Antara Aku dan Goodreads, Blog, juga Medsos

Buka-buka lagi akun Goodreads yang udah lama banget kucuekin. Aku sekarang baru nyadar something.

Jadi ceritanya, aku udah punya akun Goodreads tuh luamaaaaa banget. Era-era aku masih kinyis-kinyis lah ya. Kalau dihitung mundur dari tahun ini, lebih dari 10 tahun.

Tapi, entah apa alasannya dulu, kudiamkan akun itu dalam masa yang panjang. Kubiarkan. Jadinya lupa deh bertahun-tahun kemudian.

Di masa "lupa" itu ... aku memindahkan beragam pengalaman baca bukuku ke blog Taman Rahasia Cha, blog personalku. Kubuatkan label alias channel alias rubriknya sendiri. Di sana, aku bisa cerita panjaaanggg banget.

Perlahan dan berproses sih. Tadinya kayak ngasal aja nulisnya. Tanpa format yang bikin nyaman dibaca lagi beberapa tahun kemudian. Nggak merhatiin detail apalagi kepikiran masukin informasi bukunya. Curhat lepas aja. Dan tulisanku blog itu jadinya ... terlalu "gaya bebas".

Sekarang ... sebab sudah merasa makin butuh untuk me-recall kembali rasa dan kenangan sepanjang menamatkan buku-buku itu, akhirnya segalanya kuperbaiki.

Nggak bisa mundur lagi ke tulisan yang lalu karena feel-nya udah nggak teraba. Jadi, tetap kulanjutkan dengan memperbaiki outline-nya.

Lalu, ketika aku kembali lagi membuka ruangan tenangku di Goodreads ... boom! Demi apa, berantakan banget. Ya ampun ....

Momen itu menyentilku. Membawaku bergumam, ternyata aku dulu sejelek ini yaaa cara curhatin buku bacaannya.

Ada lagi poin-poin lainnya yang bikin aku berasa tertabok. Dulu aku udah pernah baca buku apa aja sih? Saking di Goodreads, cuma ngasih bintang dan sekalimat dua kalimat doang. Beneran cuma jadi jejak-jejak tanpa catatan pengingat biar memori rasa habis bacanya balik.

Nggak apa-apa. Kupilih untuk memulai kembali, dengan catatan tetap menjalankan yang sudah lebih dulu kutekuni di blog pribadiku itu.

Soalnya, manfaatnya lebih berasa di aku setelah buku-buku bacaanku itu kucurhatin di blog. Plus, kubikinin akun IG khusus juga lagi.

Selain untuk nyemangatin diri sendiri biar terus menikmati momen baca. Aku jadi bisa punya stok foto dari buku yang pernah kutamatkan. Lumayan buat nyenengin diri sendiri sih. Sudah begitu, sekarang kalo penasaran pernah baca apa, jadi bisa dipanggil lagi memorinya.

Kalau kamu, masih setia mainan Goodreads? Atau kayak Ka Acha nih, bikin label baca tersendiri di blog? Atau malah kamu suka ceritain momen baca bukumu di platform medsos aja?

#readerlife #lovebook #reader #bookblogger

1/25 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSaat saya mulai serius merefleksikan pengalaman membaca, saya menyadari pentingnya mencatat setiap detail bacaan untuk menjaga kenangan dan perasaan yang muncul saat membaca. Sama seperti pengalaman yang dibagikan dalam artikel, dulunya saya hanya memberikan rating singkat tanpa catatan mendalam di Goodreads. Akibatnya, ketika ingin mengingat kembali, saya merasa kehilangan banyak detail penting. Seiring waktu, saya mencoba memanfaatkan blog pribadi untuk menulis review lebih lengkap dan mendetail. Di blog, saya bisa mengekspresikan perasaan dan opini saya dengan bebas, serta membuat kategori khusus untuk tiap jenis buku yang saya baca. Ini membantu saya mengatur pengalaman membaca secara sistematis sambil tetap menikmati prosesnya. Tidak hanya itu, saya juga membuat akun media sosial khusus untuk berbagi momen membaca saya dengan komunitas yang lebih luas. Dengan cara ini, saya mendapatkan semangat baru dari interaksi dengan sesama pembaca dan sekaligus menyimpan koleksi foto buku sebagai dokumentasi pribadi. Bagi para pembaca yang masih aktif di Goodreads, blog, atau media sosial, penting untuk memilih platform yang paling nyaman dan bermanfaat untuk diri sendiri. Kuncinya adalah konsistensi dalam menulis dan berbagi pengalaman, sehingga setiap buku yang telah dibaca memiliki ciri khas kenangan tersendiri yang mudah diakses kapan saja. Saya sendiri merasa cara-cara ini sangat membantu untuk terus meningkatkan kualitas pengalaman membaca, membuatnya lebih berarti, dan juga sebagai motivasi untuk terus membaca lebih banyak buku. Jadi, tak hanya sekadar membaca, tapi juga mengabadikan perjalanan membaca sebagai bagian dari kehidupan yang berharga.