MENGGANTIKAN MEMPELAI WANITA (4)
Membalas
“Apa yang Kamu lakukan?” seru Reta ketakutan.
“Nggak usah kege-eran! Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Pernikahan ini hanya di atas kertas. Meskipun Dea meninggalkanku bukan berarti aku akan menerimamu begitu saja. Di luar sana masih banyak wanita yang antri untuk menjadi istriku,” usp Arkan dengan sombongnya.
***
Sebenarnya Reta malas untuk bergabung makan malam dengan keluarga besar Arkan. Namun itu lebih baik baginya dari pada terus-terusan di kamar dengan Arkan. Sebisa mungkin dia ingin menghindari suaminya itu.
“Bener ya, katanya kamu anak tukang catering murahan?” celetuk seseorang ketika Reta sedang sendiri.
“Catering mama memang terkenal harganya murah dibanding yang lainnya. Tapi soal kualitas bukan murahan, bisa dibuktikan sendiri kalau tidak percaya,” ucap Reta dengan bangganya.
“Nggak hanya cateringnya, orangnya juga murahan,” lanjut orang itu lagi.
“Maksudnya apa ya?” tanya Reta dengan menahan emosi. Kalau dia buka keluarga pak Hendra sudah dibalasnya.
“Anak yang terlahir tanpa seorang ayah,” ucapnya dengan sinis.
“Sepertinya Anda mengenal betul latar belakang keluarga saya. Saya memang terlahir sudah tidak punya ayah, karena…” ucap Reta belum selesai sudah dipotong oleh wanita itu lagi.
“Karena nggak jelas ayahnya yang mana…” ucap wanita yang belum diketahui namanya oleh Reta dengan tertawa.
“Karena ayah saya sudah meninggal!” Jelas Reta untuk mematahkan fitnah wanita itu.
“Itu sih kata mamamu saja untuk menutup-nutupi saja.”
Reta hampir naik pitam dengan fitnah wanita itu.
“Sepertinya kalian sudah saling mengenal,” ucap bu Nuri yang menghampiri mereka.
“Iya, Ma sudah mengenal dengan baik,” ucap wanita itu.
Reta merasa terkejut ketika wanita itu memanggil Ma ke ibu mertuanya. Setahunya mertuanya tidak memiliki anak seperti yang ada di hadapannya saat ini.
“Alhamdulillah, Mama senang sesama ipar saling akur,” ucap bu Nuri.
Reta hampir tidak percaya ketika bu Nuri bilang kalau wanita yang telah menghina keluarganya itu adalah iparnya. Dia tidak percaya kalau wanita itu adalah bagian dari keluarga yang terhormat ini.
“Iya, kami sudah mengenal dengan baik,” ucap Reta seraya memandang tajam iparnya itu.
Belum genap sehari menjadi keluarga ini Reta sudah dihadapkan dengan konflik batin. Reta penasaran dari mana iparnya itu mengetahui begitu banyak tentang dirinya. Padahal baru saja dia menjadi bagian keluarga ini.
Di sela-sela obrolan dengan mertuanya, Reta iseng bertanya tentang saudara Arkan setelah iparnya itu menjauh.
“Rosi tadi istrinya kakaknya Arkan,” jelas bu Nuri.
‘Oh, namanya Rosi,’ batin Reta.
Malam semakin larut, satu persatu keluarga keluarga mulai meninggalkan restauran menuju kamar masing-masing.
Mau tidak mau Reta juga harus kembali ke kamarnya.
Betapa terkejutnya Reta mendapati iparnya tadi ada di depan pintu kamarnya.
“Apa yang mbak lakukan di sini?” tanya Reta penuh dengan selidik. Meskipun dia tidak menyukai Arkan, dia merasa terganggu ketika ada orang lain di kamarnya.
“Bukan urusanmu!” ucapnya dengan hendak berlalu dari Reta.
“Jelas ini urusanku, ini kamarku,” ucap Reta dengan mencekal tangan iparnya itu.
“Hasil merampas,” ucapnya menyindir.
“Tadi sudah dijelaskan om Hendra. Sebenarnya apa sih masalah mbak?”
“Masalahnya…”
***
Cerita ini ada di kbmapp ya
Judul : Menggantikan Mempelai Wanita
Akun : Ayana_elkhairiyyah
Dalam melanjutkan kisah ini, penting untuk memahami dinamika kompleks yang sering terjadi dalam pernikahan dan keluarga baru. Seperti yang dialami Reta, pernikahan di atas kertas bisa membawa banyak tekanan emosional, terutama saat harus menghadapi cibiran dan prasangka dari anggota keluarga lain. Pengalaman Reta yang harus berhadapan dengan iparnya sendiri memberikan gambaran nyata bahwa tidak semua keluarga menerimanya dengan mudah. Dalam situasi seperti ini, komunikasi terbuka dan kepercayaan diri sangat penting untuk menjaga kestabilan mental dan posisi dalam keluarga. Selain itu, keberanian Reta untuk membela diri dan keluarganya menunjukkan nilai keberanian yang perlu dicontoh ketika menghadapi fitnah atau gosip. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa asal-usul seseorang bukanlah penentu harga diri, melainkan bagaimana kita menjalani hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Bagi pembaca yang mengalami situasi serupa, berusaha mencari dukungan dari orang-orang terdekat dan mencari cara menyelesaikan konflik secara damai sangat dianjurkan. Kisah ini membuka mata kita bahwa setiap keluarga memiliki cerita dan masalahnya sendiri, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan kepala dingin dan hati yang kuat.

