Melanjutkan pelayanan Alm. kak Josh...
Hari ini ada kesempatan kami berkunjung ke rumah om Yuchiang dan tante Wennio, mereka berdua adalah jemaat yg setia di gereja kami yg lama.
Om Yuchiang adalah seorang pedagang Siomay keliling dalam kesehariannya, tapi di gereja kala itu, beliau adalah salah satu pelayan Tuhan yang di hormati karena kesetiaannya melayani.
Dari Grand Duta Tangerang ke Lippo Karawaci datang untuk doa pagi tanpa absen jam 6 pagi di gereja, bahkan ketika tidak ada yg dtg doa pagi, mereka berdua setia baca Firman dan mendoakan ibadah hari Minggu.
Pelayanan mereka mendatangkan jiwa-jiwa kepada Tuhan, mereka mensupport beberapa jemaat dr Kedaung untuk bisa datang beribadah ke gereja dengan menyediakan angkutan umum, dan itu berlangsung bertahun-tahun. Mereka adalah gembala-gembala kecil untuk jiwa-jiwa yang mereka bawa ke gereja.
Setelah covid kami tidak bisa beribadah, dan Ps. Josh dipanggil Tuhan, kami pulang ke Siantar dan sekarang baru bisa datang berkunjung dalam keadaan tante Wennio sudah tidak se sehat dulu, karena sedang kena penyakit diabetes.
Mereka adalah teladan iman dalam kesederhanaan dan kesetiaan mereka.
Mereka di berkati dengan rumah, anak-anak yang bisa di banggakan dan iman mereka sampai kami bertemu masih tetap sama seperti dulu...
Sekarang kak Josh sudah tidak ada, tidak lagi bisa mengunjungi mereka, tapi kami melanjutkan apa yg pernah di bangunnya dulu...
Baik kak Josh dan juga keluarga om Yuchiang, menjadi contoh yg baik bagi kami.
Aku, paksu, papi dan mami senang bisa bersama melayani...❤️
Pengalaman saya pribadi sangat tersentuh dengan kisah seperti Om Yuchiang dan Tante Wennio yang menunjukkan kesetiaan dan pelayanan yang tulus kepada Tuhan serta jemaat. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang mungkin menganggap pelayanan di gereja sebagai kegiatan rutin biasa, tetapi sebenarnya itu adalah panggilan hati yang membutuhkan komitmen tinggi dan pengorbanan. Melihat bagaimana mereka menyediakan angkutan umum agar jemaat dari Kedaung bisa datang beribadah setelah melewati perjalanan jauh, saya belajar bahwa pelayanan bukan hanya soal waktu dan tenaga, tapi juga soal kepedulian yang nyata terhadap sesama. Kesetiaan mereka dalam doa pagi jam 6 tanpa absen, bahkan saat jemaat lain tidak datang, mengajarkan saya arti ketekunan dalam iman. Selain itu, kondisi Tante Wennio yang mengalami diabetes menunjukkan betapa pelayanan dan iman bukan berarti tanpa tantangan fisik maupun kesehatan. Itulah sebabnya, kesabaran dan keyakinan dalam menjalani proses itu sangat penting. Pelayanan yang dilakukan oleh keluarga seperti mereka memberikan dampak besar bukan hanya bagi gereja, tapi juga untuk komunitas di sekitarnya. Jadi, untuk yang sedang berjuang dalam pelayanan, kisah ini menjadi sumber semangat bahwa setiap usaha kecil membawa keuntungan besar bagi banyak jiwa. Saya percaya dengan melanjutkan karya pelayanan Alm. kak Josh dan teladan dari Om Yuchiang dan Tante Wennio, tidak hanya meningkatkan kualitas iman individu, tetapi juga memperkuat persatuan dan kasih dalam komunitas gereja. Ini adalah contoh nyata bahwa melayani dengan hati mengubah kehidupan dan membawa berkat.































