... Baca selengkapnyaKadang kita merasa sudah jadi orang tua yang baik hanya karena memenuhi kebutuhan fisik anak: makan cukup, pakaian bersih, sekolah yang bagus. Tapi setelah aku pelan-pelan belajar, ternyata jadi orang tua yang bijak itu jauh lebih dalam dari sekadar "anak nggak kekurangan". Perhatian kecil sehari-hari justru punya dampak besar ke mental dan emosi mereka.
Aku pernah berada di fase sibuk banget sama kerjaan dan urusan rumah, sampai nggak sadar kalau anak lebih sering dikasih gadget daripada diajak ngobrol. Awalnya aku pikir aman-aman aja, toh dia anteng dan nggak rewel. Tapi lama-lama mulai kelihatan: jadi gampang marah kalau gadget diambil, susah fokus, dan terlihat kurang percaya diri saat main sama teman-temannya.
Dari situ aku mulai pelan-pelan evaluasi. Jadilah orang tua yang bijak itu menurutku artinya mau jujur sama diri sendiri: berani mengakui kalau selama ini mungkin kita kurang hadir buat anak, bukan cuma secara fisik tapi juga secara emosi. Misalnya, saat anak curhat atau sekadar mau menunjukkan gambar yang dia buat, kita sering jawab sambil lalu, masih sibuk main HP atau nonton. Padahal buat mereka, momen itu penting banget.
Aku juga belajar kalau kurang perhatian bisa bikin anak jadi rewel, cari perhatian dengan cara yang kita labeli "nakal", atau malah jadi pendiam dan memendam perasaan. Mereka bisa saja mulai meniru perilaku buruk yang sering mereka lihat, karena merasa itu satu-satunya cara agar diperhatikan. Di sisi lain, ada anak yang jadi mudah cemas, sering membandingkan diri dengan orang lain, dan gampang menangis untuk hal-hal kecil.
Supaya pelan-pelan jadi orang tua yang baik, aku mulai menerapkan beberapa hal sederhana: pertama, sediakan waktu khusus setiap hari untuk benar-benar fokus ke anak, tanpa gangguan gadget. Bisa cuma 15ā30 menit, tapi full hadir: mendengar cerita mereka, main bersama, atau sekadar peluk dan ngobrol ringan.
Kedua, belajar menenangkan diri dulu sebelum menegur. Anak yang mudah marah biasanya meniru cara kita mengekspresikan emosi. Kalau kita ingin mereka lebih tenang, ya kita dulu yang perlu belajar mengelola emosi. Tegur boleh, tapi dengan nada yang tetap menghargai mereka sebagai manusia kecil yang punya perasaan.
Ketiga, jangan meremehkan hal yang menurut kita "sepele" buat anak. Misalnya mereka menangis karena mainan rusak atau temannya nggak mau diajak main. Buat kita mungkin remeh, tapi buat mereka itu masalah besar. Mendengarkan dan memvalidasi perasaan mereka bisa membantu mengurangi rasa cemas dan kebiasaan membandingkan diri.
Intinya, jadilah orang tua yang bijak itu proses panjang, bukan status yang langsung kita dapat. Nggak apa-apa kalau merasa belum sempurna, yang penting ada niat untuk terus memperbaiki sikap dan cara kita memperhatikan anak. Dengan begitu, pelan-pelan kita bisa benar-benar jadi orang tua yang baik, bukan hanya di mata orang lain, tapi terutama di hati anak sendiri.