Suka baca dan senang cerita-cerita di blog maupun ngefiksi, ternyata membawaku menjalin pertemanan kemana-mana. Melintasi segala ruang dan tempat. Jauh ... jauh dari yang kuduga sebelumnya.
Rupanya lewat kesukaanku membaca buku, lalu meningkat jadi rasa ingin lebih banyak berbagi kisah melalui tulisan, menghancurkan dinding batas dari ruang jelajahku di realita. Lalu ... satu demi satu, aku menemukan teman baru. Jalinan yang tercipta sebab menemukan frekuensi yang sama.
Pernah, aku dibuat terharu luar biasa. Seorang kakak penulis senior yang sudah melahirkan banyak karya, pada satu novelnya, menuliskan namaku di laman ucapan sayangnya. Akarui Cha, benar-benar tercetak di sana.
Kala itu aku tanpa sadar meneteskan airmata. Buncah dadaku penuh oleh rindu akan perbincangan kami secara tatap muka yang tergolong langka. Biasanya hanya memanfaatkan teknologi dunia maya demi menyambung tali keakraban. Aku adiknya, ia kakakku.
Begitulah rupanya efek samping dari beragam bacaan yang kubaca. Disusul dengan tulisan-tulisan ringan yang lahir kemudian.
Pada akhirnya aku tersadarkan. Membaca dan menulis yang katanya kegiatan paling sunyi dan pas bagi si penyendiri, ternyata nggak begitu juga ya. Kalau sudah jumpa sama yang punya kesukaan sama, bisa mendadak cair dan rekat serasa teman lama.
Apa pengalamanmu dengan teman-teman yang juga suka baca atau bercerita lewat tulisan? Seluar-biasa apa?
By the way Dears, gambar cuma pemanis ya. Dan ... buku -- yang memuat cerita Ka Acha ini -- masih bisa didapat lewat nyolek timnya komunita Buku Berjalan. 🥰
... Baca selengkapnyaPengalaman saya yang juga mencintai dunia membaca dan menulis menunjukkan betapa kuatnya ikatan yang bisa terbentuk lewat kegiatan ini. Awalnya, saya hanya seorang pembaca yang menikmati kisah-kisah di buku dan blog; namun seiring waktu, rasa ingin berbagi cerita membuat saya mulai menulis. Bahkan hanya dengan tulisan ringan, saya bisa menyapa dan mengenal banyak orang baru yang ternyata punya minat yang sama.
Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana dunia maya menjadi jembatan yang luar biasa dalam membangun persahabatan. Melalui tulisan, saya tidak hanya bertemu pembaca, tetapi juga penulis lain yang menginspirasi. Ada perasaan hangat saat mengetahui nama kita bahkan tercantum dalam ucapan terima kasih di karya mereka, yang membuat hubungan terasa sangat personal dan bermakna.
Bagi saya, membaca dan menulis bukan hanya aktivitas tunggal yang dilakukan sendiri, tetapi sebuah cara menjalin komunikasi dan membangun komunitas. Kita bisa saling bertukar inspirasi, dukungan, dan bahkan kritik membangun yang memperkaya kualitas karya kita.
Tidak hanya itu, jaringan pertemanan yang terjalin dari hobi ini juga terbukti bisa melintasi batas geografis dan budaya. Saya sering terkejut saat menemukan teman baru yang berasal dari kota atau negara berbeda, tapi memiliki passion yang sama. Ini membuktikan bahwa kisah yang diangkat lewat tulisan memang punya kekuatan menciptakan frekuensi yang menyatukan.
Bagi Anda yang sedang menekuni dunia membaca dan menulis, jangan ragu untuk membagikan karya Anda dan bergabung dengan komunitas seperti Komunita Buku Berjalan. Selain memperluas wawasan, Anda juga bisa menemukan saudara baru yang siap menemani perjalanan literasi Anda. Jadi, membaca dan bercerita ternyata bukanlah aktivitas yang sunyi, melainkan gerbang menuju pertemanan yang hangat dan penuh makna.