Terpaksa Menikahi Calon Suami Adikku (3)
Membalas
Akhirnya mau tidak mau designer yang mengerjakan baju pengantin tersebut mendapatkan tugas untuk membuat kebaya baru juga baju adat yang dipakai Hazel selama kurang dari 3 hari.
Karena bayaran yang sepadan juga kerja keras yang luar biasa kini kebaya tersebut sudah siap.
Lila menatap dirinya di depan cermin besar. Kebaya berwana putih menjuntai yang sangat cantik ini melekat sempurna di tubuh Lila.
Bagaikan mimpi di siang bolong. Lila masih tidak menyangka akan secepat ini ia menikah. Bahkan ia tidak berpikir ayahnya menyuruh pulang untuk menggantikan posisi Linda. Karena awalnya ia tahu jika pernikahan itu untuk adiknya. Lila sudah rela dilangkahi Linda dan siap dengan banyak cibiran yang akan ia dapatkan. Sekarang malah ia yang harus menikah dengan pria dingin seperti dokter Hazel. Dan menerima konsekuensi Linda yang membentangkan bendera permusuhan padanya karena masalah ini. Padahal Lila sama sekali tidak berniat merebut Hazel dari Linda. Bukan kah wanita itu sendiri yang menghancurkan impian pernikahannya. Bukan Lila.
"Kamu suka bajunya?"
Pertanyaan dari Nyonya Yasmin calon ibu mertuanya.
Nyonya Yasmin sedari tadi menemani ia fitting baju pengantin karena Hazel tidak bisa datang. Lelaki itu sedang sibuk.
Sebagai orang yang baru mengenal. Nyonya Yasmin nyatanya sangat supel dan ramah. Lila bahkan tidak percaya Nyonya Yasmin yang notebenya adalah orang kaya sedangkan dirinya hanyalah gadis biasa bisa menerimanya sebagai menantu. Di saat perjalanan pun Lila terus mendengar ibu mertuanya berceloteh panjang menceritakan sikap menyebalkan Hazel yang benar-benar cuek. Lila hanya bisa mendengarkan sambil tersenyum di samping tubuh wanita itu.
Kini Nyonya Yasmin tengah memperhatikan dirinya yang sedang memakai kebaya. Lila buru-buru mengangguk.
"Saya sangat suka kebaya ini Nyonya."
"Hush jangan panggil Nyonya. Sebentar lagi kamu akan jadi istri Hazel. Panggil aku Mama."
"Tapi..." Lila merasa canggung.
"Tidak apa-apa. Coba mulai dari sekarang nanti juga akan terbiasa."
Yang dikatakan Nyonya Yasmin benar. Lila mulai mencoba memanggil apa yang diinginkan wanita itu.
"Baik Mama."
Kemudian Yasmin menampilkan senyuman kecil. Aneh wanita paruh baya itu malah lebih menyukai Lila dari pada Linda.
Kesederhanaan yang ada dalam diri Lila membuat Yasmin kagum. Ia bahkan mendengar jika selama ini Lila berjuang untuk membiayai sekolah Linda. Gadis ini benar-benar berbeda. Dan ia yakin Hazel juga pasti merasakan hal yang sama.
Nyonya Yasmin terlihat menatap arloji di tangannya. Ah ia lupa harus ke tempat temannya dulu.
"Oh iya Mama pulang duluan ya. Nanti kamu pulang dijemput sama Hazel. Bentar lagi dia selesai dengan pekerjaannya, tadi Mama sudah kirim pesan untuk mengantar kamu pulang."
"Tidak usah Ma. Lila bisa pulang sendiri. Dokter Hazel pasti lelah sudah bekerja."
"Jangan, nanti bahaya calon pengantin pulang sendirian. Apalagi rumah kamu lumayan jauh dari kota. Pokoknya nanti Hazel akan ke sini. Dan kalian harus pulang bersama dengan selamat."
Lila tidak bisa berbuat apa-apa saat ibu mertuanya memaksa seperti ini. Padahal saat ini Lila sedang tidak mau bertemu dengan pria dingin itu. Lila bisa pulang sendiri. Tapi jika ia tidak patuh, Nyonya Yasmin pasti akan marah dan menjulukinya menantu yang paling tak bisa diatur. Lila menggeleng. Ia tidak boleh membuat kacau dan mengecewakan Nyonya Yasmin. Lila akan mencoba untuk ikuti alur yang sudah mereka persiapkan saja. Menunggu Hazel untuk menjemputnya pulang.
***
Bersambung.
Judul : Terpaksa Menikahi Calon Suami Adikku
Penulis : IrieAsri
Baca selengkapnya di KBM APP.
Selain menghadapi kebingungan dan perasaan tidak pasti, Lila juga menunjukkan keberanian luar biasa dalam menerima takdir yang menimpanya. Ia harus membiasakan diri dengan peran baru sebagai menantu, bahkan mulai belajar memanggil ibu mertuanya dengan sebutan 'Mama'. Pengalaman ini bukan hanya tentang penyesuaian diri secara fisik dengan kebaya yang disesuaikan, tapi juga penyesuaian mental dan emosional menghadapi hubungan yang rumit dengan Hazel, pria dingin yang menjadi suaminya. Dalam menjalani pernikahan ini, Lila mendapat dukungan tak terduga dari Nyonya Yasmin, calon ibu mertuanya, yang walaupun berasal dari latar belakang kaya, mampu menerima dan menghargai kesederhanaan serta perjuangan Lila selama ini, termasuk usaha Lila membiayai sekolah adiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga tidak hanya dibangun atas dasar status atau kekayaan, melainkan lebih kepada hati dan pengorbanan. Momen-momen Lila menatap dirinya di cermin mengenakan kebaya pengantin putih pun mencerminkan keteguhan hatinya, sekaligus keraguan yang tak mudah dihilangkan. Walau menghadapi cibiran dan konflik, Lila berusaha tegar menjalani semuanya demi keluarganya. Selain itu, keselamatan dan perhatian dari Nyonya Yasmin yang memastikan Hazel menjemput Lila pulang menunjukkan ada usaha membangun komunikasi dan keharmonisan meski awalnya terasa dingin dan kaku. Cerita seperti ini mengingatkan kita betapa rumitnya dinamika keluarga dan pernikahan, terutama ketika diwarnai situasi yang tak terduga. Namun, melalui kisah Lila, kita diajak memahami bahwa selalu ada ruang untuk pengertian dan perubahan, yang diawali dari kesederhanaan dan ketulusan hati.

