Mengantar Hafa Bertemu Pembaca di Stasiun UI

Di Stasiun UI sore itu, aku turun dari commuter line. Udaranya sehangat bertahun lalu, waktu stasiun ini masih sesekali kusambangi.

"Sudah lama ya." Begitu yang kugumamkan ketika kakiku berpijak di peronnya.

Biasanya, aku lebih rutin turun di Stasiun Pondok Cina. Sudah bisa ditebak kan, aku berkuliah di kampus yang mana?

Sayangnya, Commuter Reading Spot hanya tersedia di 10 stasiun saja. Dan ... di jalur red line Bogor - Jakarta, Stasiun UI yang kemudian terpilih jadi salah satu lokasi lemari bukunya berada.

Aku menyeberang melintasi rel menuju peron seberang, peron kereta jurusan Bogor berada. Mengikuti langkah penumpang lain, sembari memperhatikan aba-aba dari petugas berseragam jingga hijau neon yang berjaga.

Ketika mataku berjumpa dengan sebuah lemari bercat putih bersih dengan ornamen merah yang bersandar tenang pada dinding stasiun, jejeran buku-buku di dalamnya serasa menyapa. Ia menunggu ada tangan yang membuka tutup pintunya, memilih salah satu judul di antara mereka, lalu membawanya untuk duduk berduaan di peron sana.

Lebih beruntung lagi bila tangan tadi membawa ia naik ke commuter, menuju stasiun berikutnya, lalu dikembalikan pada lemari di stasiun berbeda. Dibawa pulang dan dibaca bersama lebih banyak orang lainnya pun, nggak apa.

Harapku sama untuk Hafa. Semoga ia berjumpa pembaca yang baik. Sosok yang bersedia berjalan bersamanya, mencicipi masakan buatannya, hingga siap berpisah dan membawa rasa yang Hafa hidangkan pada epilognya.

Ah ... anakku, novelku, Hafa dan Seporsi Cinta Pilihan Baba, semoga baik nasibmu di sini. Aku mendoakanmu selalu.

💕

#authortalk #authorlife #halalromance #writerlife #akaruicha

Stasiun Universitas Indonesia
9/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenjadi bagian dari Commuter Reading Spot di Stasiun UI membawa pengalaman tersendiri yang tak terlupakan. Di tengah hiruk-pikuk kota dan rutinitas naik turun commuter line, menemukan lemari buku putih bersih dengan ornamen merah yang bersandar tenang di dinding stasiun memberikan kesan hangat yang berbeda. Bukan sekadar tempat menunggu kereta, namun menjadi ruang untuk berbagi cerita dan ilmu lewat buku. Menurut pengalaman saya, fasilitas ini sangat membantu membentuk budaya literasi di antara para penumpang commuter line. Banyak orang yang awalnya hanya sekadar lewat, lalu terpikat untuk membuka pintu lemari, memilih buku, dan membacanya saat menunggu kereta tiba. Ini tentu momen berharga untuk menghilangkan penat dan mengisi waktu dengan hal positif. Yang membuat pengalaman ini makin berkesan adalah harapan bahwa novel "Hafa dan Seporsi Cinta Pilihan Baba" karya Akarui Cha bisa bertemu pembaca yang tepat. Melalui Commuter Reading Spot, buku tidak hanya berhenti di rak, tetapi ikut dalam perjalanan dari stasiun ke stasiun, sampai akhirnya menemukan tangan pembaca yang siap menikmati kisahnya. Saya pun pernah membawa buku dari lemari tersebut dan membacanya sembari menikmati suasana peron yang hidup. Cerita dalam buku terasa lebih dekat dengan realita kehidupan yang saya lihat saat itu—para penumpang, petugas stasiun dengan seragam jingga hijau neon, dan aktivitas kota yang dinamis. Inisiatif ini juga menginspirasi saya untuk turut aktif dalam program serupa di kota lain, mendukung penyebaran budaya baca di ruang publik. Secara pribadi, saya percaya bahwa ini adalah salah satu cara mudah dan menyenangkan untuk melihat bagaimana buku bisa menjadi teman perjalanan yang tak lekang oleh waktu. Harapan terbesar saya, seperti penulis, agar setiap novel yang dipajang di Commuter Reading Spot tidak hanya lolos kurasi, tapi juga sukses menyapa dan memberi kesan mendalam bagi pembaca yang menemukannya. Karena pada akhirnya, setiap buku yang dibaca, setiap cerita yang didengarkan, mempunyai kekuatan untuk mengubah sudut pandang dan memperkaya jiwa pembacanya.

3 komentar

Gambar Raden Muhammad Farhansyah S.Tr
Raden Muhammad Farhansyah S.Tr

jangan main jodoh-jodohkan anak, biarkan mereka memilih, biar gak ada penyesalan di akhir..

Lihat lainnya(1)
Gambar Akarui Cha
Akarui ChaKreator

🌸 BLURB 🌸 Hafa memang baru 23 tahun. Tapi bisa-bisanya Baba menjalankan aksi untuk lekas menikahkan Hafa dengan lelaki siapa entah yang Hafa nggak tahu clue-nya sama sekali, selain nama samarannya yang Baba sebut sebagai La Hanu. Sudah begitu, Baba mengkoordinir Bang Haikal dan Bang Haris buat main rahasia-rahasiaan sama Hafa. Baba tega. Sementara semua abangnya dibebaskan memilih calon pasangan masing-masing, Hafa malah dipilihkan tanpa diajak bicara lebih dulu. Apa alasan Baba cuma biar tetap ada cucunya yang pure blood Dou Mbojo alias asli berdarah Bima, gitu? Apa begini cara Baba mendukung karier Hafa yang fokus angkat menu dan budaya Bima di konten-kontennya sebagai food and lifestyle creator yang lahir dan besar di tanah rantauan kedua orangtuanya?