Silent Treatment (Berubah Cuek Setelah Diabaikan) 3
Membalas
“Mumpung Ririn di sini, Dan. Gimana kalau perjodohan kalian kita lanjutkan saja. Kamu mau, kan, Rin?” suara Mama terdengar tenang, namun penuh harap.
Aku terbe l al ak. Ucapan Mama seperti bom yang tiba-tiba meledak di ruang tamu yang tadinya terasa biasa saja. Aku menoleh cepat ke arah Ririn yang duduk manis di sebelah Mama.
“Mama ngomong apa sih!” sentakku kesal, hampir tak percaya Mama mengutarakan hal itu di depan istriku, Qiara.
“Ma … Maksudnya apa, Tante?” tanya Ririn, suaranya gemetar. Tapi bukan karena terkejut—melainkan seperti seseorang yang sudah tahu arah pembicaraan ini, hanya pura-pura tak tahu.
“Dulu kan Tante dengan alm a rhum Mama kamu pernah berniat menjodohkan kalian. Kamu masih mau kan sama anak Tante?”
“Mama!” aku kembali menegur, kali ini lebih keras. Qiara duduk di seberang kami, diam, namun matanya jelas menunjukkan kete g a ng an. Ririn menunduk, lalu menjawab pelan.
“Saya sih … gimana baiknya saja, Tante. Kalau memang itu keinginan almarhum Mama saya, saya nggak mau buat Mama kecewa di sana.”
Aku mengatupkan rahang. Apa maksudnya Ririn ini? Jelas-jelas dia tahu aku sudah menikah. Kenapa dia masih mengatakan hal itu?
“Tapi Aydan sudah punya istri. Cuma istrinya mandvl. Kamu nggak papa jadi istri keduanya?” tanya Mama, tanpa merasa kalimat itu menu s suk hati perempuan lain yang duduk di ruangan ini.
“Saya cuma mau mewujudkan keinginan al ma r hum Mama saja, Tante,” jawab Ririn le m bb ut, matanya berkaca-kaca.
Mama tersenyum pu a ss. “Kamu memang anak yang baik dan penurut. Gak salah dulu kami ingin menjodohkan kalian.”
“Mama … aku masih punya istri,” ucapku dengan nada menahan emosi.
Mama me nd e s sah, “Istrimu itu mandvl. Mau gak mau dia harus terima. Kalau dia gak bisa kasih anak ya harus rela kamu menikah lagi.”
“Aku gak mau nikah lagi, Ma. Tolong jangan paksa aku.”
“Maaf, Mas,” tiba-tiba Ririn berbicara lagi, suaranya pelan. “Kalau saya gak pantas untuk Mas Aydan, saya paham. Tapi saya juga gak ada niat apa-apa, saya hanya ingin menuruti keinginan Mama saya itu saja.”
Tangis Ririn pecah mungkin dia sakit hati dengan ucapanku, karena merasa tak diinginkan.Tapi apa salahku? Bukannya aku tak meng ha rr g a inya, aku hanya ingin dia sadar bahwa aku punya istri. Qiara, Wanita yang sudah menemaniku selama lima tahun.
“Mumpung istrimu juga di sini, sekalian saja biar dia tahu,” lanjut Mama tanpa ragu.
“Mama, bisa nggak jangan ikut campur dulu masalah rumah tanggaku?” ucapku, suaraku mulai melemah. “Aku harus bicarakan dulu sama Qiara.”
“Gak bisa! Mama harus ikut campur sekarang!” seru Mama. “Kalian itu sudah lima tahun menikah dan belum punya momongan juga. Apa namanya kalau bukan mandvl? Sudah gak ada tapi-tapian. Mau gak mau kamu harus nurut!”
Aku terdiam. Pupus sudah harapanku untuk menghindari pertengkaran. Aku memang tak bisa membantah Mama terlalu keras. Kondisi kesehatannya, terutama darah tingginya, membuatku harus selalu berhati-hati dalam menyampaikan ketidaksetujuan.
“Kamu sudah dengar semua kan, Ra,” Mama kini menoleh ke arah Qiara. “Jadi Mama gak usah ngomong ulang lagi. Kamu cukup setujui aja kalau Aydan nikah lagi sama Ririn. Lagi pula laki-laki kalau mau nikah gak harus minta izin istri!”
Qiara mengangkat wajahnya tenang, tapi nadanya taj jam, “Di agama memang tidak harus izin istri, Ma. Tapi di mata negara harus ada persetujuan istri pertama. Memangnya Ririn mau menikah sirih sama Mas Aydan?”
Mama langsung naik da r rah. “Apa maksud kamu?”
“Ya seperti yang saya bilang barusan,” jawab Qiara tetap tenang.
“Maksud kamu gak setuju gitu kalau Aydan nikah lagi?”
“Siapa sih yang rela suaminya nikah lagi, Ma? Mama sendiri mau gak kalau Papa nikah lagi?”
Baca selengkapnya di aplikasi Kbmapp yaa.... Hanya 33 Bab saja
Judul : Silent Treatment (Berubah Cuek Setelah Diabaikan)
Pengarang : Lyana Anggraini























































