Kalo sedih berarti cinta ðŸ˜
Ramadhan pergi, kita pun bersedih. Dan ini salah satu ciri-ciri orang sholeh.#CeritaLebaran
Mengalami kesedihan saat Ramadhan berakhir memang sesuatu yang umum dirasakan oleh banyak orang, terutama mereka yang sangat mencintai dan menghargai bulan mulia ini. Dari pengalaman pribadi, perasaan sedih itu sebenarnya bukan hanya sekadar kesedihan biasa, melainkan bentuk rasa kehilangan akan waktu dan kesempatan yang penuh berkah. Dalam kitab 'La Taiful Ma'arif,' Imam Ibnu Rajab Al Hambali mengungkapkan bahwa seorang mukmin yang tidak menangis saat berpisah dengan Ramadhan dianggap belum merasakan kedalaman makna bulan suci itu. Hal ini karena mereka menyadari bahwa tak ada jaminan bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Kesedihan itu bukan tanda kelemahan, melainkan rasa cintanya yang tulus kepada Ramadhan dan amal kebaikan selama bulan tersebut. Saya pernah merasakan betul betapa beratnya melepas Ramadhan, bahkan sampai menangis karena takut tidak cukup beramal atau kehilangan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah. Para ulama pun menyarankan agar kita menjaga semangat Ramadhan sepanjang tahun agar tidak 'keluar dari Ramadhan' begitu saja ketika bulan suci tersebut pergi. Misalnya, melanjutkan kebiasaan sholat malam, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak dzikir. Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa kesedihan saat Ramadhan pergi adalah panggilan untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Ini membantu saya lebih menghargai setiap detik kesempatan beribadah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, jatuh cinta pada Ramadhan dan merasa sedih melepasnya adalah bagian dari perjalanan spiritual yang menguatkan iman dan taqwa kita.