ADA RINDU SEBATAS AL-FATIHA
Lebaran katanya tentang kebahagiaan...
tapi ada juga yang merayakan dengan kehilangan.
aku tidak menangis setiap hari,
tapi ada momen-momen kecil
yang membuat rindu ini terasa utuh kembali.
takbir tetap berkumandang,
hanya saja...kali ini terasa lebih sunyi.
Al-Fatihah untuk yang sudah lebih dulu pulang
Lebaran tahun-tahun dulu selalu identik dengan riuh: suara takbir, bau opor dari dapur, dan tawa anak-anak yang nggak ada habisnya. Tapi sejak makam kecil itu hadir di tanah peristirahatan yang sunyi, semua terasa lain. Bukan berarti aku nggak bahagia sama sekali, cuma bahagianya sekarang bercampur dengan perih yang susah dijelaskan. Setiap kali lewat deretan makam, apalagi menjelang Idulfitri, suasananya selalu bikin hati mengerut. Angin yang pelan, suara daun bergesekan, dan langkah kaki para peziarah pelan-pelan mengantar kita pada kenyataan: ada banyak rindu yang terkubur di sini. Sunyi tanah peristirahatan itu bukan cuma soal tempatnya yang sepi, tapi juga tentang doa-doa yang dibaca dalam hati, yang nggak semua orang tahu isinya. Tahun 2024, saat harus mengikhlaskan anak keduaku, aku baru benar-benar paham arti kata "pergi selamanya". Nama kecilnya terukir di nisan kayu, sederhana, ditaburi bunga merah dan putih. Setiap kali membaca "Ada rindu sebatas Al-Fatihah" di sana, aku kayak diingatkan lagi: sekarang cara mencintai dan merawatnya sudah beda, bukan lagi lewat pelukan, tapi lewat doa. Kadang aku datang ke makam bukan di hari besar saja. Ada hari-hari biasa ketika dada tiba-tiba sesak, lalu kaki ini otomatis melangkah ke tanah peristirahatan yang sama. Di sana, di antara barisan nisan yang diam, aku cerita pelan: tentang hari-hariku, tentang kakaknya, tentang hal-hal kecil yang dulu pasti bikin dia tertawa kalau masih ada. Rasanya seperti ngobrol sama seseorang yang nggak bisa menjawab, tapi kamu tahu dia mendengarkan. Di malam takbiran, ketika orang-orang sibuk mempersiapkan Lebaran, aku sering duduk sendiri dan mendengar gema takbir. Ada momen di mana suara takbir itu terasa seperti memantul ke makam-makam yang sunyi. Saat itu, aku selalu membisikkan namanya dalam hati. Nggak bisa kupeluk, nggak bisa kupanggil, tapi aku percaya setiap Al-Fatihah yang meluncur pelan dari bibirku pasti sampai, entah bagaimana caranya. Buat kamu yang mungkin juga kehilangan dan tiap Lebaran merasa ada kursi kosong di rumah, aku cuma mau bilang: perasaan itu valid. Nggak apa-apa kalau Lebaranmu nggak seceria dulu. Nggak apa-apa kalau air mata tiba-tiba jatuh ketika lewat dekat tanah peristirahatan. Rasa sesak saat takbir berkumandang itu juga manusiawi. Pelan-pelan, kita belajar berdamai dengan ruang kosong di hati yang ternyata bukan karena lupa, tapi karena rindu yang memilih untuk diam. Dan kalau suatu saat kamu merasa terlalu lelah untuk bercerita ke siapa pun, kamu selalu bisa datang ke makam, duduk di samping nisan yang kamu sayang, membaca Al-Fatihah, lalu membiarkan angin dan sunyi yang memelukmu. Di sana, kita sama-sama tahu: rindu ini mungkin cuma sebatas doa, tapi justru di situlah ia menemukan rumahnya.



