Salah Gedung Resepsi Pernikahan (3)
3.
Judul: Salah Gedung Resepsi Pernikahan
Penulis: Susilawatidenny
Saguna menegang, ekspresi dinginnya retak seketika. Matanya membelalak tajam.
"Apa?" suaranya rendah, nyaris seperti geraman.
Wulan menggigit bibirnya, lalu mengangguk kecil. "Iya, Pak. Bapak harus tanggung jawab," ucapnya pelan tapi tegas.
Mata Saguna masih mengunci tatapan Wulan, mencari kepastian. Keheningan menyelimuti mereka. Lalu, dengan ekspresi campuran bingung, kesal, dan tak percaya, Saguna menarik napas panjang.
"Kok bisa-bisanya sih kamu kepikiran ngasih kado itu?" suaranya sarat ketidakpercayaan. "Nggak ada pilihan lain? Harus banget baju kurang bahan itu?"
Jitakan mendarat di kening Wulan.
"Aduh! Astaghfirullah, Pak! Kenapa Bapak jitak saya?" protesnya, mengusap dahinya.
Saguna menyilangkan tangan di dada. "Biar otak kamu waras."
Wulan mendengus. "Pak, saya cuma ngerjain Ayu! Kado yang sebenarnya ada, kok. Safa sudah membawanya tadi."
Saguna masih menatap skeptis. "Nggak, ah. Buang-buang waktu," ucapnya, berbalik pergi.
Wulan memejamkan mata, menarik napas dalam. Tapi emosi dalam dirinya mendidih. Tanpa pikir panjang, ia meraih tangan Saguna, menariknya dengan paksa.
"Wulan! Apa-apaan sih kamu?!"
"Suka atau tidak, Bapak tetap harus mau!" tegas Wulan, menatapnya tajam.
Di sudut ruangan, seorang wanita tua memperhatikan mereka. Oma Sartika, nenek Saguna, akhirnya melangkah mendekat.
"Takwa, ada apa ini?"
Wulan spontan menghentikan langkahnya. Matanya membelalak, baru menyadari ada yang memperhatikan mereka.
Sartika menatap Wulan lekat-lekat, lalu beralih ke tangan Wulan yang masih menggenggam Saguna. "Siapa namamu, Nak?" tanyanya ramah.
"Wulan, Bu," jawabnya cepat, mencium tangan Sartika dengan sopan.
"Panggil Oma saja."
"Baik, Oma."
Tiba-tiba ekspresi Sartika berubah tajam. Ia menoleh ke Saguna, yang jelas-jelas menghindari tatapannya.
"Tanggung jawab apa yang kamu tuntut dari cucu saya ini?" suaranya tenang tapi penuh otoritas.
Wulan menggigit bibir sebelum mengembuskan napas berat. "Dia mempermainkan saya, Oma. Saya dibohongi."
Saguna terperanjat. "Bukan begitu, Oma! Aku nggak ngapa-ngapain dia!"
"Tapi kamu sudah berjanji, kan?"
Saguna menelan ludah. "I-iya, tapi bukan seperti yang Oma pikirkan!"
"Kamu pacar Takwa, Nak?"
"Takwa?" Wulan mengerutkan kening.
Sartika mengangguk. "Apa Saguna tidak pernah cerita kalau panggilannya Takwa?"
"Tidak, Oma."
"Tapi kamu memang pacarnya?"
Wulan menatap Saguna yang kini tampak putus asa. Senyum penuh kemenangan terbentuk di wajahnya.
"Iya, Oma," jawabnya manis.
"WULAN!" Saguna tersedak.
Sartika mengangguk mantap. "Oma akan pastikan Takwa bertanggung jawab."
Wulan masih tersenyum, menikmati keterkejutan Saguna. Tapi kemenangannya tak bertahan lama.
"Setelah acara selesai, kita bahas pernikahan kalian."
"APA?!" suara Saguna dan Wulan menggema di ruangan.
☆ ☆ ☆































































