma nangkep meronggeng itu ya sekadar menari dan menghibur. Tapi makin masuk ke halaman-halaman akhir, apalagi bagian Srintil di tahanan dan setelah keluar, aku baru sadar kalau meronggeng adalah identitas, beban, sekaligus senandung ratapan hati yang panjang.
Kalau ditanya “meronggeng adalah apa?”, buatku sekarang jawabannya bukan cuma profesi penari ronggeng. Meronggeng di Dukuh Paruk itu semacam takdir sosial. Srintil dibentuk sejak kecil untuk jadi pusat hiburan, tempat orang menumpahkan nafsu dan kegembiraan, sementara dia sendiri pelan-pelan kehilangan hak atas tubuh dan hidupnya. Meronggeng adalah panggung di mana orang lain bersorak, tapi di balik musik dan tawa, ada jiwa yang pelan-pelan terkikis.
Halaman 235 yang nyeritain ketenangan Dukuh Paruk di tengah gejolak 1964 bikin kontras banget sama nasib individu seperti Srintil. Desa seakan tenang, tapi di dalamnya ada orang-orang yang digerus zaman, terutama para ronggeng. Kearifan Sakarya soal hidup yang seimbang itu menarik banget: hidup nggak pernah lurus, selalu seperti ayunan bambu di halaman 411 – kadang di kiri, kadang di kanan, antara sukacita waktu Srintil meronggeng di malam perayaan dan duka ketika dia harus menanggung konsekuensinya.
Lirik “senandung ratapan hati” kerasa banget di bagian-bagian kelam, misalnya di halaman 305 ketika digambarkan kondisi tahanan yang nggak manusiawi. Letupan bedil, ratapan perempuan, dan hilangnya kemanusiaan terasa seperti ratapan panjang yang nggak pernah benar-benar selesai. Di situ aku ngerasa, kalaupun ada lagu, mungkin nadanya lirih dan patah, seperti jiwa yang dipaksa diam.
Yang bikin tambah miris, di halaman 355 diceritakan betapa sulitnya menyusun biografi Srintil karena dia bisu dan buta huruf. Seolah-olah sejarah orang kecil selalu ditulis orang lain, sementara pemilik kisah justru nggak punya suara. Padahal, seperti yang dibilang di bagian itu, sejarah adalah guru kehidupan. Tapi guru macam apa kalau suara korban nggak pernah terdengar, dan senandung ratapan hati mereka cuma lewat begitu saja?
Bagian paling menusuk buatku ada di dialog Srintil dengan Nyai Kartareja di halaman 385. Srintil mempertanyakan apakah pengenalannya terhadap kelelakian adalah sumber semua penderitaannya. Di sini kelihatan banget bagaimana meronggeng, yang awalnya dibungkus sebagai tradisi dan kebanggaan, pelan-pelan berubah jadi sumber trauma. Meronggeng bukan lagi pesta, tapi luka yang terus diulang.
Di ujung-ujung cerita, terutama di halaman 485 dan 491, tekanan dari Bajus benar-benar bikin hati sesak. Ancaman label PKI dan dikembalikan ke tahanan itu bukan cuma intimidasi politik, tapi juga penghancuran martabat manusia. Di titik ini, meronggeng bukan lagi kemungkinan, karena bahkan kebebasan memilih pun direbut. Senandung ratapan hati Srintil seakan nggak punya nada; cuma sunyi dan keputusasaan.
Dari semua itu, aku jadi punya cara pandang baru soal meronggeng. Buatku, meronggeng adalah cermin betapa rapuhnya posisi perempuan di tengah tradisi, kuasa laki-laki, dan kekerasan negara. Di permukaan, orang melihat tarian, gamelan, dan senyum; di baliknya ada ratapan yang panjang. Dan justru di celah-celah ratapan itulah Ronggeng Dukuh Paruk jadi guru kehidupan: mengingatkan kita supaya lebih peka pada suara-suara yang biasanya tenggelam di keramaian.