BIARKAN AKU PERGI (5)

Membalas

Hari kedua kepergian Mas Bayu. Dia tidak menghubungiku sama sekali. Mungkin dia sibuk.

“Apa Bayu sibuk sekali sampai dia tak bisa mengantarmu?” tanya Ayah usai menutup telepon dari Mas Bayu. Sebagaimana janjinya padaku, kalau dia yang akan menelpon Ayah setelah aku sampai rumah orangtuaku.

“Sebenarnya Mas Bayu mau mengantar, Ayah. Tapi, Ira ada sesuatu yang ingin Ira sampaikan sebelum Mas Bayu menyampaikan sesuatu ke Ayah.” Hati-hati aku berbicara.

Pagi itu juga aku menceritakan apa yang kulihat dan dengar, meskipun aku tak punya bukti yang dapat aku tunjukkan pada kedua orang tuaku. Karena aku tak menyimpan bukti chat ataupun postingan di sosmed.

"Ira sudah nggak sanggup, Ayah!" Kaca-kaca di mataku yang sejak tadi aku tahan, akhirnya meleleh.

Ibu yang sedari tadi turut menyimak, segera mendekat dan memberikan pelukan.

Selama ini, aku tak pernah menceritakan kondisi keluarga yang aku bina dengan Mas Bayu. Aku pikir, semua butuh proses. Dan nanti juga semua akan baik-baik saja. Tapi, belakangan melihat Mas Bayu menutup-nutupi sesuatu, hatiku berkata, cukup!

“Kalau kamu mau, Ayah dan Ibu bisa menyelesaikan sebelum semuanya terlanjur,” ujar Ayah. Wajahnya memerah. Aku tahu, pasti beliau marah dan kesal dengan perlakuan Mas Bayu terhadapku.

“Ira hanya mohon Ayah dan Ibu mau merestui rencana Ira,” ujarku memohon.

Jika pun ayah dan ibu mau menuntut tanggung jawab orang tua Mas Bayu, tapi lalu apa? Apa aku akan bisa mendapatkan Mas Bayu seutuhnya? Aku takut Mas Bayu hanya akan menerimaku sebagai wujud tanggung jawab saja, tapi cintanya bukan untukku. Aku takut di belakangku Mas Bayu masih mencintai orang lain. Dan aku belum bisa menerima itu untuk saat ini.

“Fahira, kamu saat ini masih istri Bayu. Kamu harus mendapatkan restu dan ridho darinya kemanapun kamu pergi, agar hidupmu aman dan berkah.” Ibu memberikan nasehat.

Aku tahu, ibu adalah pribadi yang penurut. Ibu pula yang mengajariku untuk itu. Menurut kepada suami. Bahkan berusaha mencintainya sebelum dia mencintaiku. Aku harus mencintainya dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Tetapi, mengingat itu, justru air mataku yang meleleh.

“Baik, Ayah, Ibu. Besok sebelum Ira berangkat, Ira akan mohon restu Mas Bayu. Tapi, Ira mohon Ayah dan Ibu mau merahasiakan. Tak perlu memberi tahu pada Mas Bayu kemana Ira pergi. Biar Ira yang akan memberitahukannya sendiri,” pintaku.

Ayah dan Ibu menyetujui permintaanku.

*

Setelah memasukkan dua koper besar di counter check in, aku segera melangkah memasuki jalur imigrasi bandara.

Sesuai janjiku kepada ayah dan ibu, aku akan pamit pada Mas Bayu, untuk terakhir kalinya. Kutekan nomornya untuk melakukan panggilan video. Tapi tak diangkat. Mungkin sudah terlalu malam.

Jam di ruang tunggu bandara sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.

Sambil menunggu panggilan diangkat, aku memilih membuka laptop. Tanpa aku sadar, aku masuk ke aplikasi biru milik Mas Bayu. Mungkin karena aku beberapa kali menggunakan email dan password-nya sehingga aku tak sadar melakukannya kembali.

Tiba-tiba tanpa sadar aku membuka story yang ada di aplikasi biru itu. Air mataku hampir luruh saat tak sengaja story milik Nabila terbuka.

“Saya terima nikah dan kawinnya Nabila Salsabila binti…..”

BERSAMBUNG

Baca selengkapnya di KBM app

Judul: BIARKAN AKU PERGI

Nama Penulis: ET. Widyastuti

2025/8/18 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenghadapi keputusan untuk pergi secara diam-diam memang bukan hal mudah. Aku pernah merasa haru dan bingung saat harus berpisah dengan Mas Bayu, terutama ketika mengetahui ada rahasia yang ia sembunyikan dariku. Saran dari orang tua untuk selalu mencari restu dan ridho sangat membantu, meski aku tetap harus menjaga perasaan sendiri. Sepeninggal Mas Bayu, aku menyadari pentingnya menjaga komunikasi yang jujur dan terbuka dalam rumah tangga. Jika ada tanda-tanda kebohongan atau ketidakjujuran, itu bisa menjadi awal dari perpisahan yang tak terhindarkan. Pengalaman membuka aplikasi berisi cerita Mas Bayu yang menikah diam-diam membuatku sadar betapa beratnya menerima kenyataan ini. Kadang, mencintai secara tulus berarti harus mengalah demi kebahagiaan bersama, walaupun harus berpisah. Bagi siapapun yang mengalami kisah serupa, aku ingin berbagi bahwa jangan takut untuk meminta dukungan keluarga dan teman. Restu mereka sangat berarti sebagai kekuatan moral agar bisa menjalani proses penyembuhan hati dengan baik. Terakhir, aku belajar bahwa lebih baik berpisah daripada saling menyakiti. Pilihan ini memang menyakitkan, tapi aku percaya suatu saat nanti akan terbuka jalan yang membawa kedamaian dan kebahagiaan baru.