✨ Dulu punya sosial media cuma sebatas scrol scrol konten orang, karena scrol scrol sosmed adalah salah satu hiburan disaat rehat atau istirahat setelah sibuk dengan aktifitas kerja, maklum karena dulu masih menjadi budak corporate (pekerja) yang sibuk dari pagi sampai menjelang malam. ☺️ Setelah full menjadi ibu rumah tangga juga belum berani untuk memulai menjadi konten kreator..
✨Ada beberapa alasan kenapa takut untuk memulai :
🗣️ Malu ah ngonten
Malu menampilkan wajah sendiri karena takut dikenal atau diliat oleh kerabat, tetangga atau teman.
🗣️ Takut dikatain ini itu
Takut diomongin atau dijadikan bahan pembicaraan karena konten yang kita buat, "biasanya kan kita pasti aja pernah membahas atau ngomongin konten orang , yang mungkin itu lucu atau aneh " 🫢☺️
🗣️ Takut mulai personal branding
Takut dianggap sombong atau pamer, takut dianggap tidak otentik atau harus tampil sempurna, khawatir tidak memiliki keahlian yang "wah".
🗣️ Takut freak ah cringe
Takut dianggap aneh atau tidak biasa, perasaan malu, jijik, atau ngeri melihat hal yang memalukan.
... Baca selengkapnyaMemulai perjalanan sebagai konten kreator memang bukan hal yang mudah, terutama bagi yang baru di usia 30an dan sudah lama menjadi penikmat pasif sosial media. Banyak orang merasakan berbagai ketakutan yang sangat manusiawi, seperti yang sudah disebutkan: malu tampil wajah sendiri, takut diomongin, hingga kekhawatiran soal personal branding yang dianggap sombong atau tidak otentik.
Namun, yang penting adalah memahami bahwa perasaan "malu ngonten", "takut ini itu", dan takut dianggap "cringe" atau "freak" sebenarnya adalah bagian dari proses berkembang sebagai pribadi dan pembuat konten. Banyak kreator sukses awalnya juga merasakan hal sama sebelum akhirnya menemukan gaya dan keberanian mereka sendiri.
Salah satu cara untuk mengatasi rasa takut ini adalah dengan memulai secara perlahan, bisa dengan cara membuat konten yang tidak terlalu menonjolkan diri secara langsung, misalnya dengan foto produk, tips sehari-hari, atau cerita keseharian yang mudah diikuti. Seiring waktu, kepercayaan diri akan berkembang dan konten pun bisa menjadi lebih personal.
Selain itu, membangun komunitas pendukung di sosial media juga sangat penting. Cari atau buat komunitas yang saling mendukung dan memberikan masukan positif. Ini akan membuat kamu merasa lebih nyaman dan termotivasi dalam membuat konten. Jangan takut untuk berbagi cerita asli dan jujur, karena konten yang otentik biasanya jauh lebih menarik dan dapat membangun keterikatan dengan audiens.
Personal branding tidak harus identik dengan pamer atau sombong. Personal branding adalah soal menunjukkan siapa diri kamu sebenarnya, nilai-nilai yang kamu pegang, dan apa yang ingin kamu bagikan kepada orang lain. Dengan pendekatan yang jujur dan apa adanya, kamu malah akan menghindari kesan palsu.
Terakhir, ingat bahwa menemukan gaya konten dan bentuk berekspresi di sosial media adalah perjalanan yang perlu waktu dan kesabaran. Tidak perlu terlalu keras menuntut diri langsung sempurna. Cobalah untuk menikmati proses ini sebagai ruang belajar dan eksplorasi diri.
Jadi, bagi yang merasakan takut memulai konten dengan alasan "30+ umur sebelum aku 2025", ketahuilah bahwa setiap tahap kehidupan membawa kesempatan baru untuk berekspresi dan berkarya, tidak pernah terlambat untuk memulai dan menjadi versi terbaik dari dirimu di media sosial.