Bacha Santai : I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Salah satu rasa yang mungkin akan dicicipi oleh pembaca, yaitu EMPATI pada tokoh yang dihadirkan oleh buku yang tengah kita pangku. Kamu suka ngerasa begitu?
To be honest, hampir aja buku ini DNF (Do Not Finish) di tanganku, Dears. Ada perasaan campur aduk yang kucecap sepanjang membalik tiap halamannya.
Sebenarnya, buku yang -- bisa jadi -- dipopulerkan oleh Kim Nam Joon a.k.a RM BTS ini tuh, hanya menghadirkan POV ketika seorang pasien depresi menahun alias distimia, duduk berdua dengan psikiaternya di ruang konsultasi. Sesuatu yang kebanyakan bikin orang awam -- like Ka Acha of course -- penasaran.
Apalagi, buku ini berupa esai memoar dari penulisnya. Merekam perjalanan Baek Se Hee menyembuhkan dirinya melalui bantuan tenaga profesional.
Tapi ... sepanjang membaca, pikiran Ka Acha jadi ribut sekali. Bukan lagi jadi sosok yang ikut duduk mendengarkan perbincangan si pasien dan psikiaternya di dalam ruangan, melainkan turut mempertanyakan keadaan diri sendiri. Cuma ya ... berpegang pada pesan dari dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ di bagian pengantarnya, diagnosa mandiri tentu bukan jalan yang baik.
Awalnya, batin Ka Acha cuma bersuara ....
"Apa saja sih yang dicurhatin sama pengidap distimia? Sama nggak sih sama kita? Eh, bentar, kok relate ya sama aku? O ow ... aku nggak depresi kan?"
Begitu sekelumit suara hatiku sepanjang baca I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee ini. Bisa jadi kalau kamu ikutan baca buku ini juga, bakal kepikiran hal serupa.
Momen baca yang tadinya di malam hari, akhirnya kupindah ke Sabtu pagi di ruang cuci. Ditemani suara lembut putaran mesin cuci, serta aroma detergen yang menguar manis. Demi apa? Biar nggak terlalu kepikiran. Sungguh waktu membaca itu ngaruh juga di Ka Acha, Dears.
Lalu setelah waktu berminggu-minggu, akhirnya I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki volume pertama ini berhasil kutamatkan. Lega, karena Baek Se Hee juga mendapati sisi positif dan perubahan diri yang perlahan membaik sepanjang proses pengobatannya. Trus, aku jadi ngeuh juga, faktor apa yang bikin ia terserang depresi menahun begitu.
Seru. Pantas banyak yang nge-recommend buku self improvement satu ini.
Semoga jadi amal jariyah bagi penulisnya yang sudah tiada sekitar tahun lalu ya. Aamiin.
#bookish #bookreview #iwanttodiebutiwanttoeattteokpokki #baeksehee #readertalk
Buku "I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki" ini memberikan gambaran jujur dan mendalam tentang hidup dengan distimia, yaitu tipe depresi menahun yang sering kali kurang dipahami oleh banyak orang. Melalui pengalaman Baek Se Hee, kita diajak untuk melihat bagaimana perjuangan mental seseorang yang berusaha menyembuhkan diri dengan bantuan profesional. Dari sisi pribadi, membaca buku ini membuat saya menyadari betapa seringnya kita mengabaikan perasaan sendiri karena stigma atau ketidaktahuan tentang kesehatan mental. Saya pernah merasa bingung dan terjebak dalam emosi yang berulang tanpa tahu harus mulai dari mana untuk mencari solusi. Buku ini mengingatkan bahwa diagnosis mandiri bukanlah solusi tepat, dan konsultasi dengan psikiater adalah langkah penting untuk pemulihan. Cerita Baek Se Hee juga menyentuh betapa kompleksnya kondisi distimia yang membuat orang ingin menyerah namun tetap terikat dengan kehidupan sehari-hari, seperti keinginan sederhana makan tteokpokki. Itu mengajarkan saya tentang pentingnya empati dan pemahaman terhadap orang yang berjuang melawan depresi menahun. Saya juga terkesan dengan cara penulis menyampaikan proses terapi yang tidak instan dan penuh liku, sehingga memberi harapan bahwa perubahan positif itu mungkin meskipun lambat. Menggabungkan pengalaman dengan nasihat dari ahli kesehatan mental menambah kredibilitas dan nilai edukatif buku ini. Sebagai tambahan, bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh tentang distimia atau mengalami gejala serupa, mencari bantuan profesional sangat disarankan. Selain itu, dukungan lingkungan sekitar dan kesabaran dalam proses penyembuhan adalah kunci penting. Pengalaman saya mengutip dari buku ini memberikan gambaran nyata bahwa depresi bukan sekadar kesedihan, melainkan kondisi kompleks yang membutuhkan perhatian serius. Semoga buku ini bisa menjadi sumber inspirasi, edukasi, dan motivasi bagi siapapun yang membacanya maupun yang sedang berjuang di perjalanan kesehatan mental mereka.









