cuci piring dikampung
💪untuk keseharian dikampung memang membutuhkan tenaga yang ekstra. hidup di kampung itu keras. mau apa-apa membutuhkan tenaga. jadi untuk nyuci piringpu harus sekuat tenaga 🤭🤭
Kalau dibilang cuci piring di kampung itu gampang, jujur aja menurutku nggak sama sekali. Apalagi kalau lagi ada acara keluarga atau habis makan bareng rame-rame, piring kampung bisa numpuk sampai penuh satu bak. Belum lagi airnya harus diambil dulu dari sumur atau bak penampungan, jadi sebelum mulai cuci piring aja udah keluar tenaga duluan. Biasanya aku bagi-bagi tahap biar nggak terlalu melelahkan. Pertama, semua sisa makanan aku buang dulu, jadi pas nyuci nggak terlalu jorok dan air sabun tetap agak bersih. Habis itu, piring dan gelas aku rendam sebentar di ember berisi air dan sabun cuci piring. Ini ngebantu banget buat lemak atau noda yang nempel, jadi pas digosok nggak perlu terlalu keras. Satu hal yang kerasa banget bedanya, di kampung itu jarang pakai wastafel modern. Kebanyakan cuma pakai bak semen atau ember besar. Jadi posisi badan sering nunduk lama, tangan terus-terusan kena air. Capeknya bukan cuma di tangan, tapi juga di pinggang. Makanya aku biasanya selingin, kalau sudah mulai pegal, berhenti sebentar, tarik napas, baru lanjut lagi. Untuk piring kampung yang tebal atau piring lama yang warnanya udah kusam, biasanya butuh ekstra sabun dan gosokan pakai sabut yang agak kasar. Kadang aku tambahin air panas sedikit biar minyak cepat hilang, tapi ya gitu, air panasnya juga harus dimasak dulu di kompor atau kayu bakar, jadi ada proses tambahan lagi. Hal yang paling aku rasain, cuci piring di kampung itu bikin kita lebih sadar soal hemat air. Karena air diambil manual, aku benar-benar usahakan pakai air seefisien mungkin: satu ember untuk bilas awal, satu ember untuk bilas akhir, jadi nggak boros tapi tetap bersih. Kalau piringnya banyak, aku susun rapi setelah dicuci, ditirisin di rak sederhana dari kayu atau kawat. Walaupun capek, ada juga momen nyamannya. Kadang sambil cuci piring, aku bisa sambil ngobrol sama keluarga atau tetangga, atau sekadar menikmati suasana kampung yang tenang. Suara ayam, angin, sama suara air bikin suasana lebih santai, meski pekerjaan rumahnya lumayan berat. Menurutku, hidup di kampung memang keras, termasuk urusan cuci piring ini. Tapi dari hal sepele seperti piring kampung yang harus dicuci satu per satu, aku jadi belajar sabar, ikhlas, dan nggak manja. Rasanya puas aja kalau lihat semua piring bersih mengkilap, dapur rapi, dan tahu itu hasil kerja keras tangan sendiri.































































