puisi film adhiatma putra
puisi film adhiatma putra " catatan delisa "
inspired by film : hafalan shalat delisa 2011
#adhiatmaputra #puisifilm #hafalanshalatdelisa #tsunamiaceh2004
Waktu pertama kali nonton film Hafalan Shalat Delisa (2011), yang paling susah kulupakan jelas adegan tsunami-nya. Bukan cuma karena visualnya yang kuat, tapi karena rasa hampa setelah ombak itu surut. Dari situ aku tergerak menulis puisi ini, mencoba menangkap suasana langit Lhoknga yang tiba-tiba sepi, seperti “kosong tujuh” yang bergaung di kepala. Bagian yang paling menempel buatku adalah hubungan Delisa dengan ibunya. Di puisi, aku membayangkan seorang ibu yang “merapal mantra-mantra tepat di dapur ruang ibadahnya”. Aku melihat sosok ibu yang tetap masak, tetap berdoa, padahal tanah di sekelilingnya sudah berubah jadi “tanah merah dari tempat yang jauh”. Suasana ini mirip dengan banyak cerita nyata para penyintas tsunami Aceh 2004; mereka kehilangan banyak hal, tapi tetap bertahan dengan doa dan rutinitas kecil di rumah. Adegan tsunami di film juga menginspirasiku menulis tentang laut yang tiba-tiba jadi asing. Di puisi, ayah “menabur asam pada laut, lalu memecah ombak, memisahkan minyak dan air mata”. Buatku, minyak itu seperti semua kenangan yang mengapung di permukaan, sementara air mata tenggelam di dasar dada masing-masing orang yang tinggal. Film Hafalan Shalat Delisa sangat kuat dalam menggambarkan bagaimana bencana bisa memisahkan ras, suku, dan keluarga, lalu menghanyutkannya “ke arah karang keberuntungan” yang jaraknya begitu jauh dari mulut pantai. Yang bikin film ini beda dari film bencana lain, menurutku, adalah fokusnya pada hafalan shalat Delisa. Di puisi aku mencoba menerjemahkannya lewat baris “seorang kanak-kanak yang tetap setia menjahit bibirnya dengan kalimat tauhid”. Di tengah gelombang besar, Delisa memeluk hafalannya sebagai jangkar. Bagian ini bikin aku mikir: seberapa kuat sebenarnya satu ayat bisa menyelamatkan seseorang dari putus asa? Kalau kamu suka adegan tsunami di film Hafalan Shalat Delisa dan ingin merasakan versinya dalam bentuk puisi, karya ini memang kucoba susun sebagai semacam “catatan delisa” yang lain. Bukan sekadar menceritakan ulang film, tapi menangkap sisa-sisa napas “pagi di langit Lhoknga” setelah ratusan ribu manusia “habis kata”. Justru di titik tanpa kata itulah, puisi dan doa pelan-pelan mengambil alih, memberi ruang bagi kita untuk mengunyah pelan-pelan luka yang belum tentu sembuh, tapi bisa diajak berdamai.
























