Berusaha kuat. harus ya🙂
#JujurAja setahun lebih berobat di psikiater ada rasa bosan dan males baik ketemu dokternya ataupun minun obat...
Kadang masih relapse (kambuh) psikosomatisnya,
kadang masih migrain, pingsan maka dari itu harus tetap minum antidepressant..
ya, #KeseharianKu harus minum antidepressant bukan karna kecanduan tapi karna kebutuhan 😭
untuk teman-teman yang baca ini plis jangan ada lagi yang komen "perbanyak ibadah dan dekat sama Allah"
bukan ga mau di ingatkan tp rasanya kita udh jauh lebih dekat dan Allah jg pasti tau ibadah kita sampai sejauh mana..
jadi, untuk teman-teman #WajibTau #penyakitmental tidak melulu karna kurang ibadah tapi perlu penanganan dari profesional untuk memperbaiki syaraf-syaraf otak..
Semangat ya pejuang #depressionanxiety 🥰
semangat berPROSES 🥀🖤
Aku dulu sempat bingung banget waktu pertama kali diresepin etadex sama psikiater. Jujur aja, nama obatnya asing, yang kepikiran cuma takut ketergantungan dan takut “di-cap” sakit jiwa. Tapi setelah dijelasin pelan-pelan, aku jadi ngerti kalau etadex dan antidepresan lain itu sebenernya bantu menormalkan lagi zat kimia di otak yang lagi kacau. Waktu awal minum etadex, tubuh masih adaptasi. Ada hari-hari di mana aku berasa ngantuk terus, kadang mual ringan, kadang kepala kerasa berat. Psikiaterku selalu bilang, kalau efek sampingnya mengganggu banget, jangan langsung berhenti sendiri, tapi konsultasi. Biasanya dokter bakal atur ulang dosis atau jam minumnya. Jadi, jangan kaget kalau di minggu-minggu awal rasanya nggak nyaman, karena tubuh kita lagi menyesuaikan. Yang bikin aku pelan-pelan tenang itu kalimat psikiaterku: "semangat ya, kita pantau 6 bulan lagi, kalau stabil turun dosis". Dari situ aku belajar kalau minum obat kayak etadex itu ada proses dan evaluasinya. Bukan berarti sekali minum harus seumur hidup. Ada target: kalau kondisi emosi dan fisik sudah lebih stabil, obat bisa dipertimbangkan untuk diturunin dosisnya pelan-pelan. Buat kamu yang lagi minum etadex dan antidepresan lain, wajar kok kalau sesekali bosan atau pengen berhenti. Aku juga sering ngerasain hal yang sama, apalagi pas badan lagi lemas atau psikosomatis kambuh, rasanya kayak, "kok nggak sembuh-sembuh sih?" Tapi setiap kali kontrol, aku coba jujur ke psikiater: cerita soal migrain, pingsan, cemas, sampai pola tidur. Dari situ dokter bisa menilai apakah dosis obat sudah pas atau perlu diganti. Hal lain yang penting: jangan bandingin perjalananmu sama orang lain. Ada yang minum etadex cuma beberapa bulan udah membaik, ada juga yang butuh tahunan. Itu bukan berarti kamu lemah. Kondisi otak, riwayat trauma, lingkungan, semuanya beda-beda. Yang penting, kamu tetap berPROSES, nggak menyerah, dan mau dibantu profesional. Satu tips kecil dari aku: catat perubahan harian di buku atau notes HP. Misalnya hari ini cemas 8/10, besok 6/10, tidur mulai membaik, atau masih sering sesak. Kalau ketemu dokter, catatan itu kepake banget buat evaluasi. Jadi bukan cuma berdasarkan ingatan yang seringnya suka ngacak. Dan yang paling pengen aku tekankan, minum etadex atau antidepresan itu bukan berarti kamu kurang iman atau jauh dari Tuhan. Obat itu tools, sama kayak orang darah tinggi minum obat tensi. Ibadah bisa jalan, pengobatan profesional juga tetap dijalani. Dua-duanya saling melengkapi, bukan menggantikan. Kalau kamu lagi di fase ini, ngerasa lelah, ingat aja kata-kata yang sering aku pegang: kita belum gagal, kita lagi belajar stabil. Semangat ya, pejuang depression dan anxiety. Kita pantau sama-sama, pelan-pelan, asal konsisten, suatu hari nanti dosis bisa turun dan kamu bakal bangga sama diri sendiri karena nggak menyerah di titik ini.










































lagunya d bisukan jadi ga match 😂🥺