... Baca selengkapnyaBeberapa tahun terakhir aku sering banget ngerasa hidup berantakan. Dari luar keliatan baik-baik aja, tapi di dalam hati tuh rame: overthinking, bandingin diri sama orang lain, ngerasa gak cukup, dan kadang malu sama dosa sendiri. Sampai suatu hari aku baca satu kutipan: kita ini cuma pendosa yang aibnya masih Allah tutupi. Kalimat sederhana, tapi nusuk banget.
Sejak itu aku mulai belajar kasih nasehat ke diri sendiri pelan-pelan. Bukan nasehat yang muluk, tapi yang realistis dan bisa aku jalanin sehari-hari. Misalnya, waktu hati lagi resah, aku biasain tarik napas yang dalam, duduk sebentar tanpa pegang HP, terus jujur sama diri sendiri: "Aku lagi capek, aku lagi sedih, dan itu wajar." Dulu aku suka pura-pura kuat, sekarang aku belajar nerima kalau aku juga manusia biasa.
Tentang dosa, aku juga sering kejebak rasa malu yang berlebihan. Ngerasa kotor, ngerasa gak pantes. Tapi pelan-pelan aku sadar, rasa bersalah itu seharusnya jadi bahan bakar buat tobat, bukan buat benci diri sendiri. Aku mulai rutin minta ampun tiap malam, walau cuma dengan kata-kata sederhana. Kadang cuma bisa bilang, "Ya Allah, aku malu, tapi aku butuh Engkau." Dari situ ada sedikit ketenangan hati yang dulu gak pernah aku rasa.
Nasehat diri tentang kehidupan yang paling ngena buat aku: jangan sombong sama kebaikan sendiri, dan jangan putus asa sama dosa sendiri. Kita bukan sebaik yang orang lihat, tapi juga bukan seburuk yang pikiran kita bisikin. Ada sisi baik yang perlu disyukuri, ada dosa yang perlu diakui dan diperbaiki pelan-pelan.
Aku juga mulai batasin diri buat gak terlalu sering bandingin hidup sama orang lain. Di medsos semuanya terlihat rapi dan bahagia, padahal mungkin mereka juga punya aib dan luka yang Allah tutupi. Fokusnya aku ubah: bukan lagi "kenapa hidupku gak kayak mereka?" tapi "hari ini aku bisa jadi sedikit lebih baik dari kemarin gak?" Sekecil apa pun, misalnya lebih sabar sama keluarga, lebih jaga ucapan, atau cuma sekadar nahan diri buat gak gibah.
Kalau kamu lagi di fase nyari ketenangan hati, mungkin bisa mulai dari hal yang sama: jujur sama diri sendiri, akui kalau kita pendosa, tapi sekaligus percaya kalau pintu rahmat Allah itu luas. Nasehat diri tentang kehidupan itu gak perlu rumit; cukup jadikan setiap kesalahan sebagai pengingat, setiap kesuksesan sebagai alasan untuk rendah hati, dan setiap hari baru sebagai kesempatan buat memperbaiki diri sedikit demi sedikit.