Tips Menghadapi Toxic People Menjelang Ramadhan

#RamadhanGuide

Bismillah

Jika akhir-akhir ini hatimu terasa lebih mudah lelah,

mungkin bukan karena imanmu lemah.

Bisa jadi karena terlalu lama berada

di sekitar orang yang tidak pandai menjaga kata dan sikap.

Islam tidak pernah mengajarkan kita

untuk menyakiti diri sendiri demi bertahan.

Menjaga jarak bukan tanda benci,

tapi bentuk ikhtiar agar hati tetap hidup dan iman tetap terjaga.

Menjelang Ramadhan,

semoga kita diberi keberanian

untuk memilih lingkungan yang menenangkan jiwa.

Doa:

Ya Allah, lembutkan hati kami yang lelah,

tenangkan jiwa kami yang terluka,

dan dekatkan kami pada lingkungan yang menjaga iman dan ketenangan.

#toxicfriendship #toxicpeople #mentalhealthawareness #kesehatanmental

Cirebon
2/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku sering bingung gimana cara menghadapi orang toxic, apalagi menjelang Ramadhan saat kita pengin lebih fokus ibadah tapi malah diuji sama ucapan dan sikap yang nyakitin. Akhirnya aku belajar pelan-pelan gimana cara kasih sindiran untuk orang toxic tanpa harus jadi jahat balik. Buat aku, sindiran yang paling kena itu justru yang disampaikan dengan halus dan tetap sopan. Misalnya, kalau ada yang suka meremehkan usaha kita, aku biasanya jawab, "Nggak apa-apa, setiap orang kan punya cara dan proses masing-masing. Yang penting aku berusaha dan Allah yang nilai." Kedengarannya lembut, tapi sebenarnya itu pengingat buat dia supaya nggak gampang mengkritik hidup orang lain. Kalau ketemu teman yang suka nyeletuk kata-kata pedas, aku pernah bilang begini, "Aku lagi belajar jaga lisan menjelang Ramadhan, biar hati lebih tenang. Kayaknya enak deh kalau kita sama-sama coba ngomong yang baik-baik aja." Ini semacam sindiran halus, tapi dibungkus sebagai ajakan kebaikan. Jadi kita tetap tegas, tapi nggak harus marah-marah. Selain itu, mengurangi interaksi juga bentuk sindiran tanpa kata. Saat aku mulai sadar energi aku cepat habis tiap habis ketemu orang tertentu, aku pelan-pelan jaga jarak. Balas chat seperlunya, nggak terlalu membuka ruang curhat kalau ujung-ujungnya cuma drama dan gosip. Diam dan menjaga jarak kadang jauh lebih lantang daripada debat panjang. Menjelang Ramadhan, aku juga mulai milih lingkungan yang lebih aman. Aku perbanyak "ruang aman" bareng orang-orang yang bikin aku ingat Allah, yang kalau ngobrol itu rasanya adem, bukan penuh sindiran dan kompetisi. Teks di gambar yang aku pegang teguh: "Ramadhan mendekat... saatnya menjaga hati dari yang menyakiti." Itu jadi pengingat kalau ketenangan hati jauh lebih berharga daripada memaksa diri bertahan di dekat orang toxic. Kalau sudah mentok, aku serahkan semuanya ke Allah. Doa singkat yang sering aku baca: "Ya Allah, cukupkan aku dengan ketenangan-Mu, jauhkan aku dari yang melemahkan iman, dan kuatkan hatiku dengan kasih sayang-Mu." Kadang bukan orangnya yang bisa kita ubah, tapi hati kita yang Allah kuatkan. Intinya, sindiran untuk orang toxic nggak harus selalu berupa kalimat tajam. Bisa lewat sikap, doa, dan pilihan lingkungan. Menjaga jarak bukan berarti benci, tapi cara kita menjaga iman, terutama di momen-momen menjelang Ramadhan saat hati lagi butuh banyak ketenangan.

11 komentar

Gambar apuspita29
apuspita29

masyaallah kak aamiin🥰 terimakasih sharingnya

Lihat lainnya(3)
Gambar ⋆˚ Sie_Ynt ˚⋆
⋆˚ Sie_Ynt ˚⋆

setuju ka... mulai nge rem diri untyk hal hal yg berbau negatif, dan cari aman.

Lihat lainnya(1)