Tahun 2022 tepatnya bulan Agustus kami datang ke Siantar, dengan menjual semua barang dan harta yg kami punya,dan hanya membawa beberapa tas baju, karna waktu itu keadaan sedang sangat sulit.
3 tahun di Siantar, puji Tuhan pelan-pelan kami bisa menata kembali hidup kami dan membuka usaha kami @diakoniacateringofc
Seiring berjalannya waktu, karena tuntutan usaha, kami bisa beli beberapa barang dengan income catering, mulai juga membereskan banyak hal yg sempat tertunda dan hutang setelah usaha kami collaps dan kami menikah.
Cicil beli kulkas, kasur, perabotan dapur, kompor, dll. Bahkan catering kami hanya di mulai dengan sebuah kuali mini bekas pakai.
Sampai akhirnya Tuhan pimpin keputusan kami kembali ke Tangerang, setelah sepertinya sudah lebih kuat dan mau kerja untuk menuntaskan semua yang nggak bisa kami selesaikan dengan penghasilan di Siantar.
And again...kami kembali menjual kasur, kompor, kulkas, dll untuk ongkos kembali ke Tangerang.
Nggak banyak cerita...kami dengan sesekali rasa khawatir hanya selalu berdoa supaya Tuhan cukupkan. Karena kami percaya Tuhan tidak plin-plan. Ketika Dia say Yess untuk kami berangkat ke Tangerang, Ia juga Allah yg aetia dan benar. Mencukupkan dan memperlengkapi kami. Bahkan chat di atas sudah dtg sejak bulan September, 1 hari setelah kami menjual semua barang kami, kami mendapatkannya kembali di Tangerang dari kakak rohaniku secara cuma-cuma.
Percayakah kita bahwa Tuhan itu setia?
katakan Amen 🤗
2025/11/19 Diedit ke
... Baca selengkapnyaDalam kehidupan, sering kali kita dihadapkan pada tantangan dan masa-masa sulit yang menguji iman serta keteguhan hati kita. Kesaksian ini mengingatkan kita bahwa mujizat Tuhan masih nyata dan dapat terjadi ketika kita percaya dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Perjalanan yang dimulai dengan menjual semua harta dan pergi ke Siantar tanpa banyak membawa barang merupakan bukti keteguhan hati dalam menghadapi ketidakpastian. Keberanian untuk memulai usaha catering dengan modal yang sangat sederhana, bahkan hanya menggunakan kuali mini bekas pakai, mengajarkan kita pentingnya memulai dari apa yang ada dan percaya bahwa Tuhan akan membuka jalan.
Selama tiga tahun di Siantar, mereka perlahan membangun usaha dan menikmati hasil kerja kerasnya. Cicilan pembelian perabotan seperti kulkas, kasur, kompor, dan alat dapur lainnya menjadi tanda progres dan berkat yang mulai mengalir. Namun hidup kembali diuji dengan keputusan yang berat, yaitu menjual kembali barang-barang tersebut demi ongkos pindah ke Tangerang.
Di tengah keraguan dan kekhawatiran, doa menjadi kekuatan utama. Percaya akan kesetiaan Tuhan yang tidak berubah, bahkan ketika menjual semua yang dimiliki kembali, mereka tetap yakin bahwa Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka. Hal ini terbukti nyata ketika beberapa barang yang sudah dijual dapat diperoleh kembali secara cuma-cuma dari saudara rohani di Tangerang.
Percayakah kita bahwa Tuhan setia dan bekerja pada waktu dan cara-Nya yang terbaik? Cerita ini adalah dorongan bagi kita semua untuk tetap teguh dalam iman, berjuang dengan sabar, serta selalu membuka hati untuk mujizat yang mungkin datang dalam bentuk yang tak terduga.
Selain itu, perhatikan komunikasi yang terjadi di chat, seperti tawaran kasur dan kulkas yang diberikan secara gratis, menunjukkan betapa komunitas iman juga berperan penting dalam menopang dan memberkati sesama. Ini mengingatkan kita bahwa di balik mujizat ada tangan-tangan manusia yang dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Kesimpulannya, kisah ini menjadi inspirasi nyata bahwa dalam segala keterbatasan dan kesulitan, dengan iman, ketekunan, dan doa, kita dapat mengalami mujizat dan berkat yang melimpah. Mari terus percaya dan katakan "Amen" untuk kesetiaan Tuhan dalam hidup kita semua.