Ketika anak sakit, rewel, menangis tak henti tapi tidak ada yg bisa ku lakukan. Ditengah tangisannya aku hanya bisa terbaring tak berdaya. Rasanya jadi hari paling berat dalam hidup aku😭
Aku cuma bisa memandangnya dari jauh, melihat anakku di gendong sama tetangga yg ku titipin. Dan aku cuma bisa menangis dalam hati.
Aku nggak bisa memeluknya, nggak bisa menenangkannya, atau sekedar mengusap keningnya.
~~~
Buat semua Ibu diluar sana yg sedang berjuang dengan sakit atau keterbatasan, percayalah..
kita mungkin nggak bisa gendong anak kita, tp doa kita nggak pernah putus
Cinta seorang Ibu nggak akan pernah berkurang, walau keadaan memisahkan pelukan❤
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali anakku sakit cukup berat sampai harus diinfus, jujur aku bukan cuma takut soal kondisi dia, tapi juga bingung sama kondisiku sendiri yang lagi lumpuh. Di kepala terus muter kalimat: "Aku harus gimana? Anak sakit, nangis rewel, tapi keadaanku lumpuh…" Rasanya seperti jadi ibu yang gagal.
Pelan-pelan aku belajar, kalau keadaan badan boleh lumpuh, tapi hati dan doa seorang ibu nggak pernah lumpuh. Aku mulai cari cara buat tetap hadir, walau nggak bisa banyak gerak. Misalnya:
1. Tetap komunikasi sama anak
Walau cuma bisa tiduran, aku berusaha ngajak dia ngobrol pelan, nyanyi pelan dari jauh, atau sekadar bilang, "Adik kuat ya, ibu di sini temenin." Ternyata suara ibu saja kadang cukup bikin anak sedikit lebih tenang.
2. Minta bantuan tanpa merasa rendah diri
Dulu aku gengsi banget minta tolong tetangga atau keluarga buat gendong, jagain, atau temenin anak di rumah sakit. Tapi kondisi memaksaku belajar merelakan. Aku mulai berani chat teman, WA keluarga dengan jujur, "Maaf slow respon, aku lagi sakit dan fokus jagain anak yang lagi sakit juga." Dari situ aku sadar, orang-orang lebih pengertian daripada yang kubayangin.
3. Pakai foto atau gambar untuk jelasin kondisi
Sewaktu nggak kuat ngetik panjang, aku kadang kirim gambar anak sedang sakit atau foto gelang rumah sakit ke grup keluarga dengan caption singkat, biar mereka paham kenapa aku nggak seaktif biasa. Bukan buat cari iba, tapi supaya orang tahu aku lagi butuh dukungan.
4. Jaga mental diri sendiri
Melihat anak sakit sementara diri sendiri nggak berdaya bisa bikin mental drop banget. Aku sempat nangis tiap malam, merasa paling hancur. Tapi aku mulai coba hal-hal kecil: dengerin murottal, podcast parenting, atau curhat di catatan pribadi. Ternyata menulis curhatan hati bikin beban sedikit berkurang.
5. Bikin kata-kata penguat buat diri sendiri
Aku bahkan pernah jadikan kalimat penguat sebagai dp WA: "Slow respon, lagi berjuang sama sakit" atau "Maaf kalau jarang balas, lagi fokus nemenin anak yang kurang sehat." Hal sesimpel itu bikin aku ingat kalau aku lagi berjuang, bukan menyerah.
Kalau kamu sekarang lagi di posisi yang mirip—anak sakit, kamu sendiri juga sakit atau terbatas—tolong jangan terlalu keras sama diri sendiri. Gambar-gambar anak di ranjang rumah sakit, infus kecil di tangan mereka, itu memang bikin hati remuk. Tapi bukan berarti kamu ibu yang gagal hanya karena nggak bisa selalu menggendong atau menenangkan secara fisik.
Ingat: doa kamu yang pelan, air mata yang kamu tahan, dan usahamu mencari bantuan itu juga bentuk kasih sayang. Cinta seorang ibu nggak diukur dari seberapa kuat tubuhnya, tapi seberapa tulus dia berjuang dalam kondisi apa pun. Kamu nggak sendirian. Banyak ibu lain di luar sana yang juga pernah ngerasa sehancur itu hatinya, tapi kita pelan-pelan belajar bangkit bareng.
semngat ya kak, semoga lekas sehat kaka dan dede.a,tmen q jg ada yg kena tbc tulang blakang bisa sembuh normal lg 🥺