Dulu paksu JEONaedi gamau menikah. Dalam otaknya kalau nikah itu pasti bebannya bertambah banyak dan susah untuk bagi waktu dengan keluarga. Karena orang Korea budaya kerjanya yang keras , dan lingkungannya jg mendukung untuk tidak menikah wkwk. Sampe akhirnya ketemu eomma , pemikirannya jadi lebih terbuka tentang berkeluarga dan menikah . Hal yang ia takuti kalau menikah dan berkeluarga adalah tidak bahagia . Tapi ternyata semua itu salah , setelah menikah hidup makin bahagia . Ada hari di tempat kerja banyak beban, tapi pas pulang ke rumah rasa beban itu hilang setelah lihat anak dan istri.
Pas nikah juga takut punya anak karena takut ga bisa urus. JEONaedi paling takut ga bisa jadi ayah yang baik. Eh ternyata sekarang JiA paling sayang sama appa nya 😆
Pengalamanku bersama suami Korea yang sebelumnya skeptis tentang pernikahan sangat menarik. Dalam budaya kerja Korea yang sangat keras, banyak pria memilih tidak menikah karena khawatir kesulitan mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga. Namun, pertemuan suamiku dengan eomma menjadikan pandangannya berubah. Ia mulai terbuka soal pentingnya keluarga, dan kekhawatiran bahwa menikah akan membawa ketidakbahagiaan ternyata salah besar. Setelah menikah, suamiku justru merasakan kebahagiaan yang lebih dalam hidupnya. Meskipun di tempat kerja ia menghadapi berbagai tekanan, bayangan akan keluarga dan anak yang menantinya di rumah memberikan kekuatan dan penghiburan. Kekhawatirannya untuk menjadi ayah yang baik berubah menjadi cinta besar terhadap anak kami. Cerita ini mengajarkan saya betapa pentingnya memahami dan mendukung pasangan dalam menghadapi budaya dan tekanan sosial yang mungkin berbeda dengan kita. Bagi yang memiliki pengalaman serupa atau sedang menghadapi dilema serupa, ketahuilah bahwa perubahan pikiran dan kebahagiaan keluarga sangat memungkinkan dengan kesabaran dan dukungan.
