Salah satu kebiasaan orang tua yang membuat anak m

Hayooo siapa disini yang kaya gituuu bunda-bunda?? siapa nih yang sebenernya tau anak bunda melakukan kesalahan tapi malah bunda belaaa?? Jangan ya bun jangan...

Jadi aku mau cerita yang aku lihat secara langsung aja ya bun yang terjadi disekitar aku.. Jadi salah satu tetangga ku itu tuh ada anak yang laga-laga suka bullying anak-anak lain gitu loh bun, bahkan anak ini tuh pernah nyuri gitu dirumah tetangga tapi malah dibela sama ibunya, padahal kan keluarga nya ini berada gitu loh.. anaknya itu galak, so berkuasa, pokonya anaknya itu tipikal yang sok gue banget gituu, padahal anak ini cewe... Udah sering banget anak ini kena tegur orang-orang sekitar sini, masalahnya yah dia suka ganggu anak-anak lain bahkan di sekolah pun katanya anak ini suka ganggu anak lain dan berlaga sok gitu.. Nah setiap anak ini ditegur guru, atau orangtua anak-anak yang diganggu dia, ibunya ini selalu membela anak ini.. Ibu nya selalu jadi memutar balikan fakta dan menuduh si korban anaknya itu, yang mengganggu anak dia. Jadi anaknya begitu tuh karena melawan, belanya.. Disekitar rumah pun begitu, anaknya selalu mengganggu anak-anak lain tapi setiap ditegur oleh orang dewasa, si anak ini malah ngelawan dan bilang dia ga salah.. padahal jelas-jelas orang-orang disekitar sini sering lihat dia ganggu bully malak anak-anak sini.. Setelah ditegur ke orangtuanya juga dia selalu dibela oleh ibunya dengan sama memutar balikan fakta dan malah pengen si korban atau orangtua nya si korban yang minta maaf sama mereka.

Lalu aku ada cerita satu lagi, kalo ini terjadi sama diri aku sendiri ya, yaitu si suami, jadi si suami ini dari kecil oleh orangtuanya selalu dimanja dan kalo pun dia melakukan kesalahan meskipun mereka tau itu salah orangtua si suami tetap membela dan melindungi si suami, dan yah gitu selalu memutar balikan fakta mencari-cari kesalahan orang lain dan menjadikan anaknya/si suami ini dari pandangan mereka tuh jadi korban, padahal sebenernya anak mereka ini yang memang jahat.

Pernah ada satu kejadian, jadi si suami ini kan kerja di home Productions punya om nya. Nah suatu hari si suami tuh ditegur om nya karena di suruh beli minum sama karyawan lain dan si suami dengan nada sombongnya bilang ga mau (seakan kaya ga mau disuruh-suruh gitu sama karyawan lain mentang-mentang ponakan bos/omnya) Nah akhirnya si karyawan itu ngadu dan si om ini bilang sama orangtua nya si suami. Tapi sama orangtua si suami ini, malah dibela, dan malah jawab (ah, ngada-ngada itu karyawan kamu pasti dia bohong, dan pengen jelek-jelekin anak saya) Padahal si om nya aja udh tau sifat si suami aku ini. Dan udh tau juga sifat karyawan-karyawan nya semuanya. Dan si om nya ini lebih percaya sama karyawan nya yang udh lama kerja sama dia dibandingkan keponakannya yang baru-baru kerja..

Gitu deh bun contohnya, jadi kalo anak kita dari kecil selalu dimanja dan dibiasakan selalu dibela kalo salah, sampai dia besar dan berkeluarga pun akan terus berprilaku jelek seperti itu, bahkan ketika anaknya melakukan salah pun didepan mata kedua orangtuanya, mereka malah akan memutar balikan fakta dengan cari-cari kesalahan mantunya😌

CkCkck jangan jadi mertua dan orang tua yang seperti itu ya buuunnn.. jangaaaannn😌 🙏

Segitu dulu, sampai jumpa lain waktu.. Terimakasih 🙏🥰

#TentangKehidupan #DigitalDiary #POVOrangTua #PerasaanKu #RelateGak

2025/11/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaKebiasaan orang tua yang selalu membela anak ketika mereka melakukan kesalahan memang seringkali dimaksudkan sebagai bentuk perlindungan dan kasih sayang. Namun, jika ini dilakukan secara berlebihan, dampaknya bisa sangat merugikan perkembangan karakter dan mental anak. Ketika anak terbiasa selalu dibela setiap kali mereka salah, tanpa diajarkan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, anak dapat mengembangkan gangguan kepribadian seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD). Ini berarti anak tumbuh dengan perasaan bahwa mereka tidak pernah salah dan selalu benar, sehingga perilaku buruk seperti membully, berbohong, atau mencuri dapat terus berulang tanpa adanya rasa malu atau penyesalan. Fenomena ini seringkali juga memicu konflik sosial, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Anak dengan karakter toxic ini cenderung sulit berempati, sering membolak-balik fakta untuk keuntungan diri sendiri, dan jika dikoreksi, mereka malah menyalahkan pihak lain. Hal ini dapat menyebabkan hubungan yang rusak antara anak dengan orang lain, termasuk saat mereka telah dewasa dan berkeluarga. Selain itu, perilaku orang tua yang membela anak tanpa evaluasi juga menimbulkan tekanan bagi lingkungan sekitar yang sering menjadi korban atau saksi dari tindakan anak. Orang tua yang terlalu membela anak dapat membuat situasi menjadi semakin rumit karena pihak korban merasa tidak dipihak, sementara pelaku tidak mendapatkan konsekuensi yang membangun. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menerapkan disiplin yang konsisten dan adil. Menjelaskan pada anak kesalahan yang mereka buat, menyuruh mereka bertanggung jawab, serta memberikan konsekuensi yang sesuai adalah bagian dari proses pendewasaan yang sehat. Orang tua tidak boleh membutakan diri dengan membela anak tanpa alasan jelas, karena hal itu justru akan merugikan anak itu sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Dukungan emosional tetap harus diberikan, namun disertai dengan pendidikan karakter yang mengajarkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak sangat diperlukan agar anak merasa nyaman untuk mengakui kesalahannya tanpa takut dihakimi namun sadar pentingnya memperbaiki diri. Mendidik anak bukan sekadar melindungi dari kesalahan, tetapi bagaimana anak belajar dari kesalahan tersebut agar menjadi manusia yang lebih baik di masa depan. Dengan kesadaran ini, diharapkan pola asuh yang lebih sehat dapat diterapkan, mencegah terciptanya pribadi toxic dan konflik keluarga yang berkelanjutan.

Cari ·
style anak laki laki usia 4-5th