Kronologi:
Cahaya akhirnya mengetahui, bahwa sang papa yang terlihat masih muda dan tampan itu ternyata masih bujangan. Butuh waktu untuk mencerna semuanya, dan ia terlanjur jatuh cinta pada laki-laki itu.
●●●●●
Cahaya duduk di bangku taman yang sepi, pikirannya berkecamuk. Ia memandang lurus ke depan, namun pandangannya kosong. Sejak mendengar Zayn berbicara di telepon dengan seorang wanita, hatinya terasa sesak. Cahaya tidak tahu siapa wanita itu, dan ia tidak berani bertanya langsung pada Zayn. Perasaan cemburu dan kecewa bergelut di dalam dirinya.
Dengan air mata yang mulai mengalir, Cahaya merapatkan hijabnya, mencoba mengingat pesan Zayn sebelum ini. “Papa bilang aku harus berhijab... menutup aurat... tapi kenapa hatiku terasa terbuka lebar, terpapar rasa sakit ini?” pikirnya. Hatinya diliputi rasa tidak rela, bahwa pria yang selama ini ia panggil “Papa” mungkin sedang merencanakan pernikahan dengan orang lain. Cahaya menutup wajahnya, menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba, sebuah suara pelan dan lembut menyapanya. “Cahaya...”
Cahaya tersentak, suara yang tak asing itu milik Zayn. Ia mengusap air matanya cepat-cepat dan mendapati Zayn berdiri di depannya, menatapnya dengan lembut. Cahaya tidak tahu kapan Zayn tiba, tapi kehadirannya membuat hatinya semakin berat.
“Kenapa kamu menangis di sini sendirian?” tanya Zayn sambil duduk di sebelahnya. Tangan Zayn terulur, mengusap kepala Cahaya yang kini berhijab. Cahaya hanya bisa diam, mencoba menenangkan diri, namun hatinya masih berkecamuk.
“Aku... aku nggak apa-apa, Pa...” jawab Cahaya lirih, suaranya bergetar karena tangis yang belum sepenuhnya hilang.
Zayn menatapnya dengan tatapan yang penuh perhatian, lalu tersenyum lembut. “Papa tahu, ada sesuatu yang ingin Aya bicarakan. Jangan simpan semuanya sendiri, Cahaya. Katakan pada papa.”
Cahaya menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang kembali ingin jatuh. Namun, rasa sesak di dadanya tak bisa ia tahan lagi. Akhirnya, dengan suara serak, ia berkata, “Aku... aku nggak rela, Pa...”
Zayn mengernyit, tampak bingung. “Nggak rela? Nggak rela apa, Aya?” tanyanya pelan.
Cahaya menunduk, tak berani menatap Zayn. “Aku nggak rela kalau papa menikah dengan orang lain...” ucapnya lirih. Air matanya kembali mengalir, mengungkapkan semua perasaan yang selama ini ia simpan dalam hati. “Aku tahu ini salah, pa, aku tahu papa berhak bahagia, tapi aku... aku nggak bisa menahan rasa cemburu ini. Aku takut papa menjauh dari Aya ...”
Zayn terdiam sejenak. Wajahnya tetap tenang, namun ada rasa haru yang tergambar di matanya. Ia membiarkan Cahaya menyelesaikan semua yang ingin ia sampaikan, tanpa memotong atau memberi komentar. Zayn hanya mendengarkan dengan sabar, membiarkan Cahaya mengeluarkan semua isi hatinya.
Setelah beberapa saat, Cahaya mengusap air matanya lagi, merasa sedikit lega setelah mengungkapkan perasaannya. “Maaf, Pa, kalau aku salah. Aku cuma... aku nggak bisa nahan perasaan ini...”
Zayn tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Sudah selesai mengungkapkan unek-uneknya, Aya?”
Cahaya menatap Zayn, lalu mengangguk. Zayn tersenyum, merasa gemas melihat Aya yang bersedih itu jadi semakin terlihat imut.
Zayn kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru. Cahaya mengernyit melihat kotak itu, bingung apa yang akan dilakukan Zayn.
Zayn membuka kotak itu perlahan, memperlihatkan sebuah cincin emas yang indah dengan permata berkilau di tengahnya. Cahaya menatap cincin itu dengan terkejut. “Pa... ini apa?”
===============
Judul Novel: Bayi Perempuan di Teras Kosan
Penulis: Dian Kinanthi
KBMappOnly
Cerita yang dibagikan ini mengingatkan saya pada pentingnya komunikasi jujur dalam hubungan, terutama antara keluarga dekat. Pernah suatu saat saya menghadapi situasi serupa, merasa cemburu sekaligus bingung karena kehadiran orang baru yang tak terduga dalam keluarga. Melalui pengalaman itu, saya belajar bahwa menyampaikan perasaan dengan terbuka bisa meringankan beban hati dan membantu memperkuat ikatan. Selain itu, kisah Cahaya yang mulai berhijab dan merasakan perubahan batin juga sangat menyentuh. Proses beradaptasi dengan perubahan diri dan lingkungan sebenarnya bisa menjadi perjalanan penuh pembelajaran dan kedewasaan. Mungkin yang paling penting adalah memberi ruang pada diri sendiri untuk merasakan apa yang terjadi tanpa harus menilai terlalu keras. Bagi pembaca yang mengalami situasi serupa, jangan ragu untuk mengungkapkan perasaan cemburu atau ketidaknyamanan kepada orang terdekat. Dukungan dan pengertian bisa membantu melewati masa-masa sulit ini. Juga, jangan lupa ada banyak cara untuk menguatkan diri, seperti menulis jurnal, berbicara dengan teman, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan. Kisah ini juga mengingatkan pentingnya menjaga ikatan keluarga dengan kasih sayang, walaupun keadaan di luar tampak rumit. Dengan saling memahami dan menerima, hubungan bisa tumbuh menjadi lebih kuat dan harmonis.

