Sebuah kisah tentang istriyang sering disalahkan,

“Ibu, capek…” suara Bulan terdengar lirih, gadis kecil itu menggenggam erat jemari Hilma, langkahnya terseok-seok mengikuti.

“Iya, Nak … sedikit lagi sampai rumah, sabar ya, Bulan.” Hilma mengusap kepala putrinya dengan lembut. Nafasnya sedikit terengah karena beban di perut yang kian membesar, kantong plastik berisi kain jahitan bergoyang di lengannya.

Malam mulai sepi, lampu-lampu rumah teras tetangga dengan bohlam 5Watt terlihat redup, suara jangkrik bersahut-sahutan. Hilma menelan saliva, hatinya berdebar, bukan karena gelapnya jalanan, melainkan karena ia tahu siapa yang menunggu di balik pintu rumah kontrakan mereka.

Saat pintu dibuka, bau asap rokok langsung menyeruak. Ruangan pengap, penuh kabut tipis, Rafiq duduk di kursi reyot ruang tamu, matanya merah, tatapannya menusuk tajam. Asbak di meja penuh dengan puntung rokok.

“Jam segini baru pulang?” suaranya berat, sarat kecurigaan.

Hilma menunduk, berusaha menenangkan diri. “Tadi… jahitannya baru selesai dicek Bu Heni, Mas. Aku harus tunggu, takut ada yang salah.”

“Alasan!” Rafiq membanting rokoknya ke asbak. “Kau pikir aku bodoh, Hil? Kamu kira aku nggak tahu kalau kamu sengaja keluyuran? Siapa yang kau temui?!”

Hilma terperanjat. “Astaghfirullah, Mas … aku pulang jalan kaki, bawa Bulan, mana sempat aku ketemu siapa-siapa?”

Bulan yang ketakutan segera memeluk kaki ibunya. “Bapak jangan marah sama Ibu…”

Namun suara polos itu malah membuat Rafiq makin meledak. “Diam, Bulan! Anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa!”

“Mas, jangan bentak anak!” suara Hilma meninggi, matanya basah. “Dia cuma khawatir lihat Mas marah-marah begitu.”

“Kamu bela anakmu, tapi kamu nggak pernah bela aku sebagai suami!” Rafiq menunjuk wajah Hilma. “Aku tahu mata-mata lelaki di konveksi itu, jangan pikir aku nggak sadar, mereka suka pada perempuan hamil macam kamu, dan kamu sengaja lama di sana, kan?”

Hilma terisak, “Ya Allah, tuduhan apa lagi ini? Aku hanya kerja, demi bisa makan, kalau aku tidak ambil jahitan itu, dari mana kita bisa dapat uang?”

“Dari mana? Dari aku, suamimu!” bentak Rafiq semakin keras.

Hilma menatapnya dengan mata sembab, “Dari Mas? Mas bahkan baru saja dipecat lagi! Berapa kali, Mas? Berapa kali Mas keluar masuk kerja karena emosimu sendiri?” Hilma terisak, hatinya terasa perih, bagaimana bisa seorang suami ingin dimintai

Rafiq terdiam sepersekian detik, lalu wajahnya memerah. “Kau hina aku sekarang? Kamu ingat siapa yang menafkahi sejak awal kita menikah? Aku! Jangan kau bandingkan aku dengan perempuan murahan yang mengaku banting tulang cari duit!”

“Jangan sebut aku murahan!” Hilma menggenggam plastik kain erat-erat. “Aku tidak pernah merasa hina bekerja. Yang hina itu suami yang menuduh istrinya macam-macam tanpa bukti. Aku hanya pulang terlambat sedikit karena jalan kaki dengan perut sebesar ini, Mas!”

“Berhenti bawa-bawa alasan!” Rafiq mendekat, wajahnya merah padam, urat leher menegang. “Aku nggak suka kau keluar rumah lama-lama, kalau kau memang istri yang baik, kau diam di rumah, urus anak, tunggu aku cari nafkah!”

“Tapi kenyataannya Mas tidak cari nafkah!” suara Hilma pecah, air matanya jatuh deras. “Aku lakukan semua ini justru karena Mas! Kalau aku diam saja, kita makan apa? Bulan makan apa? Bayi dalam kandungan ini bagaimana?”

Bulan menangis keras. “Bapak… jangan marah sama Ibu… Bulan takut…”

Hilma merunduk, memeluk anaknya erat-erat. “Ssst, Nak, tenang … ada Ibu.”

Namun Rafiq malah menyalakan rokok baru, menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara. “Dasar perempuan tak tahu diri, hamil pun masih saja bikin malu suami. Aku jijik lihat kau dijamah tatapan lelaki lain.”

Hilma menggeleng kuat-kuat, ia tak habis pikir dengan sifat cemburuan Rafiq, suaranya bergetar. “Mas… demi Allah… aku tidak pernah macam-macam, kenapa Mas tega bicara seperti itu padaku?”

“Aku hanya bicara jujur!” Rafiq menepuk meja keras hingga gelas jatuh dan pecah. “Kalau kau masih berani keluar rumah seenaknya, jangan salahkan aku kalau nanti benar-benar kuanggap kau bukan istriku lagi!”

Hilma terpaku, kata-kata itu menghantam dadanya lebih kuat dari pukulan. Kakinya lemas, Bulan menjerit dan memeluk perut ibunya.

“Bapak… jangan usir Ibu… jangan…” tangis Bulan pecah.

“Diam! Pusing aku punya anak perempuan cengeng, nangiis saja kerjanya, kukira dulu anak pertamaku laki-laki, tak tahunya anak cengeng macam ini!”

Hilma hanya bisa mengelus kepala anaknya, air matanya deras. Luka itu terasa dalam, lebih dalam dari sekadar kata. Tangis Bulan berhenti seketika, sesekali tergugu karena menahan tangis.

Rafiq memalingkan wajah, rokok masih mengepul di bibirnya. Baginya, ucapan itu hanyalah luapan emosi, perkataan apa pun sah-sah saja keluar dari mulutnya. Tapi bagi Hilma, kalimat itu menoreh luka yang sulit sembuh meski waktu berlalu.

Suasana hening, hanya isakan kecil Bulan yang terdengar. Bau asap rokok menyesakkan dada, ia beranjak menuju kamar untuk mengganti pakaian Bulan dan pakaiannya sendiri.

“Ibu cuma ingin kita bisa makan besok,” Hilma berbisik lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Kenapa jadi begini…” Tangan Hilma mengusap pelan punggung putri kecilnya.

“Kalau kau masih keras kepala, jangan salahkan aku.” Rafiq telah berdiri di samping tempat ti dur, bau asap rokok turut menguar di kamar kini. “Aku lelaki, Hil … harga diriku di atas segalanya. Aku nggak mau jadi bahan tertawaan orang karena istriku keluyuran cari duit.”

Hilma mendongak, wajahnya penuh air mata. “Apa artinya harga diri kalau anak sendiri kelaparan, Mas? Apa artinya harga diri kalau istri harus menanggung hinaan setiap hari? Mas tidak rela aku pergi ambil jahitan, tapi di saat yang sama, mas tidak memberiku uang untuk belanja, untuk beli rokok setiap hari ada, tapi untuk beli susu anak mas bilang sabar dulu.”

Rafiq tak menjawab, ia menoleh sekilas, lalu melangkah keluar kamar, pintu dibanting keras hingga membuat dinding bergetar.

Bulan masih terisak. “Ibu, kenapa bapak marah terus?”

Hilma menarik napas panjang, meski dadanya terasa sesak. Ia mencium kening putrinya. “Bapak sayang sama kita, Nak. Hanya saja… Bapak belum tahu bagaimana caranya.”

Bulan menggeleng kecil, matanya sembab. “Tapi Bapak bikin Ibu nangis…”

Hilma menahan tangisnya. “Sudah, Bulan … jangan banyak berpikir, tidur ya, sayang. Besok kita masih harus ke konveksi lagi.”

Anak itu akhirnya terlelap di pangkuan ibunya, dengan sisa isak tertahan. Hilma mengelus rambutnya, sementara pandangannya kosong menatap pintu kamar yang tertutup rapat.

Malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya ketika Rafiq marah, rumah kontrakan kecil mereka menjadi saksi luka yang dibungkus selendang sabar seorang perempuan. Asap rokok, tangis anak, dan kata-kata suami yang menyayat bercampur menjadi beban yang tak mudah dihapus. Hilma tahu, perjalanan hidupnya dengan Rafiq tak akan mudah. Dan malam itu hanyalah awal dari badai panjang yang harus ia lalui.

Hilma ditinggalkan dengan ancaman Rafiq yang menganggapnya bukan istri lagi jika ia terus bekerja.

====================

Judul Novel: Perwmpuan Berselendang Luka

Penulis: Dian Kinanthi

Novel KBM App Only

2025/10/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seorang istri yang juga tengah mengandung, Hilma menghadapi tantangan berat dari suaminya yang selalu mencurigai dan menyalahkan tanpa alasan jelas. Dari pengalaman ini, saya merasa bahwa banyak istri lain yang mungkin mengalami hal serupa—merasa dituntut untuk selalu membuktikan kesetiaan dan kerja kerasnya tanpa mendapatkan dukungan yang seharusnya. Dalam situasi seperti Hilma, penting sekali untuk menjaga komunikasi terbuka dan saling pengertian antara pasangan. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana tekanan dari salah sangka pasangan dapat membuat hati terasa sangat terluka, apalagi ketika berjuang sendiri untuk menghidupi keluarga. Yang paling menyedihkan adalah ketika seorang istri tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga mental menghadapi tuduhan yang tidak berdasar, sementara suami yang diharapkan menjadi pelindung malah menjadi sumber luka. Saya belajar bahwa membangun sebuah rumah tangga bukan hanya soal materi, tapi juga saling percaya dan menghargai jerih payah satu sama lain. Selain itu, keadaan Hilma yang hamil besar sambil berjuang mencari nafkah menambah beban yang sangat berat. Kondisi seperti ini mengajarkan saya dan mungkin banyak pembaca, bahwa kesetiaan dan pengertian suami sangat diperlukan, terutama saat istri berusaha keras di tengah keterbatasan dan kesulitan. Kisah ini juga membuka mata kita bahwa terkadang harga diri suami yang terluka dapat membuatnya bersikap kasar dan menyakitkan. Namun, dari pengalaman tersebut, saya percaya bahwa komunikasi yang baik dan kesabaran adalah kunci untuk memperbaiki hubungan dan menyelesaikan konflik. Mari kita belajar dari cerita Hilma, agar setiap pasangan bisa saling mendukung dan memahami, sehingga keluarga tetap harmonis dan istri merasa dihargai bukan disalahkan terus-menerus.