Tallasakku’ | Ashari Sitaba
FirstPost
Hi! Aku baru di Lemon8!
Hal yang aku sukai…
Aku ingin posting…
Ketahui aku lebih lanjut
Sebagai seseorang yang tumbuh di Makassar, saya selalu merasa bangga dengan kekayaan budaya yang diwariskan oleh leluhur kita. Salah satu warisan tersebut adalah lagu daerah yang dikenal sebagai Tallasakku. Lagu ini bukan hanya melodi yang menenangkan, tetapi juga sarat dengan cerita dan makna yang dalam, mencerminkan kehidupan dan nilai-nilai masyarakat Makassar. Lirik-lirik seperti "Battu kukasia'mi," "Pa'risi'na makkale," dan "Palili sai anne Karaeng" membawa saya kembali ke masa kecil ketika saya sering mendengar lagu ini dinyanyikan oleh keluarga dan tetangga. Setiap kalimat dalam lagu ini seolah menjadi doa dan harapan untuk kebaikan dan kebahagiaan. Misalnya, kata "Pa'nganroku Karaeng" menggambarkan rasa hormat yang tinggi terhadap pemimpin atau orang yang dihormati, menunjukkan nilai kekerabatan dan rasa hormat dalam budaya Makassar. Dalam pengalaman pribadi, saya pernah mengikuti acara budaya di Makassar di mana Tallasakku dinyanyikan secara bersama-sama. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang tercipta sangat luar biasa, membuat saya merasa lebih terikat dengan akar budaya saya. Lagu ini juga sering digunakan dalam acara adat atau upacara penting, menambah kehangatan dan makna dari momen tersebut. Selain nilai budaya, Tallasakku juga mengajarkan kita pentingnya menjaga dan melestarikan warisan seni tradisional. Di era modern seperti sekarang, musik dan lagu tradisional seringkali terlupakan oleh generasi muda. Oleh karena itu, saya merasa penting untuk terus mengenalkan Tallasakku melalui berbagai media dan forum seperti Lemon8 agar semakin banyak orang yang mengenal dan menghargai lagu daerah ini. Bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang budaya Makassar, mendengarkan dan mempelajari Tallasakku adalah langkah awal yang sangat baik. Lagu ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga edukasi tentang sejarah dan nilai sosial yang membentuk identitas masyarakat Makassar hingga kini.





























