... Baca selengkapnyaKadang waktu kita masih muda, orang lain mengira hidup kita ringan-ringan saja. Padahal, justru di masa ini banyak yang lagi berjuang di lingkungan toxic: di rumah, kampus, tempat kerja, atau bahkan pertemanan. Aku pun pernah di fase itu, merasa capek tapi belum bisa pergi begitu saja.
Hal pertama yang aku pelajari adalah menerima kenyataan kalau lingkungan memang belum tentu bisa berubah cepat. Dulu aku sering mikir, “Kalau aku lebih baik, mungkin mereka bakal berubah.” Tapi lama-lama aku sadar, tugasku bukan menyelamatkan semua orang, tapi menjaga hati sendiri tetap waras.
Salah satu cara yang paling ngebantu aku adalah belajar untuk tidak memasukkan semua hal ke hati. Kita masih muda, dan di usia ini ucapan orang bisa terasa sangat menancap. Tapi pelan-pelan aku mulai memilah: mana masukan yang memang membangun, mana yang cuma luapan emosi mereka. Kadang yang mereka katakan tentang kita sebenarnya cerminan luka mereka sendiri.
Aku juga mulai berani bikin batasan. Dulu aku takut dibilang sombong kalau mengurangi interaksi. Sekarang aku sadar, mengurangi ngobrol dengan orang yang bikin kita down bukan berarti jahat. Itu bentuk sayang sama diri sendiri. Kita masih muda, sayang banget kalau energinya habis untuk drama yang sama setiap hari.
Selain batasan, penting juga punya “tempat pulang” untuk nenangin diri. Buat aku, itu bisa lewat doa, nulis di jurnal, atau sekadar diam di kamar sambil dengerin murattal atau musik yang menenangkan. Mungkin buat kamu bisa lewat gambar, olahraga, atau curhat ke sahabat yang bisa dipercaya. Intinya, punya ruang aman di tengah lingkungan yang belum ideal.
Kalau kamu merasa hari ini berat, apalagi di usia kita yang masih muda dan masih belajar banyak hal, itu wajar banget. Kamu nggak lemah hanya karena capek. Justru karena kamu terus bertahan tanpa kehilangan empati, itu tanda kamu kuat. Pelan-pelan, jaga hati, perbaiki diri, dan kalau suatu hari ada kesempatan pindah ke lingkungan yang lebih sehat, kamu sudah siap tumbuh di sana.
Ingat, kita masih muda, tapi bukan berarti harus kuat sendirian. Cari bantuan kalau perlu, baik ke teman, mentor, atau profesional. Hidup di lingkungan toxic memang melelahkan, tapi kamu tetap layak merasa tenang dan bahagia.