Makanan yang Cuma Ada di Majalengka.. Sudah Coba Belum?
1. Katel, salah satu jenis sayuran yang mungkin khas hanya ada di Majalengka. Di beberapa daerah di Majalengka, katel dibudidayakan secara khusus oleh sejumlah warga karena pasarnya yang cukup menjanjikan. Katel berasal dari kacang kedelai yang baru tumbuh sebelum muncul pucuk.
2. Gula Cakar adalah pemanis tradisional khas Majalengka berbentuk balok kasar berwarna merah muda, terbuat dari gula pasir, soda kue, dan pewarna makanan, yang mudah larut dalam minuman seperti teh atau kopi, serta memiliki tekstur berongga mirip cakaran ayam, menjadi ikon kuliner lokal yang unik meskipun kini mulai langka.
Jadi, kamu sudah coba belum? Apa makanan khas di kotamu? Semoga kita bisa mencoba makanan khas dari berbagai daerah di Indonesia dan melestarikan tradisi kuliner lokal! 😊
Yuk, share makanan khas di kotamu dan jelajahi kelezatannya bersamu!
... Baca selengkapnyaKalau kamu baru pertama kali dengar pencok katel, sama, dulu aku juga bingung: apa itu katel? Ternyata katel adalah pucuk daun kedelai muda yang dipetik saat tanaman kedelai baru tumbuh sebelum muncul daun besar. Di Majalengka, tanaman katel ini sengaja dibudidayakan karena punya pasar sendiri, terutama buat pecinta sayur tradisional.
Biasanya sayur katel diolah jadi pencok katel. Cara makannya simpel tapi nagih: katel direbus sebentar sampai empuk, lalu disajikan di atas daun pisang dan disiram sambal merah yang pedas gurih. Ada yang suka ditambah parutan kelapa biar lebih wangi. Tekstur daun katel itu lembut tapi masih ada krenyes halus, mirip perpaduan antara daun singkong muda dan tauge. Buat kamu yang suka lalapan atau sayur rebus, wajib banget cobain kalau main ke Majalengka.
Kalau soal rasa, pencok katel ini enak dimakan bareng nasi hangat, ikan asin, atau tahu tempe goreng. Paling nikmat disantap siang hari. Aku pribadi suka karena rasanya ringan, nggak bikin enek, dan berasa banget nuansa rumahan Jawa Barat. Selain enak, banyak yang bilang daun katel punya kandungan gizi dari tanaman kedelai seperti protein nabati dan serat, jadi lumayan sehat buat jadi lauk harian.
Beralih ke manis-manis, ada gula cakar, salah satu gula khas Majalengka yang bentuknya balok kasar berwarna merah muda. Teksturnya berongga, jadi kalau dilihat mirip cakaran ayam, mungkin itu asal nama "gula cakar". Bahan dasarnya dari gula pasir yang dimasak dengan soda kue dan pewarna makanan, hasilnya jadi gula balok yang gampang banget larut dalam teh atau kopi panas.
Pengalaman pakai gula cakar di teh rasanya beda dengan gula pasir biasa. Manisnya terasa lebih lembut dan ada sensasi nostalgia jajanan jadul. Dulu gula cakar ini sering jadi oleh-oleh khas Majalengka, tapi sekarang sudah mulai langka, jadi kalau nemu di pasar tradisional atau toko oleh-oleh, aku biasanya langsung borong beberapa balok buat stok di rumah.
Tips kalau kamu mau coba: untuk pencok katel majalengka, cari warung makan rumahan atau penjual sayur tradisional, biasanya mereka tahu di mana bisa dapat daun katel khas Majalengka yang masih segar. Sedangkan untuk gula cakar majalengka, coba hunting di pasar besar atau tanya penjual gula merah balok, kadang mereka juga jual gula cakar.
Menurutku, dua kuliner ini menggambarkan banget karakter makanan khas Majalengka: sederhana, berbahan lokal, tapi punya ciri khas kuat. Jadi kalau suatu hari kamu main ke Majalengka, jangan cuma cari wisata alamnya, tapi sempatkan juga sarapan dengan pencok katel dan akhiri hari dengan secangkir teh hangat manis pakai gula cakar. Rasanya bikin kangen pulang lagi ke kota ini.