Nyesek Banget Baca Buku Ini
Ada banget nyesek dan lelah hatinya sepanjang baca buku ini. Pantas aja sampe muncul gerakan gender equality yang deras banget di negeri seberang sana itu.
Saking kaum laki-laki diistimewakan segitunya dalam keluarga. Di sisi lain kaum perempuannya pun ikut-ikutan mewariskan perlakuan yang sama.
Ujungnya, generasi selanjutnya yang sadar adanya ketimpangan rasa secara sosial itu deh yang nanggung. Antara mau marah sama pikiran Kim Ji Yeong tapi mau meluk dia juga deh jadinya.
#kimjiyeong #readerlife #bookish #reviewbuku #currentlyreading
Membaca buku yang mengeksplorasi kehidupan perempuan di tengah sistem patriarki seperti yang dialami oleh Kim Ji Yeong, memang meninggalkan rasa nyesek tersendiri. Dari pengalaman pribadi, saya menemukan bahwa pengaruh budaya dan tradisi yang menempatkan laki-laki lebih diistimewakan menciptakan efek domino yang sangat meresahkan. Penting untuk menyadari bahwa tidak hanya laki-laki yang mendapat perlakuan khusus, tapi perempuan juga sering kali tanpa sadar melanjutkan pola yang sama, entah karena tekanan sosial ataupun pembiasaan turun-temurun. Sistem yang mengunci perempuan dalam posisi subordinat ini membuat banyak di antara kita merasa lelah, bahkan ada rasa putus asa saat menatap kondisi sosial yang tampaknya sulit diubah. Namun, inilah titik di mana gerakan kesetaraan gender menjadi sangat krusial – sebagai upaya kolektif untuk mengubah pola pikir dan struktur sosial yang timpang. Dalam membaca, saya sangat terkesan dengan banyaknya data dan referensi yang mendukung kisah hidup perempuan Korea yang terjebak dalam patriarki sistemik. Ini bukan hanya cerita fiksi atau pengalaman satu individu, tapi sebuah cerminan nyata yang terjadi di masyarakat. Semakin paham saya tentang hal ini, semakin kuat pula dorongan untuk berdiskusi dan mengadvokasi perubahan. Bagi pembaca yang mungkin mengalami hal serupa di lingkungan mereka, penting untuk mulai membuka dialog tentang ketimpangan gender, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam ruang publik. Pengalaman saya sendiri menunjukkan bahwa dengan sharing cerita dan memahami perspektif satu sama lain, kita mulai membangun kesadaran kolektif yang diperlukan untuk perubahan. Jangan sungkan juga untuk menghubungkan perjuangan ini dengan konteks di negara kita sendiri. Apakah ada kemiripan? Bagaimana kita bisa belajar dari gerakan perempuan di Korea dan menerapkannya sesuai dengan kondisi lokal? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa menjadi titik awal bagi setiap individu untuk ikut serta dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan setara.