Ketika Tiba di Halaman Ke-100
Tiba di halaman ke-100 dari buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, membawaku ke hal-hal relate begini.
Perlu ditekankan, kalau "buku ini BUKAN buku self-help". Buku ini hadir untuk ngasih kita pengalaman yang Baek Se Hee alami sepanjang duduk dengan psikiaternya di ruang konseling.
#currentlyreading #iwanttodiebutiwanttoeattteokpokki #baeksehee #mentalhealthbook
Membaca hingga halaman ke-100 buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki memberi saya pengalaman pribadi yang sangat mendalam. Buku ini memang bukan sekadar panduan self-help, melainkan pembuka mata tentang bagaimana seseorang berjuang dengan pergulatan batin melalui sesi konseling. Saya merasa sangat relate saat membaca poin-poin yang dicatat, seperti rasa kecewa yang bertahan lama terhadap hidup, standar hidup yang tidak dibuat-buat oleh tekanan media sosial, hingga perasaan kurang baik tentang diri sendiri yang kerap muncul. Ini adalah hal-hal yang sering saya alami dan lihat di sekitar. Tidak hanya itu, bagian mengenai kesulitan untuk 'fit in' di lingkungan kampus atau kantor juga sangat menyentuh. Kadang kita merasa berbeda dan bertanya-tanya apakah perasaan itu memang real atau hanya persepsi kita sendiri. Buku ini secara halus mengajak pembaca untuk memahami dan menerima pergumulan tersebut tanpa merasa sendiri. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa kesehatan mental adalah perjalanan panjang dan personal. Membaca kisah Baek Se Hee yang duduk di ruang konseling, berbicara dengan psikiater, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana terapi bisa menjadi jalan keluar untuk memahami diri lebih baik. Saya menyarankan buku ini terutama untuk mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang perjuangan mental dan mencari penghiburan melalui kisah nyata, bukan sekadar teori self-help. Setiap halaman membuahkan refleksi yang kaya dan membantu kita lebih memaknai kehidupan dan kesehatan mental secara lebih manusiawi.





















